Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Edukasi Belum Mendominasi di Tengah Pandemi, Jadi Konflik Tersendiri

Edukasi mengenai Covid-19 yang belum merata dari pemerintah dapat dilihat dalam aktivitas masyarakat yang belum seragam untuk menuntaskan pandemi Covid-19 ini.

Oleh: Rifdah Reza Ramadhan

Edukasi mengenai Covid-19 yang belum merata dari pemerintah dapat dilihat dalam aktivitas masyarakat yang belum seragam untuk menuntaskan pandemi Covid-19 ini.

Seperti yang dipaparkan oleh Hermawan saat dialog produktif Satgas Covis-19, Selasa (22/6/2021). Beliau memaparkan bahwa "Sebagian besar dari kita belum satu pemahaman bahwa cara terbaik untuk memutus mata rantai virus ini adalah mencegah penularan. Cara terbaik mencegah penularan adalah mencegah agar tidak terjadi kerumunan. Caranya membatasi mobilitas, menjaga jarak dan kalau terpaksa harus ke ruang publik maka menggunakan masker adalah cara perlindungan".

Dengan tidak sampai dan meratanya edukasi kepada masyarakat, maka hal tersebut menghasilkan pelanggaran-pelanggaran yang sulit dikendalikan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus memaparkan bahwa "Dari 120, hasilnya sekarang ini sampai dengan saat ini yang diselidiki atau masih tahap penyelidikan ada 9 kasus, penyidkan ada 35 kasus”. Beliau juga mengungkapkan bahwa sebelumnya sudah disampaikan oleh pemerintah daerah bahwa non-esensial dan nono-kritikal itu cukup di rumah, tapi kenyataannya masih saja membandel untuk terus berkegiatan.

Kurangnya edukasi bukan hanya berkutat pada pelanggaran PPKM darurat saja, tapi juga berdampak miris para perilaku masyarakat. Salah satunya yaitu masyarakat yang seharusnya memeberi dukungan kepada tim pemakaman jenazah pasien Covid-19 malah melakukan sebaliknya. Tim pemakaman dilempari, dibanting dan dipukul oleh warga Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember.

Tim pemakaman jenazah dilempar oleh batu dan dipukul oleh sejumlah warga, yang mana diawali dengan warga yang menunggu petugas guna berupaya mengambil jenazah secara paksa untuk dimandikan. Karena kondisi yang tidak baik maka petugas pun meniggalkan tempat itu. Namu, sejumlah warga menjegat dan melakukan pemukulan bahkan berusaha membanting tim petugas.

Belum lagi soal penjagaan kesehatan dan ketaantan akan protokol kesehatan, yaitu masih saja belum dapat membuat masyarakat mau untuk taat dan bersama-sama dengan upaya meminimalisir penularan Covid-19 ini. Dan juga tenaga kesehatan serta relawan yang seringkali mendapat respon tidak nyaman dari masyarakat.

Itu hanya beberapa dari banyaknya kejadian akan kurangnya edukasi ditengah masyarakat. Aturan yang disampaikan belum merata dan benar-benar diterima secara menyeluruh. Ditambah berita hoax yang lebih menguasai pemikiran masyrakat hari ini. Yaitu karena masyarakat saat ini lebih mudah mengakses berita yang tidak ada sandarannya, lalu dengan mudah pula menyebarkannya. Maka banyak kita temui masyarakat yang aktivitasnya bertolak belakang degan upaya-upaya membenahi kondisi pandemi bahkan memunculkan konflik satu sama lain antara masyarakat dengan mansyarakat ataupun dengan tenaga kesehatan.

Banyak hal di atas terjadi karena kurang kontrolnya pemerintah sampai wilayah masyarakat terbawah, bahkan media sosial pun belum cukup untuk menyebarluaskan informasi ini sampai ranah masyarakat secara total.

Hal ini juga terjadi karena ketidakpercayaan masyarakat akan pemerintahnya sendiri. Dengan ini tak jarang masyarakat menuntut akan kebijakan yang diberikan, dalam arti masyarakat pun kebingungan dengan langkah yang harus diambil karena itu berbarengan dengan segala himpitan yang sedang dirasakan oleh masyarakat. Masyarakat juga melihat lemahnya pemerintah dalam menangani segala permasalahan yang hadir dan tentunya solusi yang tidak menyelesaikan pun menambah langkah masyarakat untuk tetap pada keberadaan jauh dari ketaatan akan kebijakan yang ada.

Ini bisa berakhir fatal bila dibiarkan secara terus-menerus. Pasalnya ini berdampak pada aktivitas masyarakat yang tidak terkendali dan juga merugikan masyarakat yang lainnya. Ibarat dua mata pisau yang mana pemerintah mendapat dua persoalan dari sisi pandemi yang belum bisa terkendali dengan baik dan juga masyarakatnya yang dipenuhi konflik pada saat pandemi ini.

Solusi yang harus digunakan pada persoalan ini tentu adalah solusi yang terstruktur dan mengakar, bukan solusi yang menutupi bagian satu dan membiarkan bagian yang lainnya semakin parah. Pemerintah punya tanggungjawab yang sangat amat besar untuk mengedukasi masyarakat secara merata dan terstruktur, ditambah perlu ada pengontrolan secara terus-menerus guna memantau aktivitas masyarakat. Masyarakat pun harus dapat terkendali dengan baik.

Ini pasti bukan perkara mudah bila dilakukan pada sistem Kapitalisme saat ini, yang mana banyak orang-orang di dalamnya yang tidak fokus pada edukasi dan penyelesaian konflik, tapi hanya fokus kepada kepentingan pribadi. Hal ini seakan menunjukan bahwa pemerintah abai dengan masyarakat dan kebijakan yanng hadir pun nyatanya tidak mampu mengentikan laju kasus pandemi, bahkan semakin banyak melahirkan konflik antar masyarakat karena lemahnya edukasi. Ini adalah sebuah resiko dari sistem Kapitalisme yang terus menerus dilanggengkan.

Berbeda halnya bila kita menengok Islam dalam memberi kebijakan yang pengaplikasiannya condong kepada kepentingan umat dan bersandar pada hukum syara. Maka masyarakat perlu struktur yang tegas dan mengakar untuk membenahi segala permaslaahan hari ini, mulai dari soal inividu bahkan sampai soal negara.

Dengan kembali kepada Islamlah cara yang tepat guna menyelesaikan segala permasalahan, yaitu dengan penerapan Islam kaffah. Dengan begitu, maka aturan-aturan yang ada akan menuntun kepada arah kebaikan dan kebenaran, yaitu aturan yang tidak terbeli oleh nafsu duniawi seperti saat ini. Dengan menggunakan aturan Islam maka bukan hanya melahirkan kedamaian di dunia tapi juga sampai di akhirat kelak. Seperti bukti sejarah bahwa Islam pernah berjaya dan menguasai dunia dengan penerapannya secara kaffah. Maka tak inginkah kita mengulang kejayaan itu?

Post a Comment for "Edukasi Belum Mendominasi di Tengah Pandemi, Jadi Konflik Tersendiri"