Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

FUNDAMENTALISME

Pada tahun 2011 lembaga fatwa Mesir sempat dibuat geram oleh tulisan sebagian wartawan dan penulis liberal, ketika mengidentikan ushuliyyun alias para ulama ahli ushul fikih dengan sebutan ushuliyyah yang berarti kalangan fundamentalisme. Lembaga fatwa tersebut mengecam keras, pasalnya ushul fikih adalah salah satu ilmu yang mulia dan diemban para ulama shalihin.

Pada tahun 2011 lembaga fatwa Mesir sempat dibuat geram oleh tulisan sebagian wartawan dan penulis liberal, ketika mengidentikan ushuliyyun alias para ulama ahli ushul fikih dengan sebutan ushuliyyah yang berarti kalangan fundamentalisme. Lembaga fatwa tersebut mengecam keras, pasalnya ushul fikih adalah salah satu ilmu yang mulia dan diemban para ulama shalihin.

Dampaknya ada sebagian kalangan, bahkan hingga kini yang terpengaruh dan salah paham, yang menganggap ulama ushuluddin dan ushul fikih sebagai akar fundamentalisme. Karena itulah sangat penting kiranya, kita meluruskan sematan istilah ini, terlebih masa kini yang kadang demi kepentingan tertentu, sangat mudahnya sebagian orang menuduh pihak lain sebagai fundamentalis hanya karena perbedaan orientasi politik.

Dari perspektif sejarah dan pemikiran, realitasnya istilah ini tidak ada sedikitpun kaitannya dengan umat Islam. Sebab fundamentalisme adalah respon dari ketidakmampuan agama tertentu di Eropa dan Amerika, dalam beradaptasi dengan sistem kehidupan baru yang lahir dari ideologi kapitalisme-sekularisme. Ketidakmampuan ini mendorong pemeluk agama tersebut mengimani agama sebagai dalih penolakan terhadap segala bentuk kemajuan materi dan peradaban Barat. Jadi jelas disini, fundamentalisme itu muncul, untuk menghentikan laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada setelah sekularisasi kehidupan Barat.

Sedangkan dalam konteks sejarah umat Islam, memang muncul beragam gerakan politik, aliran pemikiran, dan mazhab fikih. Tetapi itu semua tidak identik sedikitpun dengan gerakan fundamentalisme agamawan Barat. Pasalnya sudah menjadi aksioma, eksistensi para ulama mujtahid di setiap masa, adalah bukti Islam mampu menjawab dan menyelesaikan segala problem kehidupan, dan untuk menciptakan kemajuan Islam tidak melakukan pemisahan agama dari kehidupan. Bukti ini terlihat jelas dari jutaan jilid karya para ulama terdahulu yang mengulas banyak sekali berbagai bidang kehidupan termasuk ilmu pengetahuan.

Bahkan bagi sebagian umat Islam yang meminta ditutupnya pintu ijtihad pada abad VII H pun, tidak mengklaim demi memelihara ajaran lama dan menentang ajaran baru, tetapi karena umat berasumsi fikih Islam yang disusun ulama besar terdahulu, sudah cukup dan mencakup setiap masalah yang mungkin dihadapi masyarakat di kemudian hari. Ironisnya sebagian manuskrip yang menjadi bukti kekayaan intelektual dan pengetahuan para ulama terdahulu, masih tersimpan di beberapa pusat studi di Barat hingga kini. Jadi faktanya gerakan fundamentalisme adalah sebuah problem “made in” peradaban kapitalisme-sekularisme Barat. Sekali lagi tidak ada hubungannya dengan umat Islam.

Terlepas dari itu semua, opini di masyarakat Barat sendiri sudah terlanjur menggambarkan monster fundamentalisme, sebagai musuh kemajuan dan ilmu pengetahuan, serta kemunduruan berpikir yang tidak sesuai dengan kebangkitan, yang wajib diperangi agar musnah dari kehidupan. Disinilah sekularisme bisa menyembunyikan identitas yang sebenarnya, sehingga masyarakat Barat lupa, bahwa monster fundamentalisme sendiri sejatinya adalah hasil gesekan akibat proses kelahiran sekularisme tersebut.

Adapun silogisme tidak bertanggung jawab, yang membuat leksikal fundamentalisme dikaitkan dengan umat Islam, baik di luar maupun di dalam negeri, nampaknya mulai terjadi saat umat Islam melakukan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme, baik menjelang atau pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah 1924 M. Ini artinya istilah fundamentalisme akan terus disematkan kepada umat Islam yang memiliki kesadaran melawan imperialisme modern dan kesungguhan mengembalikan kehidupan Islam.

Sebab dengan kembalinya kehidupan Islam, maka artinya kehidupan sekularisme-kapitalisme akan berakhir. Bagi mereka yang banyak meraup keuntungan dari kehidupan Barat tersebut, secara otomatis adalah sebuah kiamat, maka wajar jika upaya kebangkitan kaum muslimin dicoba diredam dengan beragam stigma negatif. Salah satunya dengan leksikal fundamentalisme ini.

Karena itulah sangat vital sekali, bagi para intelektual dan cendekiawan muslim, agar tidak terjebak trend silogisme dan politisasi istilah yang merugikan umat Islam. Konsistenlah menggunakan istilah yang memang tidak menuduh Islam dan kaum muslimin, serta sesuai dengan konsepsi dan ajaran Islam yang ditunjukkan oleh dalil-dalilnya. Maka dari itu, berhentilah menggunakan istilah fundamentalisme muslim atau fundamendalisme Islam. Sebab Islam terbukti menjadi pendorong kemajuan sains, ilmu pengetahuan, teknologi dan kebaikan dunia, sedangkan fundamentalisme sendiri membawa arti spesifik sebagai sebuah sikap anti kemajuan sains, ilmu pengetahuan, teknologi dan kehidupan. Jadi penyematan fundamentalisme dengan Islam atau kaum muslimin adalah kesalahan besar. Wallahu a’lam.

Yan S. Prasetiadi

19 Muharram 1443 H.

Referensi:

- Al-Mausu’ah al-Islamiyyah al-‘Ammah, Kementrian Waqaf - Majelis Tinggi Urusan Islam Mesir, 2002.

- Al-Ushuli wa al-Ushuliyyah, oleh Dar al-Ifta al-Mishriyyah, Juli tahun 2011.

- Booklet Mafahim Khathirah li Dharb al-Islam wa Tarkiz al-Hadharah al-Gharbiyyah, 1998.

Post a Comment for "FUNDAMENTALISME"