Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Gencatan Senjata, Fatamorgana Damai Israel-Palestina

Khianat, brutal dan Licik. Julukan yang pantas disematkan untuk Yahudi Israel. Ulahnya yang selalu melanggar perjanjian/kesepakatan telah menjadi tabiatnya.

Oleh : Nita Savitri (Pemerhati Kebijakan Publik, anggota Revowriter-WCWH)

Khianat, brutal dan Licik. Julukan yang pantas disematkan untuk Yahudi Israel. Ulahnya yang selalu melanggar perjanjian/kesepakatan telah menjadi tabiatnya.

Beberapa jam kesepakatan gencatan senjata pada Jum'at (21/5), terjadi penyerangan kembali terhadap Masjid Al-Aqsha. Militer Israel menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah menunaikan salat Jumat (CNBC, 21/5/21).

Dari pihak Israel, Juru bicara Polisi Israel Micky Rosenfeld menuduh balik warga Palestina. Mereka berdalih petugas menjadi sasaran warga Palestina yang melempar batu dan memulai tindakan penindasan kerusuhan. Sehingga polisi melemparkan granat ke sekelompok warga Palestina yang berbaris. Akibatnya 20 orang Palestina terluka, dan dua di antaranya dilarikan ke rumah sakit (Republika, 21/5/21).

Gencatan senjata Hamas-Israel diberlakukan pada Jumat (21/5) yang diinisiasi Mesir sebagai penengahnya disambut banyak negara. Tercatat Sudan, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, termasuk Indonesia dan negeri muslim yang tergabung dalam OKI pun memilih opsi ini demi terjaganya perdamaian dua negara.

Hal itu tercapai setelah pertempuran berlangsung selama 11 hari, yakni sejak 10 Mei. Setidaknya 248 warga Gaza, sekitar 65 di antaranya anak-anak, dilaporkan tewas. Sementara Israel mencatatkan setidaknya 12 korban jiwa akibat serangan roket Hamas (Republika, 21/5/21)

Akar Konflik Yahudi Israel-Palestina

Konflik berkepanjangan yang belum menemui solusi tepat, hampir 100 tahun terjadi. Bermula dari keserakahan Yahudi yang menginginkan pendirian negara di atas tanah yang terjanjikan (Palestina). Palestina waktu itu masih menjadi bagian dari kekuasaan Ottoman/Khilafah Islam Turki Utsmani. Penolakan secara tegas dilakukan oleh Sultan Hamid II, ketika Hetzl (Pendiri negara Yahudi) berniat membeli sepetak tanah di Palestina (Detik.news, 24/5/21)

Palestina merupakan tanah kharaj, milik kaum muslimin. Setelah dibebaskan dari kekufuran di zaman Khalifah Umar bin Khattab (637 M). Kunci Yerussalem diserahkan oleh Uskup Nasrani waktu itu, Shopronius. Dibuat juga perjanjian Umariyah yang menyatakan tidak diijinkan nya kaum Yahudi untuk bermalam/ tinggal di wilayah Palestina. Hanya kaum muslim dan Nasrani yang diberi ijin tinggal. Hal ini dipertahankan sampai Khilafah terakhir di Turki.

Sampai akhirnya Khilafah berhasil diruntuhkan di tahun 1924 oleh Yahudi antek Inggris Mustafa Kemal. Semenjak itu, Palestina dan semua wilayah bekas Khilafah dikuasai oleh Inggris, sebagai negara yang menang Perang Dunia I. Yahudi pun diberi ijin untuk mendirikan negara di wilayah Palestina melalui kesepakatan Balfour atas ijin Liga Bangsa-Bangsa (kini PBB). Israel pun berhasil mempunyai negara pada 14 Mei 1948.

Hingga sekarang, permasalahan Yahudi Israel dan Palestina belum kunjung usai. Terkatung-katung dari perang, diplomasi, dan perang kembali dalam mempertahankan wilayahnya yang tinggal secuil.

Penyerangan terbaru, militer Israel pada 10 Mei 2021 di kawasan Masjid Al-Aqsha kemarin. Perebutan wilayah di kawasan Syekh Jarrah yang ditempati oleh kaum muslim, tetapi diaku milik kaum Yahudi Israel. Padahal kawasan Syekh Jarrah berada di wilayah Yerussalem Timur. Yerussalem yang oleh PBB pun diaku menjadi zona internasional. Kota suci bagi kaum muslim, nasrani dan Yahudi.

Dukungan Adidaya terhadap Yahudi Israel

Sudah menjadi rahasia umum, adanya dukungan negara adidaya (USA, Inggris, Prancis) terhadap kaum yang dilaknat Allah dalam Al-Qur'an ini. Terbukti dari sejak pendirian negara Yahudi yang mendapat restu dari LBB atas dorongan Inggris.

Setelah perang dunia ke-2, USA menggantikan Inggris dan sekutunya menjadi negara adidaya. LBB pun diganti menjadi PBB. Melalui mandat PBB inilah, Palestina dibagi menjadi dua pada tahun 1947. Antara Yahudi Israel dengan bangsa Arab Palestina. Sementara Yerussalem dijadikan sebagai zona internasional.

Meski sudah dibagi secara internasional, Israel ingin menguasai Palestina secara total. Terbukti berbagai perang antar keduanya, menjadikan semakin sempit wilayah kaum muslim. PBB dan negara adidaya hanya mengecam dan meminta penghentian penyerangan, sementara perampasan wilayah tetaplah dibiarkan.

Maka sangat mustahil mengharapkan penyelesaian kasus Palestina-Israel ada di tangan mereka. Ide perdamaian dua negara, merupakan upaya legalisasi Yahudi Israel berada di wilayah milik kaum muslimin, Palestina.

Solusi Hakiki Palestina

Bukan dengan jalur diplomasi maupun gencatan senjata. Hal ini karena sama dengan mengakui keberadaan Yahudi di wilayah kaum muslim. Selain memberi kesempatan bagi Yahudi Israel untuk memulihkan kekuatan setelah perang. Sudah menjadi tabiat Yahudi Israel akan kembali melanggar perjanjian dan terus merampas wilayah kaum muslimin.

Fakta bahwa negeri-negeri muslim saat ini tidak disatukan dalam satu kepemimpinan, membuat mereka lemah. Tidak berdaya menghadapi kesatuan negara adidaya yang melindungi Yahudi Israel.

Kaum muslimin seperti kehilangan induknya ketika runtuhnya kesatuan kepemimpinan. Tidak ada pelindung dan pembela, ketika kedzaliman menerpa. Kesemuanya hanya bisa ditemukan apabila umat kembali bernaung dalam Khilafah.

Masalah Palestina akan terselesaikan dengan diusirnya kaum Yahudi-Israel dari wilayah Palestina. Hal ini hanya bisa dilakukan dengan jihad. Melalui pengerahan kesatuan pasukan muslim yang dikomando satu pimpinan (Khalifah).

Hal ini seperti tertuang dalam QS. Al-Baqarah : 191

‎وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir."

Maka perintah memerangi kaum Yahudi yang telah mengusir sekaligus memerangi kaum muslim adalah kewajiban. Hanya dengan kekuatan dari kesatuan kaum muslim yang mampu menghadapinya. Hanya melalui kesadaran ukhuwah dan penerapan Islam secara kaffah/total akan terwujud perdamaian bagi seluruh kaum muslim, termasuk Palestina.

Wallahu'alam bishawwab

Post a Comment for "Gencatan Senjata, Fatamorgana Damai Israel-Palestina"