Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERUBAHAN YANG HAKIKI HANYA DENGAN ISLAM

Media asing, Bloomberg melaporkan skor ketahanan Indonesia terhadap Covid-19 berada di peringkat paling akhir. Artinya, Indonesia disebut sebagai negara yang paling buruk dalam menangani Covid-19 di dunia. Dalam laporan Bloomberg pada Selasa (27/7/2021), Indonesia menempati peringkat ke-53 dari 53 negara di dunia. Menurut Bloomberg, beberapa indikatornya adalah soal angka kematian akibat Covid-19 yang tinggi.

Oleh: Esnaini Sholikhah, S.Pd

Media asing, Bloomberg melaporkan skor ketahanan Indonesia terhadap Covid-19 berada di peringkat paling akhir. Artinya, Indonesia disebut sebagai negara yang paling buruk dalam menangani Covid-19 di dunia. Dalam laporan Bloomberg pada Selasa (27/7/2021), Indonesia menempati peringkat ke-53 dari 53 negara di dunia. Menurut Bloomberg, beberapa indikatornya adalah soal angka kematian akibat Covid-19 yang tinggi.

Tidak disangkal, masyarakat memang turut berkontribusi atas situasi yang terjadi hari ini. Masih banyak di antara mereka yang berlaku cuek dan abai terhadap protokol kesehatan. Tak sedikit pula di antara mereka yang melanggar aturan pemerintah terkait upaya pengendalian wabah. Namun, kita pun tak bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat. Mengingat situasi psikologis yang mereka hadapi di lapangan nyatanya memang benar-benar sangat berat. Gelombang protes rakyat karena kegagalan pemerintah menangani pandemi masih berporos pada pakem demokrasi

Sebelum pandemi saja, kondisi ekonomi sudah memasuki fase krisis. Kehidupan masyarakat saat itu sudah benar-benar sulit. Pengangguran dan kemiskinan merebak di mana-mana. Situasi ini diperparah ketika tiba-tiba terjadi wabah. Mirisnya, situasi ini harus mereka hadapi di tengah lemahnya tanggung jawab riayah (pengurusan) negara atau penguasa atas mereka. Sikap dan kebijakan para penguasa bisa dikatakan paling besar kontribusinya dalam memperburuk situasi. Wajarlah jika distrust pun makin menguat di kalangan rakyatnya sendiri.

Saat awal kemunculan wabah, pemerintah alih-alih segera mengambil langkah antisipasi, mereka justru sibuk berspekulasi dan melakukan penyangkalan. Seolah-olah virus Covid-19 ini bukan perkara serius yang perlu diantisipasi. Lalu mereka sibuk membangun narasi salah tentang wabah, seraya menularkan kebodohan dan sikap abai kepada rakyatnya. Wajar jika hari ini masyarakat tak punya kesiapan cukup, termasuk dalam hal pengetahuan.

Saat wabah makin tak bisa dicegah, berbagai kebijakan salah kaprah pun justru diambil pemerintah. Mereka sibuk bermain istilah, demi membangun citra bahwa mereka sedang serius memecahkan masalah. Padahal yang terjadi adalah mereka sibuk menyelamatkan perekonomian yang berkelindan dengan nyawa korporasi besar. Sementara nyawa rakyatnya sendiri seakan-akan dikorbankan. Maka, hasilnya bisa ditebak. Jumlah kasus Covid-19 pun bukannya makin turun, bahkan korban terus meningkat dan grafiknya makin tinggi.

Namun, bukannya memperbaiki kegagalan penanganan covid 19, justru pemerintah tetap saja memojokkan masyarakat. Seakan-akan merekalah penanggung jawab penuh atas kian memburuknya keadaan. Sudah saatnya masyarakat menyadari, kondisi seperti ini adalah konsekuensi sistem sekuler demokrasi. Sistem kepemimpinan seperti ini memang tegak di atas kekuatan modal (kapital) dan minus dari dimensi ruhiyah. Karenanya, sistem ini benar-benar tidak manusiawi dan tak mengenal konsep pertanggungjawaban di akhirat..

