Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konflik Afganistan dan Potensi Alam yang Diperebutkan

Afganistan masih terus bergejolak. Konflik politik dan keamanan yang terus berkepanjangan menempatkan negara ini dalam deretan negara yang bermasalah. Bahkan, Afganistan saat ini termasuk salah satu negara termiskin di dunia.

Oleh : Wenny Suhartati, S.Si.

Afganistan masih terus bergejolak. Konflik politik dan keamanan yang terus berkepanjangan menempatkan negara ini dalam deretan negara yang bermasalah. Bahkan, Afganistan saat ini termasuk salah satu negara termiskin di dunia.

Posisi Strategis Secara Geografis

Secara historis, sejak dulu Afganistan memang telah menjadi magnet perebutan pengaruh dari negara-negara besar. Meskipun secara geografis wilayahnya tidak memiliki akses ke laut (lockland) dan banyak terdiri dari pegunungan yang gersang, namun posisinya menempatkannya sebagai tempat pijakan lalu lintas dan pintu gerbang bagi setiap peperangan dan penaklukan di benua Asia.

Afganistan yang mempuyai posisi di tengah benua Asia dan berbatasan langsung dengan Cina di timur laut membuat kawasan ini sejak dulu masuk dalam jalur sutra yang menghubungkan Cina dengan kawasan lain di Timur Tengah dan Asia lainnya.

Selain itu, posisinya yang strategis juga sebagai penyekat kekuatan besar di Asia Tengah. Ketika masa penjajahan Inggris di India, Afganistan menjadi penyekat antara Kekaisaran Rusia dan Imperium Inggris.

Tetapi setelah perang dunia II, Amerika Serikat baru menyadari posisi penting dari Afganistan, yaitu sebagai pintu pembatas bagi Rusia dan Cina dari arah Asia Tengah serta posisi strategisnya untuk menjadi jalur lintas pipa minyak bumi dan gas dari Asia Tengah.

Kekayaan Tambang Mineral Afganistan

Dan kini ditambah lagi dengan fakta, ternyata Afganistan menyimpan sumber kekayaan mineral yang cukup besar yang belum tersentuh karena rentetan konflik yang mencabik-cabik negeri ini. Dengan jatuhnya Afganistan ke tangan kelompok Taliban, secara otomatis akan mengalihkan penguasaan atas kekayaan tambang mineral di negara itu.

Pada tahun 2010, ilmuwan dan pakar keamanan yang mendirikan kelompok Ecological Futures, Rod Schoonover, mengatakan bahwa Afganistan sebenarnya adalah salah satu wilayah yang paling kaya akan logam mulia tradisional dengan nilai cadangan mineral mencapai satu triliun dollar AS (Kompas.com, 20/08/2021).

Kekayaan tambang tersebut antara lain bijih besi, tembaga, lithium, kobalt dan logam langka dengan kandungan yang cukup banyak di Afganistan. Sedangkan harga dari banyak komoditas mineral tersebut semakin meroket dengan pertumbuhan tahunan sebesar 20 persen dibandingkan dengan beberapa tahun lalu yang hanya berkisar 5-6 persen. Seiring dipicu oleh adanya tansisi global dari energi fosil ke energi hijau.

Incaran Negara Kapitalis

Potensi kekayaan alam yang demikian besar ini tentunya tidak akan dibiarkan begitu saja oleh negara kapitalis. Afganistan menjadi incaran negara-negara besar seperti Amerika, Rusia dan Cina. Terlebih kondisi Afganistan saat ini yang belum kondusif akibat gejolak perpolitikan pasca jatuhnya Afganistan ke Taliban. Pengaruh hubungan diplomatik dengan Afganistan pastinya menjadi ajang rebutan negara-negara yang eksploitatis ini.

