Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ramadhan Terakhir Tanpa Khilafah

Semoga ini menjadi Ramadhan terakhir tanpa Khilafah. Tanpa penjajahan dan penindasan. Semoga Kaum Muslimin melalui bulan suci Ramadhan ini dengan ketakwaan baru yang akan bermuara pada satu kesadaran umum untuk mempersatukan umat dalam Khilafah

Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Ramadhan bulan yang penuh kemuliaan. Pintu Surga dibuka seluas-luasnya bagi orang-orang yang taat. Sedangkan pintu neraka ditutup rapat.

Setan-setan dibelenggu. Beramal sunnah pahalanya seperti amalan wajib. Sedangkan beramal wajib pahalanya dilipatgandakan minimal 10 kali.

Bahkan bisa ratusan kali lipat atau bahkan tak terbatas. Bergantung pada seberapa besar keikhlasan dan keistiqomahan dalam menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.

Semoga setiap Ramadhan yang dilalui dari tahun ke tahun menjadi saksi pembelaan Kaum Muslimin di Yaumul Akhirat nanti. Yang akan memberatkan pahalanya dan menghapus dosa-dosanya.

Namun, Ramadhan setelah runtuhnya Khilafah belum bisa dinikmati oleh seluruh Kaum Muslimin. Masih ada negeri yang Kaum Musliminnya ditindas kaum kuffar. Bahkan ada yang dilarang berpuasa.

Misalnya di Uighur (Xinjiang dalam bahasa China artinya daerah jajahan baru). Rezim komunis melarang warga Muslim Uighur berpuasa. Di depan aparat keamanan mereka harus membatalkan puasanya dengan makan dan minum.

Jika ada yang tetap berpuasa akan ditindak oleh aparat keamanan komunis. Jilbab pun dilarang. Setiap Muslimah Uighur tidak bebas untuk mengenakan jilbab, perintah Allah SWT, untuk menutup auratnya.

Di Palestina, bumi para Nabi dan tempat Mi'rajnya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsho ke Sidratul Muntaha, Zionis Israel terus saja menzholimi kaum Muslimin. Di negeri-negeri Kaum Muslimin yang lain masih bisa berfikir hari ini sahur apa dan berbuka dengan apa?

Di Palestina, Kaum Muslimin memiliki pertanyaan yang berbeda. Apakah hari ini masih mempunyai nyawa untuk bisa sahur dan berbuka? Kapan pun bisa dibunuh tentara zionis.

Harta mereka dirampas, kehormatan mereka direnggut dan tanah mereka diambil alih. Ayah, Ibu, anak, suami, istri dan saudara banyak yang telah dibunuh.

Kepada siapa mereka harus mencari perlindungan? Penguasa mana yang mampu menolong? Negara mana yang mampu membebaskan mereka dari penderitaan tersebut?

Ini berbeda ketika Kaum Muslimin masih berada dalam satu kepemimpinan global yakni Khilafah. Negeri-negeri Kaum Muslimin menjadi satu dan tak bisa dijajah negeri apa pun. Uighur dulu bagian Khilafah yang kemudian memeluk Islam.

Bebas menjalankan ibadah puasa dan shalat malamnya. Palestina pun pernah dibebaskan dua kali pada era Khilafah. Yakni era Khalifah Umar bin Khattab ra dan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi.

Ketika pasukan Salib kalah oleh dinasti Al Ayyubiyah, mereka takut akan digenosida oleh pasukan Muslim. Mereka takut akan dendam kaum Muslimin karena Inkuisisi kerajaan Katolik Spanyol kepada Muslim di Andalusia. Ternyata, Sultan Shalahuddin al Ayyubi berlaku baik terhadap mereka dan mengizinkan mereka beribadah dengan bebas.

Keamanan orang Non Muslim dijamin. Ini lah letak keadilan Islam dalam bingkai Khilafah. Dan Kaum Muslimin memerlukan sistem ini sekarang. Urgent.

Ketika Khilafah tegak, Palestina, Uighur, Rohingya, Suriah, dan wilayah Islam lainnya akan dibebaskan dan dilindungi. Tak ada Non Muslim yang dizhalimi. Semua akan makmur seperti dulu dan keadilan merata.

Semoga ini menjadi Ramadhan terakhir tanpa Khilafah. Tanpa penjajahan dan penindasan. Semoga Kaum Muslimin melalui bulan suci Ramadhan ini dengan ketakwaan baru yang akan bermuara pada satu kesadaran umum untuk mempersatukan umat dalam Khilafah. []

Bumi Allah SWT, 5 Ramadhan 1442H /17 April 2021

Post a Comment for "Ramadhan Terakhir Tanpa Khilafah"