Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Alami Krisis Pangan, Apa yang Dunia Butuhkan?

Sistem kapitalisme yang diadopsi pada sebagian besar negara di dunia ini terbukti telah gagal menuntaskan masalah krisis pangan. sistem ini terbukti gagal dalam meniscayakan terciptanya kesejahteraan bagi rakyat. Karena orientasi dalam sistem ini hanya sebatas untuk mendapatkan keuntungan materi saja, tanpa peduli akibat yang akan ditimbulkan. Serta tidak mengutamakan kemaslahatan bagi masyarakat di dalamnya.

Apa yang ada di benak kita ketika ditanya mengenai harga bahan pokok? Seperti beras, cabai, sayuran, telur dll. Mungkin bagi kaum hawa hal ini sudah tidak asing lagi. Hampir tiap tahun harga bahan pokok mengalami kenaikan. Adapun harga turun, hal itu tidak akan berlangsung lama. Kenaikan tersebut diiringi dengan ketersediaan bahan makanan yang terbatas. Sehingga masyarakat semakin kesulitan mendapatkannya. Kondisi ini semakin parah dengan adanya pandemi covid-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun ini.

Jika kita membaca berita akhir tahun lalu, seorang gadis berusia 5 tahun di India, meninggal karena kelaparan lantaran orang tuanya tidak dapat bekerja selama pandemi covid-19 dan juga tidak menerima bantuan pemerintah (kompas.com, 16/09/2020). Sungguh malang nasibnya.

Dilansir dari lenterasultra.com, Program Pangan Dunia (WFP) menuturkan bahwa jutaan warga di Myanmar kini sedang menghadapi ancaman krisis pangan dan kelaparan ekstrem. Ekonomi dan sistem perbankan nasional negeri itu telah lumpuh sejak perebutan kekuasaan militer yang mendorong pemimpin sipil Aung San Suu Kyi lengser pada februari lalu. Padahal ketika keadaan normal, negara ini mampu mengekspor berbagai bahan makanan pokok, seperti beras, kacang-kacangan serta buah-buahan. Namun, kini masyarakat disana terancam menghadapi krisis pangan.

Tidak hanya di Myanmar. Pada negara-negara yang sedang terjadi konflik seperti Suriah pun tak luput dari ancaman krisis pangan. Seorang pria di Kota Zabadani, Suriah. Mengatakan bahwa ia harus membagi potongan roti dengan keluarganya, lalu dicelupkan ke dalam teh agar terlihat lebih besar (msn.com, 31/05/2021).

Berdasarkan laporan Human Rights Watch, konflik bersenjata selama satu dekade tersebut telah menyebabkan kekurangan gandum parah di Suriah akibat lahan-lahan pertanian semakin sedikit. Selain itu, banyak pula toko roti yang hancur dan tidak dapat beroperasi selama konflik.

Akibat Penerapan Sistem Kufur

Sistem kapitalisme yang diadopsi pada sebagian besar negara di dunia ini terbukti telah gagal menuntaskan masalah krisis pangan. sistem ini terbukti gagal dalam meniscayakan terciptanya kesejahteraan bagi rakyat. Karena orientasi dalam sistem ini hanya sebatas untuk mendapatkan keuntungan materi saja, tanpa peduli akibat yang akan ditimbulkan. Serta tidak mengutamakan kemaslahatan bagi masyarakat di dalamnya.

Terjadinya penggunaan lahan yang tidak sustainable, sering terjadi dalam sistem kapitalisme ini. Hal tersebut mengakibatkan kurang berfungsinya lahan dengan baik. Ditambah banyaknya pelanggaran yang dilakukan para pemilik modal dalam mengelola Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) yang notabene telah ditetapkan oleh pemerintah setempat. Dampak dari adanya berbagai pelanggaran tersebut adalah terjadinya kerusakan pada tanah, alam hingga yang sekarang kita rasakan adalah dampak negatif dari kerusakan iklim. Selain merusak alam, ketidak bijaksanaan pemilik modal dalam pengelolaannya, berakibat pada tidak dapat dimanfaatkan nya lahan tersebut oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Masayarakat terhalang oleh regulasi yang ditetapkan pemerintah sendiri. Pemerintah pun kurang tegas dalam menindak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan para pemilik modal.

