Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketika Dakwah Dianggap Penistaan Agama Dan Tindak Kriminal

Cukup mencengangkan, baru kali ini kasus penistaan agama dikaitkan dengan konten dakwah Islam yang membahas ajaran agama lain. Bahkan sekarang da’i yang mengupas pandangan Islam terhadap agama lain dianggap telah melakukan penistaan agama dan bisa dijerat hukum pasal penghinaan agama.

Oleh : Ummu Hanif (Pemerhati Sosial dan Keluarga)

Ustadz Yahya Waloni ditangkap Bareskrim Mabes Polri terkait dengan dugaan penistaan agama. Sekadar diketahui, Ustadz Yahya Waloni sempat dilaporkan oleh kelompok masyarakat. Ia dipolisikan terkait dengan dugaan penistaan agama. Laporan itu diterima dengan registrasi perkara dengan Nomor: LP/B/0287/IV/2021/BARESKRIM tertanggal Selasa 27 April. (www.okezone.com, 26/08/2021)

Ceramah Ustadz Yahya yang diperkarakan ialah saat beliaunya menyebut kitab injil fiktif serta palsu. Perkara yang dilaporkan berkaitan dengan ujaran kebencian atau permusuhan berdasarkan SARA. Oleh sebab itu, beliau diduga melanggar Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Selain itu, dia diduga melanggar Pasal 45A jo Pasal 28 Ayat (1) dan atau Pasal 156a KUHHP.

Cukup mencengangkan, baru kali ini kasus penistaan agama dikaitkan dengan konten dakwah Islam yang membahas ajaran agama lain. Bahkan sekarang da’i yang mengupas pandangan Islam terhadap agama lain dianggap telah melakukan penistaan agama dan bisa dijerat hukum pasal penghinaan agama.

Allah Swt. telah menjadikan Islam sebagai agama dakwah. Ajaran Islam wajib disampaikan kepada segenap manusia. Tentu untuk mengubah keyakinan mereka agar memeluk Islam. Meski hal ini bukan berarti kita memaksakan agama kita kepada orang lain. Kita kaum muslimin, hanya berkewajiban menyampaikan.

Allah berfirman, yang artinya “Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (TQS an-Nahl [16]: 125)

Kewajiban berdakwah ini telah mendorong umat muslim menyebarkan risalah ini ke seluruh penjuru dunia. Mereka berhasil mengubah para pemeluk akidah selain Islam—baik dari kalangan paganis/penyembah berhala, majusi, kaum zindik, dan ahli kitab baik Yahudi maupun Nasrani—berbondong-bondong memeluk Islam.

Al-Qur’an berisi ayat-ayat yang berisi ajakan kepada kaum muslim untuk meneguhkan keyakinan mereka pada Islam. Al-Qur’an pun mengandung seruan kepada pemeluk agama lain agar masuk Islam sekaligus membantah keyakinan mereka. Ayat-ayat tersebut menyeru akal manusia dengan membuktikan kebatilan agama mereka. Dakwah kepada mereka dilakukan tanpa mencela atau menistakan agama mereka, tetapi dilakukan dengan ilmiah, argumentatif, dan menggugah akal

Hal ini bisa kita lihat pada salah satu ayat Allah, misalnya :

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخْلُقُوا۟ ذُبَابًا وَلَوِ ٱجْتَمَعُوا۟ لَهُۥ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلْمَطْلُوبُ

“Sungguh segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka pun tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemah yang menyembah dan amat lemah (pula) yang disembah.” (TQS al-Hajj [22]: 73)

Coba kita perhatikan dengan seksama, ayat ini bukan menistakan keyakinan kaum paganis, tetapi justru mengajak mereka untuk berpikir jernih apakah pantas sesuatu yang lemah, tidak bisa menciptakan lalat, bahkan tidak bisa menjaga sesuatu dari lalat, dijadikan Tuhan oleh manusia. Padahal ada Allah Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan berbagai makhluk dari yang paling kecil hingga yang paling besar, juga menciptakan alam semesta.

Adapun apa yang disampaikan Al-Qur’an tentang pemalsuan ayat-ayat yang tercantum dalam kitab-kitab kaum Yahudi dan Nasrani adalah fakta, bukan penistaan. Hal ini ditegaskan dengan apa yang terjadi pada tahun 1994, di San Francisco, AS. Pada saat itu terbit buku berjudul, The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? Buku ini adalah hasil seminar 76 orang pakar dari berbagai disiplin ilmu yang meneliti keotentikan Injil. Mereka mendapati bahwa 82 persen isi kandungan injil sesungguhnya bukan berasal dari Yesus. Temuan ini menguatkan firman Allah Swt. bahwa telah terjadi perubahan ayat dalam kitab-kitab suci terdahulu.

Tentu harus dibedakan menyampaikan kebenaran Islam kepada umat di luar Islam dengan menistakan agama atau keyakinan mereka. Menyampaikam kebenaran islam adalah dengan mengajak umat lain berpikir tentang logisnya aqidah islam. Sehingga mereka mau berpikir dan akhirnya masuk islam secara sukarela. Adapun menistakan agama lain adalah dengan memaki – maki sesembahan mereka. Menjelek – jelekkan keyakinan mereka tanpa mengajak mereka berpikir akan hakekat kebenaran. Menista agama umat lain adalah haram menurut islam. Allah Swt. berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ

“Janganlah kalian memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.” (TQS al-An’am [6]: 108)

Adapun kerukunan dan toleransi antarumat beragama tidak dilakukan dengan menganggap semua agama benar, namun saling memberi kesempatan tiap agama untuk melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya. Kerukunan umat beragama itu terwujud dengan adanya jaminan perlindungan terhadap harta, keamanan, kehormatan, dan kehidupan. Untuk itulah pentingnya negara menerapkan syariat Islam secara kafah. Karena semua jaminan kehidupan seluruh pemeluk agama akan terjaga.

Wallahu a’lam bi ash showab.

Post a Comment for "Ketika Dakwah Dianggap Penistaan Agama Dan Tindak Kriminal"