Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Liberalisasi Seksualitas Ancaman Keluarga Muslim

Viral, pernyataan artis Yuni Shara terkait sikapnya dalam memberikan edukasi seksualitas kepada kedua putranya melalui tontonan video porno yang dilihatnya bersama. Ia berdalih ini adalah cara memberikan edukasi seks sejak dini dan bukan merupakan hal tabu. Maka untuk menunjang edukasi tersebut, ia bahkan mencari info lebih banyak jenis film dewasa yang mungkin disukai anaknya.

Oleh Nurmilati

Viral, pernyataan artis Yuni Shara terkait sikapnya dalam memberikan edukasi seksualitas kepada kedua putranya melalui tontonan video porno yang dilihatnya bersama. Ia berdalih ini adalah cara memberikan edukasi seks sejak dini dan bukan merupakan hal tabu. Maka untuk menunjang edukasi tersebut, ia bahkan mencari info lebih banyak jenis film dewasa yang mungkin disukai anaknya.

Melihat hal ini, Ketua KPAI Susanto melalui laman detiknews mengatakan "Konten porno itu berbahaya, berdampak negatif serius terhadap tumbuh kembang anak," (26/6). Maka anak-anak tidak boleh menonton konten porno meski diawasi dan didampingi karena tidak dibenarkan dan dampaknya tetap buruk. Susanto menghimbau orang tua berhati-hati dalam mendidik anak dan tetap memperhatikan etika perlindungan anak.

Sementara itu, menurut Robert Lehman,MD, salah seorang pendiri Great Conversation, sebuah organisasi berbasis di Seattle yang menawarkan kelas dan presentasi terkait pubertas dan seksualitas kepada keluarga, pra-remaja dan profesional, menjelaskan kepada orang tua bahwa mereka tidak berhak melarang anak mengakses konten dewasa terlebih Keberadaan dan kemudahan internet memberikan peluang bagi anak mengaksesnya di manapun melalui gadget, sehingga ini bisa dijadikan edukasi seksualitas untuk mereka.

Hal senada disampaikan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) merekomendasikan semua negara di dunia menerapkan pendidikan seksual secara menyeluruh, hal ini berdasarkan penelitian terbaru Global Education Monitoring (GEM) Report, UNESCO. Menurut laporan 15 juta anak perempuan menikah di bawah umur setiap tahunnya, sementara sekitar 16 juta anak berumur 15-19 tahun dan 1 juta di bawah 15 tahun melahirkan setiap tahunnya.

Dalam keterangan pers yang dihimpun CNN Indonesia Direktur GEM Report Manos Antoninis menyampaikan "Lebih dari satu dari sepuluh kelahiran pada perempuan berusia antara 15-19 tahun, bukan hanya menghentikan pendidikannya, namun bisa mengancam keselamatan nyawa karena kehamilan dan kelahiran di usia ini merupakan penyebab utama kematian. (13/6).

Di usia tersebut menyumbang sepertiga kasus infeksi HIV baru di 37 negara berpenghasilan menengah ke bawah, ironinya dari jumlah tersebut hanya sekitar sepertiga yang memiliki pengetahuan menyeluruh tentang pencegahan dan penularan HIV, maka berdasarkan data tersebut Gem Report menilai pendidikan seksual sejak dini dan komprehensif adalah cara tepat untuk menyelesaikan persoalan ini.

Selain itu, organisasi tersebut menyebutkan pendidikan seks secara sempurna perlu diberikan sebelum mereka aktif secara seksual karena dengan pendidikan dapat membantu mencegah kehamilan yang tidak diharapkan, HIV dan penyakit menular lainnya serta mempromosikan nilai-nilai toleransi. Maka dari itu, pendidikan seksualitas bagian dari pendidikan berkualitas, pencapaian hasil kesehatan yang baik dan kemajuan menuju kesetaraan gender.

Liberalisasi Seks untuk Mendulang Materi

Meski menuai kontroversi, nyatanya banyak orang tua beranggapan pendidikan seks seperti ini bernilai positif, selain demi membangun komunikasi lebih terbuka, juga supaya orang tua lebih bisa mengarahkan orientasi seksual anak dengan benar, sehingga tak ayal banyak orang tua terdorong untuk mengadopsinya.

Perbincangan dan perilaku yang mengarah pada seksualitas di hadapan publik bukanlah hal tabu terjadi di masyarakat tak terkecuali remaja bahkan anak-anak di bawah umur, bukan hanya sekadar diperbincangkan akan tetapi mereka sekaligus menjadi pelaku seks tersebut. 

Fenomena ini terjadi tidak lepas dari campur tangan sebuah lembaga dunia yang menggaungkan pendidikan seks sejak dini harus diterapkan di seluruh dunia. Adapun menurutnya, edukasi seks pada anak-anak tujuannya agar mereka bisa menjaga kesehatan organ genitalnya dan dikenalkan cara agar terhindar dari tindakan kekerasan seksual. Sementara pada usia remaja pendidikan seks dikenalkan dengan pengetahuan fungsi reproduksi, beragam aktivitas seksual dan penggunaan alat kontrasepsi. Sehingga dengan bekal ilmu tersebut bisa menjadi modal untuk memilih aktivitas seksual bertanggungjawab jawab, artinya si anak memiliki kebebasan dalam menyalurkan hasrat seksualnya dengan catatan ia memahami konsekuensi yang harus diterima dari perbuatannya.

