Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Liberalisasi Seksual Tidak Hanya Berbahaya Tapi Wajib Ditolak

Pendidikan seks adalah bagian dari program Global yang dirancang sedemikian rupa dan dikampanyekan untuk diadopsi sebagai solusi yang harus diajarkan sejak usia dini agar anak mampu menjaga organ genitalnya, tahu tata cara terhindar dari tindak kekerasan seksual. Pada usia remaja pendidikan seks dikenalkan dengan pengajaran fungsi reproduksi, beragam aktifitas seksual hingga penggunaan kontrasepsi.

Oleh : Yusra Ummu Izzah (Pendidik Generasi- Komunitas Ibu Cinta Qur'an)

Seorang figur publik kembali menuai kontroversi terkait dengan pengakuannya di media sosial yang nonton konten porno bersama kedua putranya dengan alasan sebagai orang tua modern, terbuka, dan progresif, ia sedang mendidik dan mengarahkan orientasi seksual anaknya dengan benar.

Reaksi masyarakat pun beragam tak pelak, membuka kembali ruang diskusi tentang penting tidaknya pendidikan seks bagi anak. Susanto, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merespon, mengingatkan bahwa paparan konten porno berbahaya dan memberi dampak negatif pada tumbuh kembang anak. Sabtu, 26/6/2021(news.detik.com)

Pandangan KPAI berkebalikan dengan banyak pihak yang justru menganggap positif model pendidikan seks serupa ini, cara sang artis dianggap mewakili orang tua progresif, para orang tua pun didorong untuk meniru agar komunikasi dengan anak lebih terbuka dalam berbagai perkara.

Kritisi Pendidikan Seks

Pendidikan seks adalah bagian dari program Global yang dirancang sedemikian rupa dan dikampanyekan untuk diadopsi sebagai solusi yang harus diajarkan sejak usia dini agar anak mampu menjaga organ genitalnya, tahu tata cara terhindar dari tindak kekerasan seksual. Pada usia remaja pendidikan seks dikenalkan dengan pengajaran fungsi reproduksi, beragam aktifitas seksual hingga penggunaan kontrasepsi.

Bekal pendidikan seks inilah yang dianggap modal andal bagi setiap orang untuk memiliki aktivitas seksual yang bertanggung jawab. Bila memilih pergaulan bebas, sudah tahu resikonya. Bila tidak siap beresiko maka bisa menghindari. Pun bila tak bisa mengendalikan naluri seksual sudah tahu cara menghindari kehamilan tak diinginkan atau penyakit menular seksual berbahaya. Benarkah demikian?

Alih-alih mencegah pergaulan bebas, persoalan baru yang dihadapi masyarakat dan pemerintah malah semakin bertambah, karena anak-anak dan remaja yang diberikan informasi pengetahuan yang melimpah dalam bingkai pendidikan seks, akan penasaran dan karenanya bukannya malah hati-hati agar tak jatuh pada bahaya seks bebas justru mereka makin percaya diri untuk mempraktekkan seks yang aman.

Pada akhirnya kita menyaksikan banyak remaja yang putus sekolah karena hamil diluar nikah, kejahatan aborsi yang setiap tahun semakin bertambah, kerusakan moral, dan penyakit seksual yang merajalela. Kehancuran keluarga bahkan ancaman kehilangan generasi masa depan pun di hadapan mata.

Inilah gambaran nyata masyarakat sekuler liberal, eksploitasi naluri seksual menjadi salah satu ciri peradaban liberal. Kesenangan ragawi menjadi ukuran kebahagiaan, nilai-nilai kebebasan di sakralkan hingga kebebasan seksualpun dianggap bagian dari hak asasi setiap manusia.

Kembali ke Islam

Gempuran arus peradaban barat berupa arus seksualisasi melalui media dan film sudah semestinya terus Kita waspadai. Fakta figur publik yang mendampingi putranya menonton konten porno wajib mendorong kita untuk semakin gencar melakukan Amar ma'ruf nahi mungkar, menjelaskan pada Umat akan bahaya kerusakan yang akan ditimbulkan dari konten-konten porno tersebut.

Oleh karena itu, wajib mengingatkan kepada setiap muslim akan tanggung jawabnya untuk mengamalkan dan terikat dengan ajaran Islam. Sebab tidak kenal dan tidak mengamalkan syariat Islam menjadikan arus sekularisasi makin tak terbendung.

Bila lebih mengenal Islam yang sempurna dan menyeluruh, kita akan dapati Islam menempatkan naluri seksual secara indah selaras dengan tujuan penciptaan manusia bukan dengan membebaskannya dan bukan pula dengan mengebirinya.

Islam memerintahkan untuk menundukkan pandangan, menutup aurat, melarang khalwat dan ikhtilat. Mengharamkan zina dan liwath, memenuhi naluri seksual dalam hubungan pernikahan, membangun sikap penuh hormat terhadap lawan jenis. cara Islam ini bukan hanya menjaga individu dari bahaya serta kehinaan di dunia dan akhirat, tetapi juga meniscayakan hadirnya sebuah masyarakat dan peradaban yang mulia.

Dalam sistem Islam, semua syariat seputar penjagaan dan pemenuhan naluri seksual akan dipastikan implementasinya, bahkan didukung dengan sistem ekonomi dan pendidikan. Penataan media juga akan diselaraskan, diatur, dan diawasi.

Pengawasan ini tidak lain agar semua sarana tidak menjadi wasilah penyebarluasan dan pembentukan opini umum yang dapat merusak pola pikir dan pola sikap generasi muda Islam. Tidakkah kita merindukan sistem Islam yang memuliakan manusia, yang berasal dari Zat Yang Maha Mulia ini?

Yuk, mari sama-sama berjuang untuk mewujudkan sistem yang mulia ini agar keberkahan dan Rahmat dari Allah dicurahkan kepada kita semua sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala yg artinya :

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa Pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) maka kami siksa mereka Sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan" (TQS al- A'raf :96)

Wallahu A'lam Bishawab.

Post a Comment for "Liberalisasi Seksual Tidak Hanya Berbahaya Tapi Wajib Ditolak"