Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hanya Dengan Sistem Islam, Indonesia Mampu Menjadi Negara Adidaya

Ketika sebuah Negara mampu di sebut Negara adidaya adalah Negara yang mampu berdiri sendiri. Tanpa adanya utang dengan negara asing dan Aseng, serta mampu meria'yah dan mensejahterakan rakyatnya. Tidak seperti pada sistem kapitalis sekuler saat ini. Negara karut-marut, utang Negara Menggunung, korupsi menggurita, kesehatan tidak sejahtera, pendidikan mahal, kriminalitas terus meningkat. Dan segudang problematika yang tidak mampu terselesaikan dalam sistem kapitalis sekuler saat ini.

Oleh ; Ross A.R ( Aktivis dakwah Medan Johor )

Ketika sebuah Negara mampu di sebut Negara adidaya adalah Negara yang mampu berdiri sendiri. Tanpa adanya utang dengan negara asing dan Aseng, serta mampu meria'yah dan mensejahterakan rakyatnya. Tidak seperti pada sistem kapitalis sekuler saat ini. Negara karut-marut, utang Negara Menggunung, korupsi menggurita, kesehatan tidak sejahtera, pendidikan mahal, kriminalitas terus meningkat. Dan segudang problematika yang tidak mampu terselesaikan dalam sistem kapitalis sekuler saat ini.

Seperti yang dilansir oleh CNNIndonesia.com (13/8/2021) Indonesia resmi memasuki usia ke-76 tahun kemerdekaan pada Selasa nanti 17/8/2021. Artinya, Indonesia sudah merdeka selama lebih dari 7 dekade.

Meski sudah merdeka, Indonesia masih 'terjajah' oleh Negara-Negara imperialis, dari sisi keuangan negara. Pasalnya, utang selalu naik setiap tahun dan kian menumpuk dalam setahun terakhir akibat pandemi corona.

Memang, jika dilihat, belenggu jajahan utang sudah dialami sejak awal kemerdekaan. Tapi, utang melesat tajam dalam 10 tahun terakhir.

Pada periode itu, utang Indonesia naik sekitar Rp4.000 triliun. Mengutip data Kementerian Keuangan, utang negara sudah tembus Rp6.554,56 triliun per Juni 2021.

Utang tersebut melonjak Rp4.746 triliun lebih bila dibandingkan 2011 lalu yang masihRp1.808,95 triliun. Jika dihitung secara kasar, rata-rata utang Indonesia naik ratusan triliun setiap tahun. Misalnya dari Rp3.995 triliun pada 2017 menjadi Rp4.418 triliun pada 2018.

Lalu, utang naik lagi menjadi Rp4.779 triliun pada 2019. Selanjutnya, jumlah utang melonjak Rp1.295 triliun menjadi Rp6.074 triliun pada 2020.

Lonjakan utang belakangan ini terjadi karena pemerintah butuh banyak dana dalam menangani pandemi covid-19. Kenaikan pun terus terjadi hingga Juni 2021.

Seperti yang disampaikan satgas penanganan Covid-19, Data Satuan Tugas Penanganan Covid-19 hingga Kamis (12/8/2021) pukul 12.00 WIB menunjukkan, ada penambahan 24.709 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan total kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 3.774.155 orang, terhitung sejak kasus pertama diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020 Kompas.com (12/8 /2021)

Inilah kebobrokan sistem kapitalis sekuler dalam menghadapi problematika ummat. Dan tidak mampu meria'yah rakyatnya, para penguasa pun justru abai akan kewajibannya sebagai wakil rakyat.

Dan saat ini Indonesia adalah Negara yang menerapkan sistem kapitalisme-sekuler. Dapat dilihat dan dirasakan dampak buruk dari sistem hari ini. Berbagai problematika yang muncul dari berbagai aspek kehidupan.

Dari aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, politik, hukum, sosial, dan budaya tidak terlepas dari pengaruh sistem kapitalis sekuler.

