Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Air Mata Gaza, Khilafah Solusi Utama

Dihitung sejak pendudukan Israel sekaligus pendirian negara Yahudi di Palestina sejak tahun 1948 hingga hari ini, nestapa Palestina sudah berumur lebih dari 70 tahun. Selama itu pula ramadhan di bumi Gaza (Palestina) tak sekondusif di negeri-negeri muslim lainnya.

Oleh : Annisa Al Maghfirah (Relawan Media)

Gema takbir berkumandang seantero dunia. Bulan Ramadhan telah usai dan syawal siap mengganti. Sayang, derita Palestina tak kunjung berakhir. Lagi dan lagi aksi represif aparat Israel terhadap jemaah Masjid Al Aqsa terjadi. Aksi Israel yang menghalangi kaum muslim yang ingin beritikaf/beribadah selama ramadhan di masjid mendapat kecaman dari belahan dunia.

Derita Palestina

Dilansir dari viva.co.id (10/05/2021),guru majelis taklim di Al Aqsa, Zenah Said yang jadi pembicara di acara virtual Koalisi Perempuan Indonesia untuk Al Quds dan Palestina (KPIQP) menceritakan warga Palestina terutama kaum perempuan dan anak di wilayah Al Quds. Menurut dia, upaya pendudukan ilegal yang dilakukan ekstrimis Yahudi terhadap rumah penduduk Al Quds yang disokong aparat Israel menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan.

Dihitung sejak pendudukan Israel sekaligus pendirian negara Yahudi di Palestina sejak tahun 1948 hingga hari ini, nestapa Palestina sudah berumur lebih dari 70 tahun. Selama itu pula ramadhan di bumi Gaza (Palestina) tak sekondusif di negeri-negeri muslim lainnya.

Penderitaan adalah hal yang sudah sangat ‘akrab’ dengan Palestina. Sudah ribuan orang Palestina tewas dibantai; puluhan ribu luka-luka dan cedera bahkan cacat, ratusan ribu kehilangan rumah, tempat tinggal dan pekerjaan; ribuan wanita dilecehkan kehormatannya bahkan diperkosa; ribuan anak-anak menjadi yatim-piatu.

Saat Idul fitri tanggal 13 Mei 2021 pukul 22.00 waktu Gaza, korban yang berjatuhan ada 103 orang meninggal dunia diantaranya 27 anak-anak dan yang cedera 580 orang. Dunia turut mengecam. Nyatanya, kecaman itu tidakberarti. Bahkan bantuan kemanusiaan seperti makanan,minuman,pakaian hanya sebagai penguat warga Palestina untuk bertahan dalam derita. Tiap tahun sejengkal demi sejengkal tanah Palestine direbut oleh Israel.

Akar Nestapa

Bagi kaum Muslim, akar persoalan masalah Palestina-Israel sejak tahun 1948 hingga hari ini, sesungguhnya bersinggungan paling tidak dengan tiga aspek:

Pertama, aspek akidah/syariah (Keutamaan al-Quds/Yerusalem). Dalam pandangan Islam, Tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds, yang merupakan lambang kebesaran umat ini, dan ia menempati posisi yang sangat mulia. Ada beberapa keutamaan dan sejarah penting yang dimiliki al-Quds.

Diantaranya adalah tanah wahyu dan kenabian. Rasulullah saw. pernah bersabda, "Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR at-Tirmidzi).

Lalu baitul maqdis menjadi tanah kiblat pertama kaum Muslim sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah (QS al-Baqarah [2]: 144). Serta Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi. Beliau bersabda, “Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid al-Aqsha.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kedua, aspek Sejarah. Tercatat bahwa Syam (Palestina adalah bagian di dalamnya) pernah dikuasai Romawi selama tujuh abad (64 SM-637 M). Cita-cita agung untuk merebut Syam dan membebaskannya dari imperium Romawi digelorakan sejak masa Rasulullah hingga para khalifah. Panjang perjuangan kaum muslim untuk membebaskan tanah syam dari para penjajah.. Hingga alhamdulillah, pada tahun 1187, Salahuddin al-Ayyubi sebagai komandan pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali al-Quds dari pasukan Salib yang telah diduduki selama sekitar 88 tahun (1099–1187).

Ketiga, aspek Politik. Berbicara isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari Zionisme dan imperialisme Barat. Zionisme adalah gerakan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas mereka di Palestina. Dan Yahudi sendiri adalah kaum yang terbuang akibat membangkangnya mereka terhadap Allah dan para nabi. Theodore Hertzl merupakan tokoh kunci yang mencetuskan ide pembentukan negara Israel. Ia menyusun doktrin Zionismenya dalam bukunya yang berjudul Der Judenstaad’ (The Jewish State).

Cita-citanya untuk mendirikan negara di Palestina semakin bergelora ketika mendapat penolakan dari khalifah Abdul Hamid II.

