Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Harapan Menjadi Kaum Terjanji

Saat ini, tanpa disadari kaum muslimin digempur berbagai ide-ide pemikiran kufur dan menyesatkan, menipu bahkan tak sedikit yang menjadi sesat dan terjerumus pada kekufuran. Sudah saatnya kaum muslim mengkaji dan mendalami Al Qur’an, khususnya ayat yang menyinggung hal ini. Dalam firmannya, Allah SWT menjanjikan hendak mendatangkan kaum yang lebih baik ditengah kondisi yang semakin menyeret umat pada kemurtadan pasca penjajahan Belanda.

By : Sarie Rahman

Saat ini, tanpa disadari kaum muslimin digempur berbagai ide-ide pemikiran kufur dan menyesatkan, menipu bahkan tak sedikit yang menjadi sesat dan terjerumus pada kekufuran. Sudah saatnya kaum muslim mengkaji dan mendalami Al Qur’an, khususnya ayat yang menyinggung hal ini. Dalam firmannya, Allah SWT menjanjikan hendak mendatangkan kaum yang lebih baik ditengah kondisi yang semakin menyeret umat pada kemurtadan pasca penjajahan Belanda. Berikut bunyi ayat tersebut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (TQS Al-Maidah [5]: 54)

Makna murtad di ayat tersebut adalah keluar dari Islam menuju kekufuran, bisa keluar dari agama Islam berpindah kepada agama lain, bisa pula keluar dari hukum syariat Islam dan mengambil hukum selainnya. Menolak syariat Islam keseluruhan ataupun sebagian.

Dan Allah SWT menyatakan hendak mengganti umat yang murtad dengan umat yang lebih baik dan memiliki khas, Allah juga memberikan kesempatan pada kaum muslim untuk memperbaiki diri dari kemurtadannya.

Siapakah Orang yang Murtad Itu?

Beberapa mufasir berbeda-beda mendefinisikan murtad. Ibnu Katsir mendefinisikan murtad yaitu mereka yang berpaling, tidak peduli pada agamaNya, dan berpaling dari menolong agama serta menegakkan syariatNya. Berpaling dari kebenaran menuju kebatilan.

Berbeda dengan Ibnu Katsir, al Thabari menyatakan murtad adalah orang yang keluar dari agamanya yang shahih mengganti dengan agama yang batil dan kufur, baik Yahudi ataupun Nasrani atau agama kufur lainnya.

Sedangkan menurut mufasir al Qurtubi ada dua golongan murtad, yaitu golongan yang keluar dan menolak seluruh syariat Islam, golongan lainnya yang mengatakan “kami berpuasa dan sholat, tetapi kami tidak berzakat”. Keduanya merupakan golongan yang pada masa Abu Bakar, diperintahkan kepada Khalid bin Walid sebagai panglima perang Islam, untuk diperangi dan ditawan.

Menurut tafsir Fath al Qodir, mengangkat orang kafir sebagai wali bagi seorang muslim adalah kufur, dan termasuk salah satu bentuk kekufuran. Itu artinya menolak hukum haramnya pengangkatan seorang kafir sebagai wali dapat menyebabkan riddah (kemurtadan)

Lalu ditegaskan dalam ayat diatas bahwa Allah kelak akan mendatangkan kaum yang lebih baik, lebih kuat dan lebih lurus jalannya, dan kemurtadan kaum sebelumnya sama sekali tidak merugikan atau membahayakan Allah SWT. Hal ini merupakan ancaman pada kaum murtadin. Ditegaskan pula ancaman serupa dalam QS. Muhammad (47):38 dan Qs. Ibrahim (14):19. Penjelasan tafsir Ibnu Katsir.

Bagaimana Ciri Sifat Kaum Terjanji, Pengganti Kaum Murtad?

Dikalimat berikutnya menerangkan tentang sifat kaum terjanji sebagai pengganti kaum murtadin. “Yang Allah SWT mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya”. Sifat seorang mukmin yang benar adalah mencintai Robbnya, seperti disebutkan QS. Al Baqarah(2):165

Al Zamakhsyari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa bentuk kecintaan seorang hamba pada Robbnya adalah dengan selalu taat serta berharap akan ridhaNya, meninggalkan segala bentuk amalan yang mendatangkan kemurkaan dan adzab dari Nya. Mereka akan selalu mendahulukan kecintaan pada Robbnya karena mereka berpikir seandainya Allah tidak mencintai mereka, taufikNya tak akan dapat diraih menjadi hamba yang mencintai Allah SWT.

Adapun bentuk kecintaan Sang Khaliq pada makhluknya adalah dengan memberikan pahala bagi hamba yang ikhlas untuk selalu taat pada setiap perintah Allah SWT, Dia akan memberikan kemuliaan disertai pujian bahkan ridhaNya pada hamba tersebut.

