Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wajah Baru Israel, Akankah Derita Palestina Berakhir?

Oposisi Israel membentuk koalisi baru untuk pemerintahan baru Israel. Oposisi ini yang akan menggulingkan Benjamin Netanyahu dari kekuasaannya yang telah bertahan selama 12 tahun. Sontak saja. Kepemimpinan Netanyahu berada di ujung tanduk setelah koalisi partainya, Likud, gagal membentuk kabinet pemerintahan meski meraup mayoritas suara dalam pemilihan umum pada Maret lalu. "Penjahat Netanyahu tidak akan berkuasa lagi. Ini adalah akhir dari setiap penjahat."

Oleh : Annisa Al Maghfirah (Relawan Media)

Oposisi Israel membentuk koalisi baru untuk pemerintahan baru Israel. Oposisi ini yang akan menggulingkan Benjamin Netanyahu dari kekuasaannya yang telah bertahan selama 12 tahun. Sontak saja. Kepemimpinan Netanyahu berada di ujung tanduk setelah koalisi partainya, Likud, gagal membentuk kabinet pemerintahan meski meraup mayoritas suara dalam pemilihan umum pada Maret lalu. "Penjahat Netanyahu tidak akan berkuasa lagi. Ini adalah akhir dari setiap penjahat."

Bagi sebagian kaum muslim tentu sangat senang jika Netanyahu yang selama ini pemimpin Israel dalam menjajah Palestina akan dilengserkan.

Israel Mencari Mandat Baru

Akibat kegagalan koalisi partai Netanyahu, sekitar Mei lalu, Presiden Israel Reuven Rivlin memberi mandat pemenang kedua pemilu, Lapid dan partainya, untuk membentuk koalisi kabinet baru.

Sejauh ini, Lapid berhasil membujuk setidaknya delapan partai yakni Partai New Hope yang dipimpin eks sekutu Netanyahu, Gideon Saar, partai nasionalis sekuler sayap kanan Yisrael Beitenu pimpinan Avigdor Lieberman, Partai Buruh, Maretz, Partai Biru dan Putih milik menhan Israel, Benny Gantz, hingga Yamina yang dipimpin Naftali Bennett. Untuk pertama kalinya, partai konservatif Islam, Raam, yang diketuai Mansour Abbas, juga mengumumkan bergabung dengan koalisi Lapid. Selama ini, partai Islam Arab-Israel tidak pernah bergabung dengan koalisi pemerintahan.

Yang menjadi perbincangan diantara koalisi tersebut adalah Naftali Bennet. Ia mengalihkan dukungannya dari Netanyahu. Besar kemungkinan Naftali mengamankan posisinya sebagai Perdana Menteri Israel. Parlemen Israel akan memberikan suara untuk menyepakati pemerintahan baru berbentuk oposisi, yang akan mengakhiri 12 tahun pemerintahan perdana menteri Benjamin Netanyahu. Pemungutan suara untuk menentukan keberlangsungan kepemimpinan Netanyahu itu, akan dilakukan pada minggu akhir pekan ini (CNBC Indonesia, Rabu, 09/06/2021)

Era Kegelapan untuk Palestina

Netanyahu lengser, duka Palestina tak berakhir. Mandat baru nantinya adalah awal dari era kegelapan baru. Koalisi baru tidak akan berbeda dari (pemimpin) yang sebelumnya.

"Kami tidak mengandalkan pemerintah Israel, karena sejarah telah membuktikan bahwa mereka adalah dua sisi mata uang yang sama,"

Begitulah pendapat Jamal al-Khatib (62 tahun), seorang profesor di Universitas Al-Quds di Ramallah mengenai penggulingan Benjamin Netanyahu oleh oposisi.

Jika kita saksikan adanya isu pelengseran Netanyahu sebagai pemimpin Israel, realitanya derita Palestina belum berakhir. Masih ada pembangunan permukiman (Yahudi) baru dan kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza yang tetap berlanjut. Apatahlagi Naftali Bennet yang diperkirakan akan menjadi Perdana Menteri tersebut memiliki keinginan untuk semakin memperluas wilayah Israel dengan alasan teologis. Tentu saja Palestina akan menanti kekejaman seperti apa yang akan diperlihatkan wajah baru Israel kelak.

Dirilis oleh Pikiran Rakyat.com (05/06/2021), sekitar satu juta warga Palestina telah ditangkap oleh pasukan Israel sejak perang Timur Tengah tahun 1967, menurut laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal. Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan juga menyebutkan semua yang ditahan mengalami beberapa bentuk penyiksaan fisik atau psikologis, pelecehan moral dan perlakuan kejam. Sebanyak 226 tahanan tewas di dalam penjara Israel sejak 1967.

