Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

THE KING OF LIP SERVICE, FITNAH ATAU FAKTA?

BEM UI menjadi pembicaraan lantaran menyebut Presiden Jokowi sebagai The King of Lip Service. Jokowi disebut sering mengumbar janji tapi faktanya tidak selaras dengan janjinya itu bahkan ucapannya kerap kali berseberangan dengan kenyataan.

Oleh : Murni Supirman (Aktivis Dakwah Masamba)

Jagad twitter dibuat heboh oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia atau BEM UI pada minggu (27/6/21). Pasalnya BEM UI berhasil membuat trending topic nomor satu di Twitter Indonesia.

BEM UI menjadi pembicaraan lantaran menyebut Presiden Jokowi sebagai The King of Lip Service. Jokowi disebut sering mengumbar janji tapi faktanya tidak selaras dengan janjinya itu bahkan ucapannya kerap kali berseberangan dengan kenyataan.

Kritikan pedas BEM UI kepada Jokowi dibuat dalam bentuk desain grafis dan dibagikan di akun Twitter @BEMUI_Official pada 26 Juni 2021.( Gelora.Id)

Sebenarnya apa yang melatar belakangi julukan The King of Lip Service ini? Apakah ini fitnah buat presiden ataukah fakta? Mengingat hal ini melahirkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Bahkan ada beberapa kalangan yang meminta agar twit itu dihapus karena dianggap mencoreng wajah Indonesia di kancah dunia.

Sebenarnya tanpa bertanya pun masyarakat bisa menilai sendiri perihal julukan ini, bahkan sebagian netizen merasa terwakili dan mendukung penuh narasi yang digiring oleh BEM UI ini.

Pasalnya masyarakat sebenarnya sudah jenuh dengan bualan penguasa yang tidak pernah terealisasi, kemarin bilang A hari ini bisa jadi B. Jadi bukan tanpa sebab BEM UI sampai mengeluarkan pernyataan meminta presiden stop membual, karena rakyat sudah mual.

Kita mungkin masih ingat sebuah tayangan video dimana presiden Jokowi pernah berbicara dalam acara Indonesian Young Changemaker Summit (IYCS), yang diadakan di Gedung Merdeka Bandung. Dimana video itu pertama kali diupload pada 18 Juli 2012, ketika Jokowi masih menjabat Wali Kota Solo, hanya beberapa bulan sebelum dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta.

"Saya kangen sebenarnya didemo. Karena apa? Apapun, pemerintah itu perlu dikontrol. Pemerintah itu perlu ada yang peringatin kalo keliru. Jadi kalau enggak ada demo itu keliru. Jadi, sekarang saya sering ngomong di mana-mana ‘tolong saya didemo’. Pasti saya suruh masuk,” kata Jokowi, Selasa (8/11).(merdeka.com)

Namun faktanya, kata BEM UI, saat mahasiswa dan masyarakat umum melakukan demo UU Cipta Kerja, aparat justru bertindak represif. Kontras bahkan menerima 15.000 aduan kekerasan aparat selama demo tolak UU Cipta Kerja.

Belum lagi janji menguatkan KPK, tapi faktanya, deretan pelemahan KPK, dari revisi UU, hingga yang terbaru kontroversi TWK dan masih banyak lagi.

Jadi apa yang disampaikan oleh BEM UI dalam twitnya tersebut yang mengindikasikan bahwa perkataan yang dilontarkan tidak lebih dari sekadar bentuk ‘lip service’ semata adalah benar adanya.

Adalah sebuah keniscayaan jika para pemimpin dalam sistem demokrasi akan mengalami kegagalan dalam memelihara urusan rakyatnya, sebab demokrasi yang mengadopsi sistem kapitalisme hanya fokus pada kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Keberadaannya memanjakan para kapitalis yang menyokong penguasa sejak awal pemilihan, hingga kepentingan masyarakat dikesampingkan. Belum lagi ketika utang luar negeri membumbung tinggi, kebijakan penguasa terbeli pada akhirnya janji-janji menjadi basi, masyarakat tak dipeduli, beginilah sistem Demokrasi hanya melahirkan pemimpin bermulut manis namun sering ingkar janji.

Berbeda dengan sistem Islam, seorang pemimpin dipilih tidak asal pilih, keberadaannya sebagai pelayan umat dituntut untuk jujur dan bertanggung jawab atas kebijakan yang dibuatnya. Tidak mencla mencle apalagi tipu-tipu.

Kekuasaannya dibangun di atas pondasi agama, yakni Islam, dan ditujukan untuk menjaga dan melayani Islam dan kaum Muslim. Semua keputusannya bersandar pada syariat sebab ia menyadari bahwa semua keputusan, tindakan dan kebijakannya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kelak.

Seperti di masa kepemimpinan Umar bin al Khattab Radhiyallahu 'anhu ketika beliau menjabat sebagai khalifah, perkataan beliau selalu selaras dengan perbuatan. Dikutip dari buku 'Umar Ibn Al-Khattab His Life and Times Vol. 1, kekeringan dan kelaparan parah pernah terjadi pada tahun ke 18 setelah hijrah. Tahun ini disebut Ar-Ramadah karena angin menerbangkan debu seperti abu atau Ar-Ramad. Bencana ini mengakibatkan kematian hingga hewan-hewan ikut merasakan dampaknya.

Umar yang merasa bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin melakukan berbagai usaha untuk membantu rakyatnya, termasuk mendistribusikan makanan dari Dar Ad-Daqeeq. Makanan dari institusi yang khusus menangani kebutuhan logistik masyarakat, Umar membagikan sendiri makanan tersebut untuk masyarakat yang membutuhkan. Umar bin Khattab juga berdoa memohon ampunan dan rizki dari Allah SWT, hingga akhirnya turun hujan dan mengakhiri bencana tersebut.

Begitulah sosok Umar, pemimpin yang suka blusukan bukan untuk pencitraan, sosok yang dirindukan di abad ini. Tapi mustahil pemimpin yang demikian lahir dari rahim kapitalisme yang doyan berjanji namun sering mengingkari.

Jika kita menginginkan sosok pemimpin seperti Umar bin Khattab yang sigap bukan sekedar lip service semata, maka tak ada opsi lain kecuali kekuasaan itu menerapkan syariah Islam secara total yang bertujuan menjaga dan memelihara kemaslahatan umat.

Wallahu'alam bisshawab.

Post a Comment for "THE KING OF LIP SERVICE, FITNAH ATAU FAKTA?"