Mereka, kaum pengganti memiliki sifat lemah lembut, kepada kaum mukmin. “Adzillat(in) ‘ala al mu'minina a'izzat(in)’ala al-kafirin(yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, bersikap meras terhadap kafir). “Adzillah” jamak dari “dzalil”bermakna memiliki rasa iba, simpati/tawaduk kepada kaum mukmin. “Al izzah, jamak dari “aziz’ maknanya memiliki sikap keras dan tegas serta tinggi diatas kaum kafir (tafsir al Syaukani).Sebagaimana disebutkan pula dalam TQS. Al Fath(48):29.

Dijelaskan pula dalam ayat tersebut “yujaahiduuna fii sabilillaah”(yang berjihad di jalan Allah). Kaum terjanji akan selalu siap berperang dijalan Allah dengan segenap jiwa raga dan hartanya. Seperti kita tahu perintah berperang sangat banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan sunah amalan dengan keutamaan pahala yang begitu besar. Dan kaum pengganti menyambut panggilan jihad Allah dan RasulNya.

Sifat kaum pengganti yang disebutkan dalam ayat tersebut lainnya adalah ”walaa yakhaafuuna lawmata laa im”(dan yang tidak takut pada celaan orang yang suka mencela). Mereka pantang menyerah, meski menghadapi celaan dari kaum murtad para pencela, mereka tak memiliki rasa takut sedikitpun terhadap siapapun demi menolong agama Nya. Perintah Allah SWT dan RasulNya menjadi acuan keberanian mereka, yang memang seharusnya lebih didengar, daripada seruan mereka yang hanya akan menjerumuskan pada kekufuran dan kemaksiatan.

Ditambahkan pula oleh Allah SWT dalam firmannya yang berbunyi”dzaalika fadhlullaah yu’tiihi man yasyaa`(itulah karunia Allah ,diberikan Nya kepada siapa yang dikehendakinya). Kalimat “fadhlullaah”(karunia Allah), merujuk pada sifat sebelumnya Allah tegaskan bahwa seluruh sifat yang mereka miliki itu tak lain atas karunia serta taufiq Allah SWT pada kaum terjanji.

Ayat ini disempurnakan dengan Firman Allah SWT yang berbunyi “wallaah waasi` ‘aliim (dan Allah Maha Luas pemberiannya lagi Maha mengetahui)“ sebagai penutupnya. Yang menegaskan bahwa karunia Allah begitu sangat luas dan Allah Maha Mengetahui hamba yang berhak memperoleh karuniaNya (tafsir Ibnu Katsir)

Siapakah Kaum Terjanji itu?

Adalah Abu Bakar al Shiddiq ra yang dimaksud dalam ayat tersebut Beberapa mufasir mengemukakan alasan penunjukan tersebut bahwa sepeninggal Rasulullah SAW ada beberapa kaum yang keluar dari agamanya, bahkan tak sedikit yang menolak seluruh hukum syariat, dan ada pula yang hanya menolak kewajiban berzakat saja. Dan Abu Bakar bersikap serta bertindak sangat tegas terhadap kaum murtad ini. Beliau tercatat sebagai khalifah pertama yang mengirimkan pasukan perang hingga berhasil mengalahkan mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa Abu Bakar ra. adalah kaum yang dijanjikan dalam ayat diatas.

Namun ayat diatas menjelaskan bahwa kaum terjanjikan tidak hanya ditujukan pada Abu Bakar ra saja, kata “man syarthiyyah”(siapa saja) pada ayat diatas bermakna siapa saja dan bersifat umum. Berlaku bagi siapa saja yang memenuhi kriteria sifat seperti disebutkan ayat diatas.

Berbahagialah karena kita masih memiliki harapan dapat menjadi kaum terjanji menggantikan kaum murtad. Dengan kondisi umat yang perlahan makin menjauh dari syariat, tergerus dan tertipu arus sekularisme, kapitalisme liberalisme ,demokrasi HAM serta bermacam pemikiran sesat yang kian menyeret umat pada kemaksiatan dan kekufuran hingga pada akhirnya tanpa disadari terlempar dari Islam. Kesempatan menjadi kaum pengganti kian terbuka lebar.

Kuatkan tekad, bulatkan keberanian kita serukan tegakkan syariat Islam kaffah, memantaskan diri mendapatkan gelar kaum pengganti yang Allah janjikan. Jadikan Allah satu-satunya cinta dalam hidup dengan kesempurnaan cinta, perlakukan sesama muslim sebagai kawan sebaliknya posisikan kafir sebagai lawan, berani berjihad menolong agama Allah SW. Tanpa takut apalagi gentar hadapi celaan bahkan serangan kaum lawan ataupun resiko lain. Agar masuk dalam barisan kaum pengganti yang dijanjikan.

Post a Comment for "Harapan Menjadi Kaum Terjanji"