Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meneladani Keluarga Ibrahim as

Merayakan hari raya Idul Adha kali ini terasa sangat berbeda. Berbagai keceriaan yang biasanya tampak kini tidak lagi ada. Seperti takbir keliling dan penyembelihan hewan qurban yang bisa dihadiri oleh masyarakat umum bahkan di sebagian mesjid tidak mengadakan pelaksanaan shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban. Mesjid Istiqlal Jakarta salah satunya.

Oleh Verawati S.Pd (Praktisi pendidikan dan pegiat Opini Islam)

Merayakan hari raya Idul Adha kali ini terasa sangat berbeda. Berbagai keceriaan yang biasanya tampak kini tidak lagi ada. Seperti takbir keliling dan penyembelihan hewan qurban yang bisa dihadiri oleh masyarakat umum bahkan di sebagian mesjid tidak mengadakan pelaksanaan shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban. Mesjid Istiqlal Jakarta salah satunya.

Meski demikian adanya, kiranya ini tidak menjadikan kita jauh dari mengingat Allah SWT. Justru dalam kondisi wabah dan kesulitan ini kita harus lebih mendekatkan diri pada-Nya dan momentum Idul Adha ini juga kita mengingat kembali pengorbanan Nabi Ibrahim as dan keluarganya serta mengambil ibrohnya.

Kemuliaan Nabi Ibrahim as ini dikabarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah [60] ayat 4 yang artinya : “Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia;.”

Nabi Ibrahim as adalah sosok manusia pilihan yang memiliki banyak keutamaan. Diantaranya adalah memiliki ketaatan yang totalitas. Hal ini bisa terlihat dari kisah beliau yang mengikuti perintah Allah SWT untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail. Meski perintah ini disampaikan oleh Allah dalam sebuah mimpi. Akan tetapi beliau tetap menyampaikan kepada anaknya. Begitu pun dengan Ismail, merupakan sosok anak yang Sholeh. Berbakti pada kedua orang tuanya dan taat kepada Allah SWT.

Sosok lain yang tidak bisa dipisahkan dalam kisah Idul Adha adalah sosok ibunda Hajar. Betapa ia adalah seorang wanita yang Sholehah dengan keimanan yang kuat serta keyakinan akan pertolongan Allah SWT. Hal ini bisa dilihat manakala dia dan anaknya Ismail bayi dipindahkan ke tempat yang tandus yakin di sekitar Mekkah.

Dikisahkan bahwa saat pertama kali mereka datang ke tempat ini kondisinya sepi tidak ada orang dan tidak ada pepohonan yang bisa dijadikan untuk berteduh. Sehingga bertanyalah beliau kepada Ibrahim as. “Kenapa engkau membiarkan kami ditempat ini?". Nabi Ibrahim pun tidak mampu menjawab. Kemudian Siti Hajar bertanya lagi “Apakah ini perintah dari Tuhanmu?". Atas pertanyaan ini Nabi Ibrahim menjawab "Ya". Maka setelah mendengar jawaban itu, Siti Hajar diam dan membuat kesimpulan sendiri bahwa jika ini adalah perintah Allah SWT, maka pasti Allah SWT tidak akan menelantarkan mereka.

Adapun seperti apa bentuk pertolongan Allah itu. Siiti Hajar sendiri tidak tahu. Hanya yakin saja. Betul, keyakinan ini terwujud dengan banyaknya keberkahan. Seperti yang kita lihat hari ini. Mekkah menjadi tempat yang tidak pernah sepi dari pendatang. Manusia seluruh dunia khususnya muslim bercita-cita untuk datang kesini. Terdapat air zam-zam yang tidak pernah kering meski diminum oleh jutaan manusia dalam seharinya dan masih banyak lagi keutamaan-keutamaan kota Mekkah dibandingkan dengan yang lainnya.

Apa yang bisa kita ambil hikmahnya? Adalah kita diminta untuk taat kepada Allah secara total. Sebab ketaatan ini akan membawa pada keberkahan. Keberkahan akan membawa pada kelapangan dan kesejahteraan hidup serta Rida Allah SWT. Sebagaimana firman-nya, yang artinya

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan" (TQS. Al-Araaf ayat 96)

Akan tetapi ketaatan totalitas ini butuh namanya sistem. Sebuah sistem yang memudahkan dan mengarahkan kita untuk bisa taat secara totalitas. Sistem itu tidak lain adalah sistem kehidupan Islam. Sebab, sistem Islam akan menerapkan Islam secara menyeluruh. Berbeda dengan hari ini, dimana sistem yang diterapkan adalah sistem kapitalisme. Yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga yang terjadi adalah sebagai umat Islam hanya sedikit yang bisa amalkan dan hanya seputar ibadah ritual saja.

Sedangkan aturan yang lainnya seperti ekonomi, sosial, politik dan lain sebagainya tidak menggunakan aturan Islam. Kita tidak bisa dari lepas dari riba sebab sistem kapitalisme menghalalkan riba, umat Islam yang diserang dan di usir tidak ada yang membela. Bumi Palestina diantaranya sebab tidak ada pemimpin yang berani untuk memimpin jihad. Maka dari itu, kita butuh sistem Islam yang dipimpin oleh seorang Khalifah.

Inilah yang hari ini hilang, yang menyebabkan umat Islam berjuang sendiri dalam berbagai kesulitan. Maka dari itu, dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk mewujudkan sistem Islam ini. Perjuangan itu diwujudkan dengan terus berdakwah. Melakukan Amar ma'ruf nahi munkar kepada siapa pun. Termasuk pada para penguasa negeri-negeri Islam agar mau menerapkan Islam secara kaffah. Sebab inilah puncaknya amal dan mahkotanya adalah jihad fisabilillah. Tak ada kata berhenti atau lelah dalam menjalankannya. Inilah metode yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Hingga akhirnya Rasulullah mampu menerapkan sistem Islam di Madinah Al Munawwarah.

Laa izzata Illa bil Islam
Wala Islama ila bi syariah
Walaa syariata ila bi daulah
Daulah khilafah rosyidah

Wallahu a’lam bus showab

Post a Comment for "Meneladani Keluarga Ibrahim as"