Dari aspek perekonomian, kesenjangan sosial akibat kapitalisme sangat kita rasakan. Kaya dan miskin begitu terlihat jelas di depan mata. Sementara negara menjelma menjadi negara korporatokrasi. Kebijakan yang lahir selalu berpihak kepada para kapitalis. Pada akhirnya, rakyat terbebani dengan biaya hidup yang semakin tinggi. Sementara pengangguran banyak terjadi di mana-mana.

Aspek pendidikan, generasi kian di ambang kehancuran. Pergaulan bebas, aborsi, perundungan, tawuran, hingga LGBT menjadi pandangan sehari-hari. Moralnya pun telah rusak, begitupun mentalnya menjadi liar. Ditambah lagi kurikulum asas sekuler yang mengakibatkan generasi muda makin jauh dari agama, tidak peduli halal dan haram, maksiat pun merajalela.

Aspek kesehatan, buruknya pelayanan kesehatan mengakibatkan kesengsaraan, bagi yang tidak memiliki uang sering mengalami ketidakadilan. Negara berlepas tangan dari tanggung jawab memberi pelayanan kesehatan. Rakyat diarahkan mengurus urusan kesehatan mereka sendiri dengan menjadikan peserta BPJS.

Aspek politik, Indonesia dalam cengkeraman asing dan aseng. SDA yang seharusnya menjadi sumber penghasilan negara demi membangun negara dan masyarakatnya telah dikuasai asing dan aseng tersebut. Adapun keputusan dan kebijakan pemerintah sesuai pesanan para kapitalis.

Aspek hukum, tidak adanya keadilan untuk rakyat, hukum terkesan tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Perkara benar bisa jadi salah, begitupun sebaliknya. Kontrol negara dan masyarakat tidak berjalan selaras.

Negara enggan mendapat kritikan dari rakyatnya. Persekusi bagi yang menghalangi keinginan negara kerap kali terjadi.

Aspek sosial budaya, kehidupan masyarakat tidak mengindahkan norma agama. Meski mayoritas penduduknya adalah muslim, namun mereka lebih mencintai budaya dan gaya hidup barat. Dengan dukungan sistem yang berasaskan kebebasan baik dalam berakidah, berpendapat, berekspresi maupun memiliki.

Kita dapat melihat negara pengusung kapitalis-sekuler saat ini. Meski terlihat maju dan adidaya, akan tetapi tidak mampu mewujudkan kesejahteraan, keamanan, ketenangan, keadilan dan kemaslahatan yang merata, dan menjadi dambaan setiap seluruh ummat.

Berbeda dalam penerapan sistem Islam. Kemajuan dan kedigdayaan negara pernah dirasakan manusia pada masa di mana mereka menerapkan sistem yang ditetapkan Sang Khaliq. Selama 13 abad umat manusia diurus seluruh urusannya dengan sistem tersebut. Meski pada saat itu mereka terdiri dari bermacam agama, suku bangsa, dan kebiasaan hidup, mereka bisa hidup berdampingan dan sejahtera.

Mereka hidup berdampingan dengan rukun, merasa aman dan nyaman, kesejahteraan mereka rasakan, keadilan mereka dapatkan.

Itu sebagai buah dari ketaatan mereka terhadap Sang Khaliq. Sistem Islam ialah sistem yang diterapkan oleh Rasulullah ﷺ, para Khulafaurrasyidin ( Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ustman bin Afan, dan Ali bin Abi Thalib), begitupun para khalifah/pemimpin umat sesudah mereka.

Merekalah sosok pemimpin sejati yang layak untuk dicontoh. Mereka mampu mewujudkan keinginan hakiki manusia dalam kehidupannya.

Sebagaimana Allah SWT berfirman ;

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan ( QS. AL-A'RAF ayat. 96)

Indonesia tentu saja mampu menjadi negara maju, bahkan adidaya. Hal itu akan terwujud saat Indonesia mau taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Saatnya kita kembali kepada hukum-hukum Allah SWT, segera menerapkannya sebagai aturan kehidupan, aturan sebagai individu, masyarakat, dan bernegara. Dengan begitu, cita-cita menjadi negara maju bahkan adidaya dapat terwujud dan dirasakan umat manusia.

Post a Comment for "Hanya Dengan Sistem Islam, Indonesia Mampu Menjadi Negara Adidaya"