Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KAPITALISME DAN KELEMAHAN PELAYAN TANAH SUCI SELENGGARAKAN HAJI

Tahun kedua Indonesia tidak memberangkatkan jamaah haji ke tanah suci semua terkendala karena pandemi corona virus yang masih menjadi-jadi. Bak setali tiga uang ternyata hal ini juga dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi membatasi kuota haji untuk warga negara dan juga penduduknya. Sebagai respons atas pandemic virus corona yang masih berlangsung, menurut laporan Biro Media Saudi (SPA). Kementerian yang menangani ibadah haji dan umrah menyampaikan hanya Jemaah haji yang berusia 18 sampai 65 tahun yang telah divaksinasi atau diimunisasi virus corona, dan bebas dari penyakit kronis, diizinkan berhaji. Jemaah haji juga dibatasi maksimal 60.000 orang.

Oleh : Deti Murni (Pegiat Opini)

Tahun kedua Indonesia tidak memberangkatkan jamaah haji ke tanah suci semua terkendala karena pandemi corona virus yang masih menjadi-jadi. Bak setali tiga uang ternyata hal ini juga dilakukan oleh Pemerintah Arab Saudi membatasi kuota haji untuk warga negara dan juga penduduknya. Sebagai respons atas pandemic virus corona yang masih berlangsung, menurut laporan Biro Media Saudi (SPA). Kementerian yang menangani ibadah haji dan umrah menyampaikan hanya Jemaah haji yang berusia 18 sampai 65 tahun yang telah divaksinasi atau diimunisasi virus corona, dan bebas dari penyakit kronis, diizinkan berhaji. Jemaah haji juga dibatasi maksimal 60.000 orang.

Menteri Kesehatan Arab Saudi Bapak Tawfiq al-Rabiah juga menyampaikan keputusan ini dibuat untuk menjamin keamanan haji di tengah ketidakpastian terkait virus corona.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Duta besar RI untuk Saudi, Agus Maftul Abegebriel mengatakan tidak ada haji Internasional, jumlah maksimal 60 ribu jamaah, usia 18 sampai 65 tahun.

Khabar yang menyedihkan bagi calon jamaah haji di seluruh dunia, mengapa salah satu dari lima rukun Islam yaitu naik haji bagi yang mampu tidak bisa dilaksanakan? Coba kita runut dari awal permasalahan pandemic corona ini. Penyebabnya karena tidakadanya satu komando/kepemimpinan sehingga keputusan yang diambil masing-masing Negara berbeda-beda. Kita contohkan saja asal muasal pandemic corona ini berasal dari Wuhan, China.

Penangganan wabah yang diajarkan Rasullulah dengan memisahkan yang sehat dengan yang sakit. Lockdown daerah yang terjangkit dan membiarkan daerah yang sehat tetap beraktifitas normal dan memenuhi semua kebutuhan daerah wabah/lockdown.

Tapi hal tersebut tidak dilakukan oleh Negara di dunia bahkan keputusan yang dibuat semakin menjadikan paparan pandemic semakin mewabah. Bahkan negara-negara kapitalis dunia menjadikan wabah ini sebagai jalan untuk meraup materi sebanyak-banyaknya. Dengan menjadikan vaksin sebagai bisnis yang mampu mendapatkan keuntungan yang besar. Nau’dzubillah tidak ada ukhuwah yang ada hanya materi. Apapun jalannya asalkan memberikan untung bagi para kapitalis maka akan dijadikan solusi walaupun mengorbankan masyarakat banyak. Inilah watak pengemban mabda kapitalisme yang sesungguhnya.

Pemerintah Saudi pun mengadopsi paradigma kapitalisme dalam menanggani wabah. Negara ini sama saja menjadi pengekor adidaya kapitalisme sehingga keputusan yang diambil pun tidak berpihak kepada umat. Selayaknya sebagai negara tuan rumah yang menjadi pelayan umat, Arab Saudi mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan umat untuk beribadah haji.

Bagaimana Islam menjadi Solusi Haji di kala Pandemi?

Dalam Islam untuk urusan ibadah tidak mengutamakan materi tapi murni melayani umat untuk beribadah kepada Allah SWT. Daulah Islam akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam seluruh aspek apapun menyakut masalah ibadah ini, baik dari sisi pelayanan, transportasi, logistic dll.

Perhatian dan pelayanan yang diberikan para khalifah kepada para jamaah haji dari seluruh dunia begitu besar. Para jamaah dilayani sebaik-baiknya sebagai tamu-tamu Allah. Pelayan itu dilakukan tanpa ada unsur bisnis, investasi atau mangambil keuntungan dari pelaksanaan ibadah haji. Semua pelayanan dilakukan merupakan bentuk tanggung jawab Negara dan merupakan kewajiban Negara dalam meriayah umat.

Satu kepemimpinan umat hanya ada dalam Daulah Islam yaitu Khilafah Islamiyah kepemimpinan satu komando yang akan meciptakan rahmat bagi seluruh alam. Pembatalan keberangkatan haji hampir di seluruh dunia adalah salah satu kerugian umat akibat tiadanya khilafah. Syi’ar Islam dan kewajiban muslim untuk berhaji tidak dapat ditunaikan, penyebabnya adalah kesalahan penanganan global terhadap pandemic. Dalam daulah Islam Khalifah/pemimpin adalah Raa’in (pengurus) dan Junnah (pelindung) bagi umat.

Ada baiknya para pemimpin dunia Islam membaca sejarah bagaimana para khalifah sejak masa khulafaur Rasyidin sangat memperhatikan urusan penyelenggaraan haji, mereka melayani para peziarah haji sebaik-baiknya. Sehingga para jamaah dapat khusuk beribadah.

Jika kepemimpinan saat ini menggunakan paradigma Islam dalam mengurus umat maka solusi yang diambil adalah upaya yang dapat menjamin kesehatan, keselamatan dan keamanan. Sehingga akan terciptalah ketenangan hidup bermasyarakat, bernegara bahkan akan memberikan rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu’alam bis-shawwab

Referensi:

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20210613100254-120-653665/arab-saudi-gelar-haji-2021-hanya-untuk-60-ribu-jemaah-lokal

https://www.merdeka.com/dunia/arab-saudi-sempat-pertimbangkan-larang -jemaah-haji-2021.html

https://youtu.be/9-eR7c28RdQ

Post a Comment for "KAPITALISME DAN KELEMAHAN PELAYAN TANAH SUCI SELENGGARAKAN HAJI"