Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kecaman Berujung Percuma, Palestina Butuh Jihad dan Khilafah

Meminta bantuan pada PBB sama seperti meminta tolong pada gembong penyokong kejahatan. Bagaimana tidak? PBB atau United Nations yang berdirinya diprakarsai oleh Amerika—menggantikan LBB (Liga Bangsa-Bangsa) yang didirikan oleh Inggris sebagai biang kerok terpecahnya wilayah-wilayah Khilafah Ustmani dalam perjanjian Sykes-Picot dan menguasai wilayah Palestina—seolah-olah menjadi penengah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel. Nyatanya, merekalah yang telah melakukan perampokan pertama kali terhadap Palestina. Penjajahan pertama yang dilakukan oleh PBB sejak awal berdirinya telah membagi dua wilayah Palestina dengan Israel. Inilah usulan dari PBB (UN Partition Plan) terhadap konflik yang terjadi pada tahun 1947 dan menjadi awal bagi Palestina untuk tidak diakusi sebagai sebuah negara oleh dunia.

Oleh Retno Purwaningtias (Aktivis Muslimah)

Di malam suci bulan Ramadan, Suasana khusuk berubah menjadi ancaman, Ketakutan menjadikan gelap semakin mencekam, Rudal balistik menghujam tanpa ampunan seakan reruntuhan menjadi makam

Begitulah suasana sepuluh malam terakhir Ramadan di Palestina. Yahudi Isrel kembali mempertontonkan kebiadabannya. Kejahatan yang dilakukan oleh mereka tidaklah dimulai hanya dalam satu malam. Tindakan jahanam yang kita saksikan bersama merupakan rutinitas dari kekejaman yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Kembali mereka menyerang jemaah Masjidilaqsa yang mengakibatkan banyak warga yang terluka, termasuk para wanita dan anak-anak pada 8 Mei lalu.

Hingga pada 18 Mei, militer Israel terus melancarkan serangannya terhadap Palestina. Dilansir dari news.detik.com, (18/5/2021) dari Aljazeera, serangan militer Israel semakin masif dilakukan pasca Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa serangan terhadap Palestina belum berakhir. Tercatat ada 212 warga Palestina yang kehilangan nyawa dan 61 di antaranya adalah anak-anak.

Sama seperti pemimpin-pemimpin negara lainnya, hanya aksi kecam dan ucapan belasungkawa yang bisa dilakukan Indonesia. Wakil Katua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzily, meminta PBB dan OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) untuk turun tangan untuk menyelesaikan peristiwa berdarah ini.

Bagai mimpi di siang bolong. Meminta bantuan pada PBB sama seperti meminta tolong pada gembong penyokong kejahatan. Bagaimana tidak? PBB atau United Nations yang berdirinya diprakarsai oleh Amerika—menggantikan LBB (Liga Bangsa-Bangsa) yang didirikan oleh Inggris sebagai biang kerok terpecahnya wilayah-wilayah Khilafah Ustmani dalam perjanjian Sykes-Picot dan menguasai wilayah Palestina—seolah-olah menjadi penengah untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel. Nyatanya, merekalah yang telah melakukan perampokan pertama kali terhadap Palestina. Penjajahan pertama yang dilakukan oleh PBB sejak awal berdirinya telah membagi dua wilayah Palestina dengan Israel. Inilah usulan dari PBB (UN Partition Plan) terhadap konflik yang terjadi pada tahun 1947 dan menjadi awal bagi Palestina untuk tidak diakusi sebagai sebuah negara oleh dunia.

Sehingga, akan menjadi hal yang sia-sia bila menggantungkan diri pada resolusi-resolusi PBB untuk menyelesaikan masalah Palestina, karena tentu saja PBB tidak akan pernah menguntungkan umat Islam di Palestina. Hal ini diperkuat lagi dengan pernyatan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang menyatakan bahwa dirinya menolak bergabung dengan pemimpin dunia untuk mengecam Israel atas serangan yang dilakukan terhadap Palestina. Dalam pernyataan tersebut, Gedung Putih kembali menegaskan Joe Biden tetap mendukung apa yang dilakukan Israel karena merupakan upaya untuk mempertahankan diri. (news.detik.com, 18/5/2021)

Dengan melihat fakta ini, maka, Kejahatan yang dilakukan Israel terhadap Palestina tidak layak direspon hanya dengan kecaman, apalagi meminta pertolongan pada PBB dengan kesepakatan-kesepakatan perdamaian. Adanya konspirasi zionisme-imperialisme, jelas perdamaian apapun yang digagas oleh PBB pimpinan Amerika Serikat tak akan pernah menguntungkan Palestina, karena perdamaian yang dilakukan penuh dengan drama dan kepura-puraan. Justru PBB adalah organisasi yang membidani kelahiran Israel, dan faktanya hingga hari ini PBB sama sekali tidak pernah memberikan sanksi kejahatan perang yang telah dilakukan oleh Israel terhadap Palestina.

