Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MUHASABAH DI TENGAH PANDEMI DENGAN SETULUS HATI

Pandemi Covid-19 memang belum berakhir. Keberadaanya semakin mencemaskan. Sejumlah warga yang terpapar rata-rata di atas 20 ribu kasus perhari. Akibatnya sejumlah Rumah sakit dilaporkan kolaps. Pasien makin bertumpuk. Maka tak ayal pasien harus rela ditempatkan dibalkon-balkon rumah sakit karena sudah kehabisan kamar. Bahkan ada yang sudah tak mampu lagi menampung karena saking banyaknya pasien. Tidak berhenti sampai disitu, tenaga kesehatan pun makin kewalahan. Tak sedikit sebagian ikut jatuh sakit dan ebagian lagi wafat.

Oleh: Masyi

Pandemi Covid-19 memang belum berakhir. Keberadaanya semakin mencemaskan. Sejumlah warga yang terpapar rata-rata di atas 20 ribu kasus perhari. Akibatnya sejumlah Rumah sakit dilaporkan kolaps. Pasien makin bertumpuk. Maka tak ayal pasien harus rela ditempatkan dibalkon-balkon rumah sakit karena sudah kehabisan kamar. Bahkan ada yang sudah tak mampu lagi menampung karena saking banyaknya pasien. Tidak berhenti sampai disitu, tenaga kesehatan pun makin kewalahan. Tak sedikit sebagian ikut jatuh sakit dan ebagian lagi wafat.

Begitu pun nasib warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah juga memprihatinkan. Sejumlah warga yang tak tertangani akhirnya meninggal. Pasalnya, tak ada perawatan yang memadai untuk mereka. Tak hanya itu, terjadi juga antrian di pemakaman dengan protokol Covid-19. Banyak kekurangan peti jenazah. Akhirnya beberapa Pemda harus menambah lahan pemakaman baru untuk memakamkan warga korban Covid-19 yang terus bertambah.

Bagi kaum Mukmin, setiap musibah apa pun itu tentu harus dihadapi dengan keimanan. Hal ini agar tidak muncul persepsi dan sikap yang keliru dalam menghadapinya. Maka sudah selayaknya, sebagai seorang muslim wajib mengimani bahwa tak ada satu pun musibah yang dia alami melainkan atas kehendak Allah SWT.

Tidak ada satu pun musibah seperti bencana alam atau wabah terjadi begitu saja. Semua makhluk yang ada di alam semesta tunduk pada perintah Allah SWT. Semua sudah tercatat dalam lauh mahfuz. Semua sesuai qadaNya.Termasuk berbagai makhluk seperti virus atau bakteri penyebab wabah penyakit. Semua tunduk pada kekuasaan-Nya. Semua datang atas izinNya. Manusia tidak bisa mengelak sedikitpun dari kehendakNya

Apabila manusia mampu memahami kenyataan ini dengan benar, maka seorang hamba akan mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Pada akhirnya dia pun akan menyadari kelemahannya sebagai mahluk yang diciptakan serba lemah, terbatas dan banyak kekurangan. Ketika manusia membanggakan kecanggihan teknologi kedokteran, farmasi dan sebagainya, ternyata akan sampai pada satu realita bahwa manusia tak sanggup mengalahkan kekuasaan Allah SWT, sehebat apa pun manusia, dalam menghadapi makhluk kecil seperti virus saja bahkan tak kuasa, dunia pun nyaris lumpuh akibat virus ini.

Seorang Mukmin juga wajib memahami bahwa sepanjang kehidupan di dunia dia akan selalu mendapatkan yang namanya berbagai ujian. Allah SWT berfirman:

لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (TQS al-Baqarah [2]: 155).

Demikianlah hakikat kehidupan dunia. Tak ada seorang hamba pun yang melewati hidupnya tanpa ujian dari Allah SWT. Jika ia bersabar, ia bersih dari segala dosa karena kesabarannya menanggung berbagai ujian. Dan dia akan mendapatkan pahala dari kesabarannya.