Hal ini jelas terlihat dari bagaimana upaya Amerika Serikat untuk tetap mempertahankan eksistensinya di Afganistan. Upaya politik AS dilakukan melalui perjanjian Doha, Qatar dengan pihak Taliban pada akhir Februari 2020. Sebelumnya, sejak invasi AS ke Afganistan tahun 2001 tidak pernah terjadi negosiasi antar kedua belah phak.

Namun, rasa frustasi AS yang gagal menguasai Afganistan selama 20 tahun membuat AS melakukan negosiasi dengan Taliban di perjanjian Doha, Qatar. Perjanjian ini merupakan bentuk negosiasi jaminan antara kedua belah pihak.

Bagi Amerika, meski tentaranya hengkang dari Afganistan namun kepentingannya di Afganistan tetap tidak akan terusik oleh Taliban. Begitu pula Taliban yang ingin menguasai Kabul, tentara AS tidak boleh mengganggu kepentingan mereka.

Sedangkan Cina mengkuatirkan keamanan proyek infrastruktur utamanya di bawah BRI (Belt and Road Initiative). Tanpa kesepahaman dengan Taliban, proyek-proyek BRI di kawasan, terutama CPEC (China-Pakistan Economic Corridor), akan rentan terhadap serangan teroris.

Dan sebagai produsen dari hampir setengah industri barang yang beredar di seluruh dunia, Cina sangat haus akan bahan baku mineral.

Salah satu pertambangan raksasa Asia, Metallurgical Corporation of China (MCC) telah memiliki konsesi 30 tahun untuk menambang tembaga di provinsi Logar yang tandus di Afganistan. Saat ini Cina sudah dalam posisi di Afganistan untuk menambang mineral ini.

Independen Dengan Islam

Semua negara adidaya berusaha untuk mengamankan kepentingannya masing-masing di Afganistan. Walhasil, Afganistan tidak pernah kosong dari persaingan kekuatan internasional untuk menguasainya.

Tentu saja apa yang terjadi di negeri muslim Afganistan ini merupakan kejadian yang begitu memilukan. Kaum muslim yang seharusnya kuat, umat yang terbaik, namun kenyataannya justru berada dalam kendali asing yang berebut pengaruh kepentingan di daerah tersebut.

Inilah gambaran nyata ketika kaum muslim tidak bersatu dan masih terpecah belah, serta tidak disatukan dalam satu institusi politik Islam yang shohih.

Seandainya kaum muslim menerapkan sistem pemerintahan Islam yang kaffah maka kekuatan asing yang berebut di salah satu wilayah Islam akan mampu dihalau.

Dalam sistem Islam tidak diperbolehkan adanya intervensi dari pihak asing, sebab selama asing masih bercokol di wilayah Islam maka kondisi politik dan keamanan masih akan terus disetir oleh mereka.

Sebab di dalam pemerintahan Islam, seorang pemimpin akan melindungi wilayahnya dan menutup celah penguasaan asing atas wilayah, kekayaan, jiwa dan kehormatan kaum muslimin.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Al Imam (Khalifah) itu adalah perisai dimana (orang-orang) akan berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlidung (dari musuh dengan kekuasaannya).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dan telah terbukti selama 13 abad lebih lamanya ketika Afganistan berada di bawah naungan sistem Islam, tidak terjadi permasalahan baik politik, keamanan maupun kelaparan. Pengelolaan sumber daya alam pun dilakukan oleh negara tanpa ada intervensi pihak asing manapun.

Pada akhirnya dapat kita pahami bahwa Afganistan tidak akan pernah mandiri dan berdaulat secara penuh jika masih ada intervensi dari pihak asing. Kedaulatan hakiki hanya akan didapatkan jika Afganistan berada di bawah naungan sistem Islam yang kaffah. Dimana syariat Islam dapat diterapkan secara sempurna untuk melindungi dan memberikan kesejahteraan kepada rakyat secara penuh.

Post a Comment for "Konflik Afganistan dan Potensi Alam yang Diperebutkan"