Demokrasi sangat kasat mata sebagai politik dengan biaya tinggi, yang menjadi ciri khas sistem ini menjadikan proses pemilihan kepemimpinan sebagai ajang perjudian para pemilik korporasi. Mereka kucurkan sebanyak-banyak modal demi memenangi kontestasi. Wajar jika kekuasaan yang diraih selalu menjadi ajang bagi hasil para pemilik modal. Sementara rakyat harus selalu siap-siap untuk gigit jari. Terlebih hubungan yang kelak akan dibangun adalah hubungan antara pedagang dan pembeli. Tak bertanggung jawab sama sekali.

Hal ini tentu berbeda jauh dengan sistem kepemimpinan Islam. Dalam Islam, kepemimpinan sangat lekat dengan dimensi ruhiyah. Ia adalah amanah Allah yang pertanggungjawabannya sangat berat di akhirat. Islam menetapkan bahwa penguasa atau negara adalah pengurus (rain) dan penjaga (junnah) bagi rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda,

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari)

Dan beliau saw. pun bersabda,

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll.)

Oleh karenanya, hubungan penguasa dengan rakyatnya seperti hubungan bapak dengan anak-anaknya. Sehingga, penguasa dalam Islam akan selalu memastikan rakyatnya terpenuhi kesejahteraannya dan terjaga dari segala mara bahaya. Tak hanya dengan pendekatan komunal, tapi benar-benar per individual.

Sejarah membuktikan, saat kepemimpinan Islam tegak, masyarakat Islam hidup dalam kebahagiaan. Kelemahan dan penyimpangan yang terjadi di sebagian fase sejarah umat Islam, tak bisa menafikan kenyataan bahwa penerapan sistem ini telah membawa umat pada ketinggian peradaban yang tak pernah mampu dicapai oleh sistem kepemimpinan yang lainnya. Selama belasan abad, masyarakat Islam mampu menjadi mercusuar peradaban dunia. Mereka hidup sejahtera dalam naungan Islam. Kalaupun ada masa-masa sulit yang terjadi, mereka mampu melaluinya dengan ujung kebahagiaan.

Hal ini dikarenakan, penguasa benar-benar bertanggung jawab atas rakyatnya. Mereka selalu siap menyertai rakyat dalam situasi mudah maupun sulit. Di saat sulit, mereka selalu siap menerapkan kebijakan yang tepat sesuai tuntunan syariat. Dalam sejarah penerapan kepemimpinan Islam, kondisi sulit seperti wabah atau paceklik bukanlah sesuatu yang tak pernah dialami umat Islam. Bahkan, umat Islam pernah ditimpa wabah Tha’un yang lebih mematikan. Namun, dengan paradigma kepemimpinan yang benar, wabah ini pun bisa cepat diatasi. Hingga akhirnya masyarakat pun bisa kembali hidup normal sebagaimana wabah belum terjadi. Padahal jika dibandingkan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa itu tentu kalah jauh dari saat ini.

Walhasil, apa yang terjadi hari ini semestinya menjadi pembelajaran penting bagi seluruh umat Islam. Bahwa kondisi buruk yang terus mereka hadapi tak akan berubah jika mereka tetap menerapkan sistem rusak dan tak berkah ini. Harapan masa depan mereka tak lain hanya pada sistem Islam. Karena kepemimpinan Islam tegak di atas akidah yang sahih dan lurus. Sementara syariat yang diterapkannya mampu memecahkan seluruh problem kehidupan dengan solusi yang benar, sehingga mengundang ketenteraman sekaligus keberkahan.

Oleh karenanya ketika perubahan itu diserukan oleh masyarakat maka tidak ada pilihan lain kecuali perubahan kepada Islam. Hanya dengan Islam perubahan hakiki akan terwujud di tengah masyarakat. Perubahan ke arah kondisi yang lebih baik dengan diterapkan Islam secara kaffah dalam kehidupan. Wallahu'alam bish showab

Post a Comment for "PERUBAHAN YANG HAKIKI HANYA DENGAN ISLAM"