"Nasihatilah Doktor Hertz, janganlah dia mengambil langkah serius dalam hal ini. Sesungguhnya aku tidak akan melepaskan bumi Palestina meskipun hanya sejengkal.Tanah Palestina bukanlah milikku, tetapi milik kaum Muslim. Rakyatku telah berjihad untuk menyelamatkan bumi ini dan mengalirkan darah demi tanah ini.Hendaknya kaum Yahudi menyimpan saja jutaan uangnya. Jika suatu hari nanti Khilafah terkoyak-koyak, maka saat itulah mereka akan sanggup merampas Palestina tanpa harus mengeluarkan uang sedikit pun. Selagi aku masih hidup, maka goresan pisau di tubuhku terasa lebih ringan bagi diriku daripada aku harus menyaksikan Palestina terlepas dari Khilafah. Ini adalah perkara yang tidak boleh terjadi!"

Sejak saat itulah Yahudi dan sekutunya berusaha untuk meruntuhkan khilafah. Setelah runtuh pada tahun 1924 saat itulah Israel mulai mewujudkan cita-citanya. Sebagaimana gerakan politik, Zionisme tentu membutuhkan kendaraan politik. Zionisme lalu menjadikan ideologi Kapitalisme yang berjaya dengan imperialismenya sebagai kendaraan politiknya. Zionisme ternyata berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan negara-negara kapitalis dan imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat, sejak dimulainya imperialisme (penjajahan) tersebut hingga saat ini.

Dengan adanya konspirasi Zionisme-Imperialisme ini, jelas perdamaian apapun yang digagas oleh negara-negara Barat pimpinan AS, serta pemimpin negeri-negeri muslim yang itu melibatkan PBB ataupun lembaga dunia lainnya adalah perdamaian yang penuh kepura-puraan. Pemimpin negeri-negeri muslim pun akan tunduk kepada kepentingan mereka, yang itu tidak akan membebaskan Palestina. Mengirim tentara saja untuk menjaga Palestina dari Israel saja tidak berdaya.

Karena itu sulit pula mengharapkan perjanjian damai dengan Israel akan memecahkan persoalan krisis Palestina. Sebab, perjanjian damai selama ini tidak pernah menyentuh persoalan substansial dari krisis berkepanjangan ini. Masalah substansial Palestina sebenarnya adalah perampasan tanah Palestina oleh Israel dengan dukungan Inggris, AS dan PBB. Jadi, keberadaan negara Israel yang didukung oleh Barat itulah yang menjadi pangkal persoalan Palestina dan krisis Timur Tengah. Dengan demikian, selama negara Israel berdiri, persoalan Palestina tidak akan selesai.

Selain itu perdamaian Israel-Palestina sejatinya merupakan upaya mengulur-ulur waktu dan menghentikan jihad kaum Muslim terhadap Palestina. Buktinya, tiap tahun terjadi Israel menyerang Palestina dan alurnya pun sama. Dunia akan mengecam, lalu dituntut perjanjian perdamaian agar membagi tanah Palestina. Betapa biadabnya, harus memberi tanah miliknya untuk tamu pencuri (Israel) yang telah begitu bengis meluluhlantakan Palestina.

Bebaskan Palestina!

Kaum Muslim harus sadar bahwa isu Palestina adalah isu Islam. Bukan sebatas isu Palestina, isu Gaza karena tersekat batas teritorial. Padahal nasionalisme ini yang berbasiskan ‘ashabiyah sejatinya adalah ide jahat yang bisa menghancurkan umat.

Kaum Muslim tentu rindu melihat wilayah Palestina dibebaskan dari pemerintahan tiran Israel. Agar hal ini bisa terlaksana, umat memang membutuhkan seorang khalifah, pemimpin seluruh kaum Muslim. Sebab, Rasulullah saw. telah bersabda, “Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum Muslim berperang dan berlindung (HR Muslim).

Di sini pentingnya umat Islam untuk serius dan sungguh-sungguh untuk memperjuangkan kembalinya Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Hanya dengan Khilafahlah, Palestina bisa dibebaskan dan dimerdekakan secara nyata. Karena itu sungguh penting bagi kita merenungkan kembali pernyataan bernas dari Syaikh Ahmad Yasin, sang ‘Amir Syuhada’, dalam salah satu kutipan khutbahnya:

Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemimpinan yang berpegang teguh dengan Islam, baik sebagai aturan, perilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilihlah oleh Anda: Allah atau binasa!

Sudah saatnya kaum muslimin kembali kepada Islam dan menegakkan khilafah Islamiyah 'ala minhajinubuwwah. Dengan itulah airmata Palestina akan terhapus. Sebagaimana Shalahuddin Al Ayyubi yang membebaskan Palestina, kita pun berharap kelak Palestina terbebaskan dengan perintah jihad sang khalifah.

Wallahu 'alam bishowwab

Post a Comment for "Air Mata Gaza, Khilafah Solusi Utama"