Di antara bentuk kesabaran seorang hamba dalam menghadapi musibah berupa sakit adalah tidak mencaci-maki sakit yang dia derita. Yang harus dilakukan adalah sabar dan ridha. Termasuk tidak mencela Corona yang sedang mewabah saat ini. Kalau marah atas qadhaNya pada akhirnya yang didapat malah dosa dan mencela qada itu haram hukumnya. Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah mengingatkan Ummu as-Saib yang mencela sakit yang sedang dia derita, yaitu demam. Rasulullah saw. bersabda:

لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Janganlah engkau mencela demam. Demam itu bisa menghilangkan kesalahan-kesalahan (dosa) manusia, sebagaimana kir (alat yang dipakai pandai besi) bisa menghilangkan karat besi” (HR Muslim).

Karena itu sabar adalah amal yang mesti ditunjukkan seorang Mukmin manakala ia ditimpa musibah sebagaimana yang tercantum dalam QS Al-Baqarah [2]: 155-157.

Selain ridha dan bersabar, kaum Muslim juga diperintahkan untuk melakukan muhasabah. Kenapa perlu muhasabah?hal ini sebagai introspeksi atas kemungkinan dosa-dosa yang dilakukan yang menyebabkan datangnya bencana. Allah SWT mengingatkan bahwa beragam bencana datang justru karena ulah manusia sendiri, hal itu Allah lakukan agar manusia merasakan Sebagian akibat dari perbuatannya agar mau kembali ke jalan yang benar.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)” (TQS asy-Syura [42]: 30).

Beragam tindak kezaliman juga seperti tak pernah berakhir khususnya dinegri ini. Lihatlah bagaimana ulama divonis berat dengan tuduhan melanggar aturan prokes, sementara pejabat negara yang melanggar prokes lolos begitu saja. Ada juga aparat penegak hukum yang kongkalikong dengan koruptor justru diberi potongan hukum amat besar. Hukum peradilan terlihat tebang pilih, yang salah dibenarkan, yang benar di salahkan.

Sejak awal pandemi merebak di dunia, Pemerintah terus membuka kedatangan WNA ke dalam negeri, termasuk dari Cina sebagai asal wabah. Bahkan ketika pandemi masuk ke Tanah Air, pintu imigrasi masih terus dibuka. Fatal akibatnya. Corona varian delta yang berasal dari luar negeri akhirnya merebak ke Tanah Air. Inilah tindakan yang justru mendatangkan madarat atas negeri ini. Sebaiknya pemerintah tegas akan tindakan tindakan yang dapat mengakibatkan bertambahnya angka virus corona naik.

Selain pemerintah, kita sebagai masyarakat pun harus ikut berperan dalam mencegah penyebaran virus ini. Sebaiknya patuhi anjuran pemerintah dan protokol kesehatan agar pandemi cepat berlalu dari negeri ini. Jika tidak ada urusan yang terlalu mendesak, tak perlu lah kita keluar rumah ataupun menghadiri acara yang berkerumun. Kalaupun ada keperluan yang mengharuskan kita untuk keluar rumah, sebaiknya terapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, rajin mencuci tangan, serta menjaga jarak.

Dengan adanya musibah pandemi ini, kita diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menarik diri dari hiruk pikuk kebiasaan duniawi. Kita bisa introspeksi diri, agar bisa lebih mengenal diri kita sendiri. Sehingga ketika musibah ini selesai, akan muncul pribadi dengan target dan kondisi yang baru. Musibah ini adalah momentum untuk bermuhasabah diri. Terlebih muhasabah dengan taubatan nasuha diseluruh negeri untuk kembali berhukum kepada hukum Allah. Menaati segala perintahNYa dan menjauhi segala laranganNya. Serta menerapkan islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahu alam bi showwab.


Post a Comment for "MUHASABAH DI TENGAH PANDEMI DENGAN SETULUS HATI"