Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam Memberi Kemuliaan, Bukan Sekedar Memberdayakan Perempuan

Perempuan berdaya dalam Islam bukan diukur dari seberapa banyak mereka bisa menghasilkan materi, melainkan seberapa berhasil mereka dalam menjalankan tugasnya yang utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bait), sekaligus bagaimana kontribusinya dalam dakwah dalam memperjuangkan izzul Islam wal muslimin.

Wanita adalah Tiang Negara”

Berbicara tentang kaum perempuan memang selalu aktual, menarik dan tak pernah ada habisnya, sama halnya sewaktu kita membicarakan tentang tahta dan harta. Hal ini disebabkan perempuan itu pada suatu saat dapat menjadi “Ratu Dunia”, tapi pada saat yang lain dapat menjadi “Racun Dunia”. Kesemuanya sejatinya bermuara pada bagaimana masyarakat dan perempuan itu sendiri mampu memposisikan dan menjadikan dirinya sendiri di tengah kehidupan masyarakat.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, menyebutkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) perempuan tahun 2019 masih berada di bawah laki-laki yaitu 69,18, sedangkan nilai IPM laki-laki adalah 75,96. Rendahnya IPM perempuan ini berkontribusi terhadap rendahnya IPM nasional (71,92). Konstruksi sosial budaya di masyarakat menurutnya ikut menyumbang rendahnya kualitas perempuan Indonesia. Kondisi ini berkaitan dengan konstruksi sosial patriarki yang terbentuk [dari] cara pandang, sejarah, ideologi, dan budaya yang dilakukan secara turun menurun. Posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki, padahal perempuan merupakan kekuatan bangsa.

Pendukung kesetaraan gender memang selalu menjadikan narasi ketimpangan gender dan patriarki sebagai biang kerok munculnya problem perempuan, mulai soal rendahnya kualitas mereka, subordinasi yang menimpa mereka, hingga merebaknya kemiskinan di tengah-tengah masyarakat. Narasi ini bahkan terus digaungkan secara global oleh negara-negara adidaya melalui PBB dan diadopsi negara-negara di dunia ketiga, termasuk Indonesia. Targetnya, agar segera terbangun apa yang mereka sebut sebagai “masyarakat equal” yang dicirikan dengan meningkatnya partisipasi kaum perempuan di sektor publik, khususnya sektor ekonomi dengan dalih menyelesaikan problem kemiskinan.

Propaganda kesetaraan gender dan semua turunannya adalah propaganda yang konspiratif dan berbahaya. Semua terminologi yang digaungkan dengan dalih memajukan perempuan hakikatnya adalah racun berbalut madu. Mereka bermaksud menjauhkan perempuan dari peran politik dan strategisnya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga yang hakikatnya merupakan arsitek peradaban cemerlang. Mereka paksa kaum perempuan memberi solusi atas problem kemiskinan yang bukan tanggung jawab mereka, melainkan tanggung jawab negara yang terlanjur menerapkan sistem rusak, yakni sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal yang memproduksi kezaliman dan kemiskinan massal.

Saat ini, perempuan tak lagi didorong untuk menjadi berdaya di luar rumah. Mereka boleh tetap di rumah, tetapi mereka harus bekerja. Karena dengan bekerjalah mereka dinilai berdaya. Tanpa bekerja, mereka hanya dianggap sebagai beban ekonomi bagi keluarga, masyarakat, dan Negara. Padahal, proyek-proyek pemberdayaan ekonomi perempuan justru membuat beban kaum perempuan menjadi berlipat ganda. Sebab, mendidik generasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Para ibu butuh fisik dan mental yang kuat, serta ilmu dan jaminan finansial yang memadai, terlebih di tengah sistem yang serba rusak seperti sekarang ini. Masifnya propaganda semacam ini justru membuktikan sistem sekuler demokrasi kapitalis neoliberal yang diterapkan, justru sangat tak ramah perempuan. Bahkan, sistem ini terbukti telah mengeksploitasi kaum perempuan dan menghinakan kedudukan mereka sebatas mesin penggerak roda perekonomian, yang sejatinya dikuasai segelintir pemilik modal.

Hari ini, benturan peradaban sedang masuk masa klimaksnya. Gaung seruan untuk kembali menerapkan syariat Islam dalam naungan sistem politik global bernama Daulah Islam terus bertambah di berbagai level umat. Wajar jika para kapitalis pemegang kendali dunia merasa terancam, hingga mereka melakukan berbagai upaya yang bisa memberangus suara-suara kebangkitan yang berbasis ideologi Islam. Salah satu upaya mereka adalah melakukan berbagai serangan pemikiran demi meracuni benak-benak kaum muslimin, terutama kaum perempuan untuk melepas tanggung jawabnya terhadap Islam dan masa depan agamanya. Mereka terus menutup-nutupi kebobrokan ideologi dan sistem hidup mereka dengan narasi-narasi yang mematikan.

Padahal, profil kaum wanita dalam pandangan Islam sangat istimewa. Jika dihubungkan dengan tiang negara, maka kaum wanita ini disebut sebagai penyokong yang kuat. Ungkapan wanita tiang negara adalah sebagai bentuk pokok kekuatan dan penghidupan. Namun makna ini bukan semata-mata sebagai penyokong tunggal moralitas bangsa ini. Tiang akan menjadi kuat jika didukung dengan komponen yang lain seperti tembok, pondasi dan lainya. Perempuan berdaya dalam Islam bukan diukur dari seberapa banyak mereka bisa menghasilkan materi, melainkan seberapa berhasil mereka dalam menjalankan tugasnya yang utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummun wa rabbatul bait), sekaligus bagaimana kontribusinya dalam dakwah dalam memperjuangkan izzul Islam wal muslimin.

Islam telah memberikan hak perundang-undangan kepada wanita sama seperti memberikan kepada pria. Kaum wanita boleh menguasai hak milik, hak jual beli, hibah, mengadakan perjanjian dan lain sebagianya. Di zaman Rasulullah saw, wanita pun ikut berhijrah dengan tujuan politik. Berjihad dalam peperangan dengan memberi minum para prajurit, melayani, mengobati orang terluka, serta mengantarkan orang terluka dan terbunuh ke Madinah.

Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam juga merupakan rahmat bagi wanita. Oleh karena itu tidak ada ketentuan dalam Islam yang dapat dipahami sebagai larangan keterlibatan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Justru menjadi kewajiban bersama antara laki-laki dan perempuan untuk terlibat dalam dakwah dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

Islam yang norma-normanya berasal dari wahyu Ilahi, telah menempatkan perempuan pada posisi yang sangat terhormat dan mulia sesuai dengan kodrat dan tabiatnya, setara dengan kaum laki-laki dalam masalah kemanusiaan dan hak-haknya. Hukum Islam sebagai rule and way of life untuk mengimplementasikan nilai-nilai keislaman senantiasa bertujuan untuk mewujudkan kehidupan yang thayibah dan hasanah, penuh kemaslahatan yang indikasinya antara lain berupa keselamatan, kesehatan, ketentraman, kesejahteraan, kebahagiaan dan tentu saja kemajuan.

Post a Comment for "Islam Memberi Kemuliaan, Bukan Sekedar Memberdayakan Perempuan"