Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam Solusi Atasi Pandemi

Penanganan Covid-19 di negara Indonesia dinilai buruk oleh sejumlah pihak. Selama kurun waktu dua tahun pandemi Covid-19, belum tampak tanda-tanda keberhasilan penanganan pandemi ini. Dengan meningkatkan angka positif yang semakin tinggi, pemerintah dinilai gagal dalam mengurusi rakyat seperti dalam memberikan keselamatan bagi rakyat. Negeri ini masih mengalami angka positif Covid-19 yang tidak sedikit. Maka, dikhawatirkan saat ini berkurang tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemimpin. Diduga muncul penilaian di tengah masyarakat bahwa virus Covid-19 tersebut adalah rekayasa politik untuk mengambil keuntungan dari adanya pandemi.

Oleh : Rohmawati | Member Komunitas Aktif Menulis

Pandemi kian menjadi-jadi, berbagai upaya ditempuh oleh pemerintah dalam mengatasi pandemi. Mulai dari penerapan sosial distancing, rapid, swab hingga didatangkannya obat-obatan yang diimpor dari luar negeri. Namun sayangnya, hal tersebut tidak membuat Covid-19 segera angkat kaki dari negeri Indonesia.

Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang angka kenaikan positif Covid-19 meningkat tinggi. Seperti halnya yang baru-baru ini terjadi. Berita yang dilansir dari CNN Indonesia, menyebutkan bahwa Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dalam enam hari terakhir menemukan kenaikan kasus positif virus corona. Selain penambahan kasus harian, kasus aktif juga mengalami lonjakan dalam sepekan terakhir. Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi satgas penanganan Covid-19, Dewi Nur Aisyah menjelaskan kasus aktif merupakan warga yang terpapar virus corona yang masih menjalani perawatan di rumah sakit maupun isolasi mandiri. (cnnindonesia, 16/05/21).

Penanganan Covid-19 di negara Indonesia dinilai buruk oleh sejumlah pihak. Selama kurun waktu dua tahun pandemi Covid-19, belum tampak tanda-tanda keberhasilan penanganan pandemi ini. Dengan meningkatkan angka positif yang semakin tinggi, pemerintah dinilai gagal dalam mengurusi rakyat seperti dalam memberikan keselamatan bagi rakyat. Negeri ini masih mengalami angka positif Covid-19 yang tidak sedikit. Maka, dikhawatirkan saat ini berkurang tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemimpin. Diduga muncul penilaian di tengah masyarakat bahwa virus Covid-19 tersebut adalah rekayasa politik untuk mengambil keuntungan dari adanya pandemi.

Di samping itu, pandemi ini berdampak pada kehidupan rakyat. Salah satunya berdampak pada sistem perekonomian. Terutama untuk rakyat yang tidak memiliki sumber penghasilan tetap. Dan hal tersebut semakin menambah kesengsaraan rakyat. Terlebih saat diberlakukannya kebijakan penutupan sejumlah objek wisata. Hal tersebut mendapat kecaman penolakan dari sebagian pihak yang dinilai telah dirugikan atas kebijakan tersebut.

Seorang pedagang dan pengelola wahana permainan di wisata tersebut merasa dirugikan. Seperti dilansir dari Viva, pedagang, pengelola wisata hingga Pengelola wahana permainan di pantai Carita, Kabupaten Pandeglang Banten berdemonstrasi menolak penutupan objek wisata. Mereka menilai kebijakan Pemprov Banten plin-plan. (Viva.id.com, 16/05/21).

Penutupan objek wisata yang diterapkan merupakan salah satu langkah yang diambil dalam mencegah penyebaran Covid-19 di Indonesia. Termasuk juga pelarangan mudik kepada rakyat. Namun sayangnya, langkah tersebut belum memberikan pengaruh yang signifikan.

Namun di sisi lain, ada kondisi yang tidak sejalan dengan adanya pandemi. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal mempertanyakan sikap pemerintah terhadap masuknya ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China ke Indonesia secara bebas saat Hari Raya Idul Fitri. Padahal di waktu yang sama pemerintah memberlakukan larangan mudik bagi warganya. (sindonews, 16/05/21).

Penerapan solusi dalam sistem Kapitalisme-Sekuler saat ini tidak memberikan penyelesaian yang tuntas. Hal inilah yang pembeda antara hukum yang dibuat oleh Allah Swt dengan hukum yang dibuat berdasarkan hawa nafsu. Padahal Allah telah memperingatkan kepada manusia, bahwa hukum yang dibuat oleh manusia hanya akan mengakibatkan kerusakan demi kerusakan yang akan terus terjadi. Kesejahteraan, kedamaian dan keadilan yang dijunjung tinggi dalam Demokrasi tidak mampu terwujud di kehidupan rakyat. Sebab, keadilan maupun kesejahteraan hanya akan terwujud ketika syariat Islam menjadi pengatur kehidupan manusia.

Sebagaimana halnya yang di terapkan pada masa kepemimpinan Islam. Pada masa wabah yang menyerang salah satu wilayah negeri Islam saat itu, Khalifah Umar bin Khattab langsung mengambil kebijakan dalam menghentikan pintu penyebaran wabah tersebut sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah Saw, dengan menutup seluruh akses keluar masuknya seseorang dari suatu negeri.

Rasulullah saw bersabda, "Wabah Thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu." (HR. Bukhari - Muslim).

Penanganan secara cepat dan tanggap terhadap suatu permasalahan dalam negeri Islam dilakukan oleh Khalifah Umar Bin Khattab pun Khalifah lainnya. Mereka mengambil suatu hukum yang bukan berdasarkan hawa nafsunya melainkan dari hukum yang bersumber pada Al-Qur'an dan As-sunnah. Sehingga dengan ini, penyelesaian permasalahan wabah dalam negeri tidak hanya cukup dari satu sisi. Melainkan harus pada akar permasalahan itu sendiri yakni akibat tidak diterapkannya sistem Islam dalam kehidupan.

Wallahu a'lam bishosawab

Post a Comment for "Islam Solusi Atasi Pandemi"