Perampasan tanah milik Palestina oleh Israel yang didukung oleh Inggris, Amerika dan PBB menjadi pangkal persoalan Palestina. Oleh sebab itu, selama Israel masih berdiri, Palestina tidak akan pernah bebas. Israel sebagai penjajah harus diusir dari tanah Palestina. Maka, almarhum Syaikh Ahmad Yasin memberikan dua pilihan alternatif untuk menyelesaikan persoalan Palestina. Pertama, menyerah kalah dan hidup di bawah penjajahan Israel atau kedua, terus melawan jika menginginkan kemerdekaan dan mendapatkan kehidupan yang mulia.

“Dan janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka ketahuilah mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu masih dapat mengharapkan dari Allah apa yang tidak dapat mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (terjemah QS. An Nisa: 104)

Persoalannya sekarang hanyalah terletak pada keberanian negara-negara Muslim, termasuk Indonesia yang mana Islam menjadi entitas mayoritasnya. Negeri-negeri Muslim harus menghilangkan sekat-sekat nasionalisme untuk bisa mengusir penjajah Israel dari bumi jihad Palestina. Nasionalisme yang telah terlanjur diadopsi oleh kaum muslim telah menjadikan urusan Palestina bukan menjadi urusan negaranya kecuali hanya dengan memberikan bantuan kemanusiaan berupa logistik serta kecaman-kecaman yang percuma. Percuma mengobati para korban berkali-kali namun masih membiarkan Israel dan bom-bom mereka tak berhenti melukai rakyat Palestina. Percuma mengirimkan suplai makanan bila Israel laknatullah sebagai penjajah masih dibiarkan berbuat kebengisan di bumi Palestina.

Palestina membutuhkan solusi yang fundamental, yaitu dengan mengirimkan pasukan militer negeri-negeri muslim yang bersatu untuk mengusir Israel dari Palestina.

Dengan mengirimkan pasukan militer tentara-tentara muslim akan membuat mereka gentar. Bila sekadar melakukan kecaman, kutukan dan belasungkawa tidak akan pernah bisa menghentikan kejahatan Israel. Ini bukanlah sebuah solusi yang tabu ataupun mustahil bila umat Islam dunia berada dalam satu kepemimpinan Islam, yaitu Khilafah.

Hanya Khilafah yang bisa menjaga dan melindungi Palestina dari negara-negara yang ingin merampas dengan halus tanah suci dari umat Muslim. Sebagaimana ketika Khilafah Utsmani masih berdiri dan dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II, didatangi oleh oleh Theodore Hertzl (bapak zionis) dengan iming-iming akan membantu membayar utang Khilafah Utsmani yang pada saat itu sedang membengkak, asal tanah Palestina diberikan untuk Yahudi. Tentu saja tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh Sultan Abdul Hamid II. Sultan Hamid memilih untuk tidak mengkhianati amanah dan kepercayaan umat Muslim.

Hanya saja persatuan umat Muslim dan bangkitnya Khilafah bukanlah hadiah yang bisa ditebus dengan harga yang murah, maka kita harus membuktikan kepada Allah bahwa kita layak untuk mendapatkannya. Sebab bila umat Muslim terus terpecah-pecah seperti saat ini, maka kita tidak akan pernah memiliki kekuatan karena tidak menjadi umat yang satu, saling berselisih hingga Allah mencabut ketakutan dalam diri musuh-musuh Islam, membuat mereka bisa seenaknya bertindak semaunya dan sesuka hatinya seperti yang dilakukan Israel dan negara-negara Barat terhadap umat Islam hari ini, khususnya terhadap Palestina.

"Ketika Pelestina diusik, kita tak boleh berbisik. Kita harus berisik. Karena diamnya kita, pesimisnya kira sebagai Muslim adalah saham keberhasilan bagi musuh-musuh Islam. Ketika fakta diputarbalikkan media, kita harus bersuara! Maka, jangan pernah bosan membela Palestina, karena zionis tak pernah bosan menghancurkan Al Aqsha." #savePalestine

Wallahualam bissawab.

Post a Comment for "Kecaman Berujung Percuma, Palestina Butuh Jihad dan Khilafah"