Harapan adanya ‘kebaikan’ dari pergantian pemerintahan di Israel hanyalah ilusi jika dilihat sepak terjang yahudi Israel dalam mencapai visi mendirikan negara Israel itu sendiri. Mereka tak segan-segan merenggut kehormatan perempuan Palestina hingga membunuh siapapun yang tidak ridho dengan visi mereka.

Maka, ketika pemimpin muslim dan dunia mengusulkan solusi untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina dengan pendirian 2 negara, sebagaimana yang diusulkan oleh Amerika dan PBB itu adalah kebodohan dan kesesatan berpikir. Masalahnya adalah Israel itu penjajah dan kaum yang terbuang akibat pembangkangan serta kesombongan mereka kepada Allah. Mereka tak punya hak atas sejengkal pun tanah di Palestina. Jangankan Baitul Maqdis, Tel. Aviv saja bukan milik mereka, sebab mereka sekali lagi hanyalah penjajah yang mengambil tanah kaum Muslim,

Lalu, bagaimana solusi total masalah Palestina? Kepada siapakah ummat Islam bisa berharap?

Jika PBB, Ini mustahil karena PBB adalah organisasi yang justru memberikan persetujuan dan pengakuan terhadap Israel. Faktanya, sampai sekarang PBB tidak pernah sedikitpun memberikan sanksi kejahatan perang yang telah dilakukan oleh AS dan Israel.

Begitupula berharap HAM dan Demokrasi inipun bathil. HAM dan Demokrasi adalah alat barat yang berstandar ganda yang hanya berpihak apabila sang empunya yang mendapatkan masalah dan digunakan untuk menyudutkan kaum muslim. Alhasil Palestina masih tetap dalam era kegelapan penjajahan Israel. Palestina butuh solusi sejati bukan sekedar harapan tak pasti dan kecaman sana sini dari para pemimpin dunia Islam yang sekuler.

Bebaskan Palestina dengan Islam

Berbicara konflik Palestina dan Israel bukan tentang perang saudara, atau hanya terbatas urusan politik, tapi ini adalah tentang agama. Yahudi dengan sangat jelas mendasarkan pilihan mereka pada tanah Palestina berdasarkan agama yang mereka yakini, agama yang mereka perjuangkan, berdasarkan kitab yang mereka pegang dan percaya, Jelasnya, ini penjajahan berdasarkan agama.

Bagi ummat Islam, Yahudi adalah musuh paling sengit bagi kaum Muslim. Mereka yang sudah membuat makar pada waktu yang lalu, senantiasa membuat makar hingga di masa depan. Di akhir zaman Rasulullah sampaikan bahwa kita akan berperang dengan kaum Yahudi.

Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, 'Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia'. Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi."

Hadits di atas sahih, terdapat di antaranya dalam kitab Shahih Muslim no 2922. Juga hadits itu termasuk "bisyarah nubuwah" bahwa berita kenabian tentang masa depan umat manusia. Terutama tentang konflik Muslim dengan Yahudi. Pada puncaknya akan terjadi perang dahsyat antara kedua kelompok karena kezaliman Yahudi yang sudah amat keterlaluan menjajah negeri Palestina,

Bila kita mau jujur melihat pada akar masalahnya, maka kita bisa mengetahui sedari awal bahwa bangkitnya Yahudi sampai mereka mampu mendirikan sebuah Negara Israel karena tekad mereka bersatu mewujudkan cita-citanya. Maka kaum Muslim harus tidak terpecah belah, dan harus disatukan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selama kaum Muslim bersatu dalam agamanya dalam kepemimpinan Khilafah, maka tanah Palestina dan tanah-tanah kaum Muslim yang lain masih bisa dipertahankan, sebab kita mampu melawan dengan fisik.

Sebab bila seperti saat ini, kaum Muslim terpecah-belah dan tidak memiliki kekuatan sebab mereka tidak jadi ummat yang satu. Bukan lagi menjadi umat yang bagai 1 tubuh dalam 1 kepemimpinan Islam. Bahkan tidak mengambil Islam sebagai aturan bernegara dan kehidupan. Seingga mereka (Yahudi dan kafir) bisa bertindak semaunya dan sesukanya.

Wallahu a'lam bishowwab

Post a Comment for "Wajah Baru Israel, Akankah Derita Palestina Berakhir?"