Alih-alih ingin memberikan pendidikan seks lebih dini guna menekan kasus melahirkan di luar nikah, penyakit menular seksual (PMS) dan aborsi, malah sebaliknya, justru membuat remaja ingin mencoba mempraktikkan seks aman menurut standar UNESCO.

Apabila dicermati, ide pendidikan seks bermula dari negara yang menganut sistem demokrasi sekulerisme liberalisme. Di dalamnya disuarakan bagaimana agama harus dipisahkan dari kehidupan dan setiap orang bebas berperilaku dan berekspresi demi menyenangkan dirinya. Selain itu, materi menjadi salah satu yang diprioritaskan dalam sistem ini, sehingga meniscayakan tindakan apapun harus mendatangkan materi sebanyak mungkin.

Berangkat dari sistem yang diterapkan tersebut, menjadikan masyarakat harus mau diatur oleh aturan manusia dalam berbagai lini tak terkecuali dari sisi seksualitas. Sementara itu, aturan yang berasal dari manusia tidak lebih hanya untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan syahwat dunia.

Lantas apa korelasinya antara pendidikan seks dengan sistem tersebut?

Selain merupakan program global dengan tujuan meracuni cara dan pemikiran orang tua Muslim dalam mendidik buah hatinya, program tersebut merupakan bagian liberalisasi seksual yang menjadi komitmen negara-negara Barat guna menghancurkan tatanan keluarga Muslim, terlebih anak-anak dan remaja sebagai sasarannya. Supaya pemikiran umat Islam berkiblat pada negara pengusung ide kebebasan.

Selain itu, pendidikan seks lewat tontonan tentu menuntut seseorang untuk mengakses konten porno, sementara industri film porno salah satu bisnis yang berkembang sangat pesat dan menghasilkan pundi-pundi fantastis. Melansir dari Busines Insider, industri film porno mampu mengalahkan film Hollywood dan bernilai lebih dari USS 100 Miliar, bahkan traffic situs porno hampir setara dengan YouTube dan Google, lantaran peminatnya dari berbagai kalangan dan beragam usia. Mirisnya, Indonesia termasuk salah satu pengakses terbesar berada diurutan kedua setelah India.

Maka tak heran jika negara Barat begitu massif menyuarakan pendidikan seksualitas kepada seluruh negara, tak lain merupakan cara untuk mendapatkan keuntungan materi sebanyak-banyaknya dan merusak generasi, sehingga sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Naluri Seks dalam Islam

Allah Swt menciptakan manusia dengan kesempurnaan yaitu dilengkapi akal dan pemikiran berikut kebutuhan jasmani dan naluri, baik kepada laki-laki maupun perempuan. Adapun kebutuhan jasmani berupa makan, minum, mengantuk dan buang hajat akan muncul karena dorongan internal tanpa memerlukan rangsangan dari luar. kebutuhan jasmani harus terpenuhi karena apabila tidak, akan mengakibatkan bahaya dan menimbulkan kematian.

Sebaliknya, naluri yang meliputi naluri mempertahankan diri, melestarikan keturunan dan naluri beragama akan hadir manakala ada dorongan dari luar dan tidak akan bangkit kecuali dengan adanya rangsangan eksternal berupa fakta-fakta yang diindera ataupun imajinasi seksual yang memunculkan hasrat. Maka apabila tidak ada dorongan dari luar, naluri tidak akan bangkit dan tidak menuntut pemuasan secara pasti. Dorongan tersebut jika tidak terpenuhi, tidak berbahaya bagi fisik, jiwa maupun akal manusia. Namun kemungkinan terjadi hanyalah kegelisahan dan kesedihan.

Maka dari itu, adanya fakta yang diindera dan pikiran yang mengundang imajinasi merupakan faktor yang bisa membangkitkan naluri. Namun demikian, membebaskan naluri seks sangat membahayakan manusia dan kehidupan bermasyarakat, padahal tujuan dari naluri tersebut untuk melestarikan keturunan bukan sebatas pemuas seksualitas belaka.

Islam Solusi Menyeluruh

Sebaliknya, tampak jelas kebenaran pandangan Islam yang menjadikan dorongan seks hanya untuk melangsungkan keturunan. Solusi Islam dalam persoalan ini yakni menjauhkan segala macam yang dapat membangkitkan naluri seksual, baik berupa tontonan, gambar dan imajinasi porno.

Hanya syariah Islam yang mampu mencegah kerusakan yang ditimbulkan dari dorongan seksual di masyarakat yaitu dengan menjadikan naluri tersebut untuk kemaslahatan dan kedamaian di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi solusi yang ditawarkan Islam tentu tidak bisa diaplikasikan dalam negara demokrasi berideologi sekularisme liberalisme karena bertentangan dengan tujuannya.

Maka, solusi tepat dan menyeluruh dalam menyelesaikan persoalan beragam naluri pada manusia adalah Dia yang menciptakan naluri tersebut yakni Allah Swt, maka dari itu negara seharusnya mengambil solusi dari Allah Swt. Sehingga, bukan hanya persoalan naluri yang bisa terselesaikan hingga tuntas, namun beragam permasalahan manusia baik di kehidupan pribadinya maupun dalam bernegara.

Post a Comment for "Liberalisasi Seksualitas Ancaman Keluarga Muslim"