Pada dasarnya orientasi yang ditetapkan dalam sistem ini hanya berpihak pada kekuatan pemilik modal saja. Sehingga tidak heran jika akan tejadi kesenjangan sosial yang sangat tinggi di kalangan masyarakat. Hal tersebut dapat kita lihat dengan banyaknya saudara kita di negeri ini sendiri misalnya, di Suriah, India dan negara-negara lain yang terancam mengalami krisis pangan. Krisis tersebut terjadi ditengah majunya peradaban segelintir negara kapitalis yang memiliki kelebihan pangan. Tidak kah hal tersebut sangat kentara?

Lebih buruk lagi saudara-saudara kita di daerah konflik seperti Suriah, Palestina, Yaman dan yang lainnya. Mereka tidak hanya mengalami krisis pangan akibat blockade yang dilakukan penjajah, sehingga distribusi makanan semakin sulit. Namun mereka juga tertekan akibat serangan senjata yang dilakukan penjajah. Dapatkah kita merasakannya?

Mari kita menilik sedikit kisah seorang khalifah pada masa setelah wafat nya Rasulullah SAW. beliau adalah khalifah Umar Bin Khattab. Salah seorang khalifah yang terkenal akan kedermawaannya. Dimana ia pada waktu malam hari sedang berkeliling kota untuk memantau situasi. Di tengah perjalanan ia menemukan seorang wanita sedang menyalakan perapian. Disampingnya terdengar tangisan seorang anak dari dalam tenda.

Sang khalifah bertanya apa yang sedang ia masak, sembari melihat ia dikelilingi oleh anak-anak yang menangis. Lalu wanita itu menjawab, bahwa ia sebenarnya sedang memasak batu dengan air. Dikarenakan bahan makanan yang ia miliki sudah habis. Dan ia mensiasati agar anak-anak nya tidak menangis lagi, karena melihat ibunya sedang memasak sesuatu.

Melihat hal tersebut. Sang khalifah segera menuju Baitul Maal dan memberikan beberapa bahan makanan pokok langsung kepada wanita tersebut.

Sulitnya Mencari Orang Miskin

Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia mampu menjadikan Baitul Maal selalu surplus. Ia memerintahkan Yazid bin Abdurrahman, seorang Gubernur Baghdad, untuk membagikan harta Baitul maal. Namun Yazid megatakan bahwa hampir semua orang telah mendapatkannya. Akhirnya Umar memerintahkan Yazid bin Abdurrahman untuk mencari orang yang sedang berhutang. Namun, setelah dilakukan pencarian, sudah Yazid temui beberapa orang dan membayarkan hutangnya. Namun, harta di Baitul maal masih saja surplus. Akhirnya ia memerintahkan Yazid untuk mencari orang yang sedang usaha untuk mendapatkan modal. Ia memberikan kebijakan untuk memberikan modal tersebut tanpa harus memngembalikannya.

Begitulah jika seorang pemimpin negara menerapkan sistem Islam secara keseluruhan. Maka, nisacaya akan berdampak positif bagi warga negara nya.

Solusi Krisis Pangan Dunia

Mewujudkan kesejahteraan rakyat merupakan impian semua pemimpin negara. Namun, apakah semua pemimpin mampu memastikan warga negaranya tidak mengalami krisis pangan? Tentu hal tersebut niscaya dapat terealisasi, tanpa adanya junnah (perisai) umat yang mampu menerapkan sistem terbaik di dunia ini. Sistem yang mampu memberikan rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya manusia, namun alam semesta pun akan mendapatkan rahmatNya.

Apakah sistem yang sekarang ini banyak diterapkan oleh berbagai negara di dunia adalah solusinya? Tentu saja bukan. Karena yang terjadi adalah dunia kini tengah mengalami krisisis pangan. Maka, perlu adanya sistem alternatif yang mampu menuntaskan masalah tersebut.

Islam dalam sejarah nya, hampir tidak ada warga negara yang mengalami krisis pangan. Meskipun ada, jumlah nya sangat sedikit. Hal tersebut terjadi karena pada masa peradaban islam, khalifah menjalankan hukum-hukum Islam secara keseluruhan dalam setiap aspek kehidupan. Sistem yang diwariskan oleh Rasulullah SAW. ini terbukti mampu meniscayakan kesejahteraan masyarakat. Sistem Khilafah dimana seorang pemimpin (khalifah) tunduk patuh terhadap hukum-hukum Islam. Maka, apakah kita akan terus berkubang dalam sistem kufur sekarang ini? Sudah saatnya berjuang bersama mewujudkan Islam rahmatan Lil’alamiin dalam bingkai khilafah Islamiyah.

Wallahua’lam Bishowab.

Penulis: Dewi Wulansari | Muslimah Pekalongan

Post a Comment for "Alami Krisis Pangan, Apa yang Dunia Butuhkan?"