Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nyawa Begitu Murah Kapitalis Pelaku Komersial

Semenjak wabah menjangkit Indonesia rakyat sudah semakin merana, dampak covid-19 yang kian parah dan tidak ada tuntasnya. Pasien terpapar covid yang berada di rumah sakit sudah makin melonjak sehingga adanya prakarsa pemerintah untuk pasien yang baru terinfeksi, kini harus isoman. Nyata dari idenya juga tak ampuh, karena minimnya fasilitas penanganan covid untuk pasien isoman maupun di rumah sakit.

Oleh Muzaidah (Aktivis Muslimah)

Semenjak wabah menjangkit Indonesia rakyat sudah semakin merana, dampak covid-19 yang kian parah dan tidak ada tuntasnya. Pasien terpapar covid yang berada di rumah sakit sudah makin melonjak sehingga adanya prakarsa pemerintah untuk pasien yang baru terinfeksi, kini harus isoman. Nyata dari idenya juga tak ampuh, karena minimnya fasilitas penanganan covid untuk pasien isoman maupun di rumah sakit.

Prakarsa semacam ini bukan makin pulih malah tambah kritis, jadinya ikutan semakin parah dan banyak yang meninggal dunia. Kebijakan pemerintah mengatasi problem wabah sudah gagal total, dalam ketersediaan obat-obatan saja banyak kurangnya apalagi mengenai fasilitas penanganan covid. Yang ada hanya banyaknya timbul korban kematian daripada yang sembuh sempurna akibat kelalaiannya.

Laporan korban positif covid hingga Juni, yang diarahkan untuk isoman sebanyak 675 pasien ternyata telah meninggal dunia. Beberapa diantaranya mengalami penolakan pihak rumah sakit, hal ini sungguh sangat miris sekali. Bukan hanya itu saja tenaga kesehatan yang melayani pasien covid pun sebanyak 206 meninggal dunia juga, jumlah yang tak sedikit kini sudah harus pergi untuk selamanya. Hal ini disebabkan kurangnya fasilitas covid dan pelayanan yang tak sempurna dari pemerintah pada wabah yang kian semakin parah.

Pemerintah sangat gagal dalam kebijakan mengatasi pandemi yang sudah hampir 2 tahun tak kunjung membaik. Rakyat kembali menderita, mengalami kesulitan berbagai kehidupan dan keluarga yang ditinggalkan dari pasien meninggal terpapar covid-19 harus bersabar dari musibahnya. Data yang tercatat secara kumulatif sudah sebanyak 2.832.755 korban positif covid dan sebanyak 72.489 korban yang meninggal dunia dari covid-19. (news.detik.com, 18/07/2021).

Kinerja penguasa khususnya pada masa pandemi dalam sistem kapitalis hanya memperburuk keadaan yang tiada hentinya. Solusi yang sudah lama ditawarkan dalam Islam terus diabaikan, akibat dari kesombongan timbul problem yang tak ada tuntasnya. Banyak pasien baik yang di rumah sakit, isoman dan nakes pun meninggal dunia, dikarenakan minimnya ruang rawat inap, ketersediaan oksigen dan fasilitas di rumah sakit buat nakes kurang.

Yang membuat sebagian rakyat harus terpaksa isoman tanpa pemahaman dan perangkat memadai. Abainya pemerintah membuktikan bahwa nyawa baginya sangat begitu murah dan tak ada nilainya kecuali adanya kepentingan yang dapat menghasilkan pundi rupiah barulah bersiaga.

Seharusnya dalam penanganan kesehatan pemerintah lebih konsisten dan teliti, bukan membiarkan nyawa hilang begitu saja dan bukan ikutan mengacaukan keadaan. Mulai dari pompa gas oksigen, obat-obatan, bahkan BPJS kesehatan pun juga disahkan untuk dikomersialkan. Padahal banyak rakyat yang susah, sangat membutuhkan pelayanan terbaik dari negara bukan untuk dikerdilkan.

Dalam mengatasi kehidupan secara individu saja, rakyat sudah kesusahan apalagi semuanya harus disuruh bayar dengan harga yang tak pantas. Seharusnya semua kebutuhan kesehatan rakyat digratiskan karena sudah kewajiban pemerintah melayani juga memfasilitasi untuk kesehatan rakyat, bukan malah bekerja sama dan memberikan keuntungan pada pihak korporasi.

Sedangkan dalam daulah Islam disebut sebagai sistem Islam, nyawa rakyat itu ibaratkan emas yang sangat bernilai bahkan harganya tak bisa dihitung karena sangat pentingnya. Seperti yang pertama kali dicontohkan Rasul sebagai Khalifah atau kepala negara dan untuk dicontohkan juga bagi pemimpin dunia lainnya hingga sekarang ini, agar saat memimpin bisa melayani dan menjaga kesehatan rakyat bukan membiarkan begitu saja. Dijelaskan dalam riwayat, bahwa segerombolan orang dari kabilah 'Urainah masuk Islam, lalu mereka jatuh sakit di Madinah.

Rasul menyuruh mereka tinggal dipenggembalaan unta zakat, yang dikelola baitul mal di dekat Quba' dan diperbolehkan minum air susu unta gratis hingga sembuh. Bukan itu saja kepedulian Rasul terhadap rakyatnya, saat Rasul dihadiahkan dokter dari muqauqis raja Mesir, rasul memanfaatkan jasa dokter itu sebagai dokter umum agar bisa melayani orang sakit.

Bukan di situ saja hebatnya kegemilangan Islam beserta fasilitas dari kesehatannya, sampai pengelana Eropa berpura-pura sakit agar bisa merasakan pelayanan kesehatan di rumah sakit Khilafah. Meski para dokter tahu bahwa ia pura sakit, namun tetap dilayani dengan sebaiknya bahkan diberikan uang saku saat keluar dari rumah sakit.

Karena segala kebutuhan dikelola melalui baitul mal atau pos kepemilikan umum. Pengelolaan juga dilakukan dari SDA dan energi seperti tambang minyak, gas, batu bara, emas, kekayaan hutan, laut dan sebagainya. Semuanya akan dikembalikan pada rakyat haram hukumnya diserahkan pada swasta lokal atau asing. Bukan seperti kebutuhan dan pelayanan di sistem kapitalis, semuanya dikomersialkan bahkan mudah sekali rakyat diabaikan. Pengelolaan sumber alam pun diperjual-belikan, sungguh sangat bobrok kehidupan di kapitalis.

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemimpin sebagai penjamin mulai dari pemenuhan kebutuhan hidup, kesehatan bahkan nyawa untuk rakyat juga melakukan kebaikan pada rakyat, apa yang sudah seharusnya dilakukan pemimpin. Kinerja yang dilakukan Rasul ini, terus dilanjutkan oleh Khalifah Islam hingga keadilan berjalan 13 abad lamanya, tanpa ada cacat apalagi sengsara sedikit pun.

"Sesungguhnya Allah swt. Telah mewajibkan berbuat ihsan atas segala sesuatu''. (HR. Muslim).

Walau dalam sistem kapitalis sekalipun, penguasa sudah seharusnya bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan dan kesehatan rakyat. Diberikan secara gratis dan diperhatikan kualitas terbaik untuk rakyat. Baik bagi yang miskin maupun yang kaya, harus diberikan sama rata sama rata bukan dipilih-pilih. Karena kesehatan dalam Islam itu, sudah menjadi kebutuhan pokok publik tidak bisa ditunda atau dibiarkan begitu saja.

Sebagaimana yang ditegaskan Rasul: ''Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala dan hanya dialah yang bertanggung jawab pada urusan rakyat''. (HR. Bukhari).

Maka apakah rakyat masih tetap mau bermukim di sistem yang tak mendatangkan keadilan ini? Kezaliman selalu diupdate begitu saja bahkan nyawa pun sudah tak bisa dijamin. Bahkan segala kebutuhan di kapitalis tidak dipenuhi untuk individu, karena baginya bukan kewajiban negara atau pemimpin. Sehingga semuanya yang mendatangkan manfaat sudah bisa dikomersialkan mulai dari obat, fasilitas kesehatan juga BPJS dan lainnya.

Maka meleklah wahai rakyat yang sudah jauh lama kena imbas dari kesengsaraan. Karena sejatinya sistem yang mendatangkan kebahagiaan dan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia itu, hanya tercipta di sistem khilafah. Sebab Sedih, sengsara atau merana itu sudah tak ada lagi dalam Islam sebenarnya, karena Islam dipimpin oleh khalifah yang benar takwa dan amanah bukan cuma pencitraan sana sini saja.

Wallahualam bissawab.

Post a Comment for "Nyawa Begitu Murah Kapitalis Pelaku Komersial"