Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Proyek Pemecah Belah Umat, Digagas Tanpa Akal Sehat

Begitu kompaknya para pejabat di negara ini mengarusutamakan moderasi Islam. Seakan Islam yang dibawa Rasulullah Saw adalah biang kerok perpecahan. Dan tak layak diajarkan sebagaimana adanya, sampai ada wacana di moderasi, disesuaikan dengan zaman. Kita semestinya mulai menyadari, jika hal ini dibiarkan tanpa pengawalan tentu kemuliaan Islam tak ada lagi.

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih | Institut Literasi dan Peradaban

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Komisaris Utama BUMN PT KAI , Said Aqil Sirodj , dalam sebuah diskusi daring meminta dosen agama di fakultas umum tingkat universitas untuk tidak terlalu banyak mengajarkan Aqidah dan Syariah.

“Bagi dosen agama yang mengajar agama di bukan fakultas agama, tidak usah banyak-banyak bincang akidah dan syariah. Cukup dua kali pertemuan. Rukun iman dan (rukun) islam. Kecuali (jurusan) ushuluddin, fiqih atau tafsir hadis. Itu terserah, itu harus mendalam. Tapi kalau dosen yang mengajar di fakultas yang umum, Teknik, hukum misalkan enggak usah banyak-banyak tentang aqidah dan syariah, cukup dua kali,” tuturnya.

Menurutnya, terlalu sering membicarakan surga-neraka, Islam, Kafir, lurus, benar, sesat dapat meningkatkan risiko peningkatan radikalisme. Berdasarkan Quran dan Hadist, Said Aqil menjelaskan lagi bahwa manusia tidak hanya ditugaskan untuk melakukan hal-hal terkait teologi atau ‘ilahiyah’, tetapi juga menyangkut kemanusiaan. “Agama bukan dari langit, tapi dari manusia sendiri,” jelasnya.

Pernyataan ini patut dikritisi, sebab berbahaya jika diterima begitu saja. Namun ternyata tak hanya Said Aqil Siradj saja yang menyerukan pernyataan aneh dan berbahaya itu, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas juga mengatakan moderasi beragama menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) terbesar bagi bangsa Indonesia guna menangkal penyebaran paham radikalisme.

Menurutnya, saat ini Indonesia terjebak dalam dua paham ekstrem, yakni ekstrem liberal dan konvensional. Oleh karena itu, perlu ada moderasi yang masif. “Soal moderasi beragama, ini menjadi PR besar kita, bukan hanya PR besar Kemenag, tapi juga PR bangsa dan negara ini,” kata Yaqut saat menyampaikan sambutan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag, Senin (5/4). “

Tahun 2022, kemenag berencana mencanangkan tahun toleransi dengan menggunakan ukuran Religiousity index, yang akan mengukur sejauh mana indeks keberagamaan hingga perilaku keagamaan masyarakat Indonesia (harianaceh.co.id, 6/4/2021).

Pernyataan ini sungguh disayangkan oleh Imam Besar Masjid Islamic Center New York Amerika Serikat (AS), Imam Shamsi Ali. Dia menilai cara berpikir Said Aqil sangat kontra dengan logika. Masyarakatpun tak beda dengan pendapat Imam Shamsi Ali, sebut saja pernyataan Wakil Sekrerariz Jendral (Wasekjen) Persaudaraan Alumni (PA) 212, Ustaz Novel Bamukmin, bahwa pernyataan Said Aqil Siraj telah mengkhianati Pancasila (RMOL.id, 6/4/2021).

Akidah Islam yang merupakan pondasi keimanan seorang Muslim, bagaimana mungkin diminta pengurangan dalam pengajarannya, sedangkan diajarkan saja kita masih terlibat sistem asing, sistem yang bukan berasal dari Alquran, yaitu sekularisme yang melahirkan demokrasi dan kapitalisme. Yang terbukti hingga hari ini belum mampu mengentas kemiskinan apalagi kesejahteraan.

Sekularisme yang dianut oleh sebagian besar manusia di dunia secara perlahan mengikis kadar akidah perindividu, akibatnya, mereka tak lagi mengartikan bahagia adalah mendapatkan rida Allah SWT, melainkan hanya manfaat materi semata. Akibatnya sungguh mengerikan, misal, tak ada lagi anggapan keperawanan itu mulia, dengan mudah mereka zina, tak berat untuk ambil riba, tak berat untuk fitnah Nabi dan sederet perilaku yang bersumber dari dangkalnya akidah.

Dengan terkikisnya akidah seseorang, ia tak akan lagi merasa diawasi oleh Allah SWT, aspek ruhiyah yang ada padanyapun hilang seiring dengan makin jauhnya ia dari pemahaman Islam yang benar. Seorang mahasiswa, ia adalah sosok manusia dewasa yang seharusnya sudah menjadi bagian dari masyarakat, dengan inteletualitasnya mengedukasi masyarakat dan berada di garda terdepan untuk mengawal perubahan.

Mahasiswa dijauhkan dari akidah, ini benar-benar agenda berbahaya. Hal ini pula yang digagas oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, Nadiem Karim dengan kurikulum merdeka belajarnya, hari ini tak perlu titel berderet, yang penting bisa diterima di dunia kerja. Orientasi mahasiswa dipaksa berputar pada materi semata, jangankan memikirkan surga neraka, memahami bahwa manusia ini fana pun sepertinya terlupa.

Begitu kompaknya para pejabat di negara ini mengarusutamakan moderasi Islam. Seakan Islam yang dibawa Rasulullah Saw adalah biang kerok perpecahan. Dan tak layak diajarkan sebagaimana adanya, sampai ada wacana di moderasi, disesuaikan dengan zaman. Kita semestinya mulai menyadari, jika hal ini dibiarkan tanpa pengawalan tentu kemuliaan Islam tak ada lagi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al Hijr 15 :9, yang artinya, ''Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya.''

Dalam Kitab Tafsir al-Bahr disebutkan bahwa makna dari al-Hifz ada tiga: pertama, Allah menjaganya dari syetan. Kedua, Allah menjaganya dengan cara mengekalkan syariat Islam sampai hari kiamat, hal ini sebagai mana disinggung oleh Imam Hasan al-Bashri dan ketiga, Allah menjaganya di dalam hati orang-orang yang menginginkan kebaikan dari Al Quran.

Pada makna yang kedua, yaitu Allah menjaganya dengan cara mengekalka syariat Islam sampai hari kiamat adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sepanjang hayat beliau. Beliau diberikan kitab suci Al Quran yang diturunkan oleh Allah SWT dalam bentuk firman-Nya. Kemudian diajarkan kepada para sahabat dan masyarakat hingga masyarakat Arab, yang awalnya jahiliyah, hidup dalam kegelapan pengetahuan dan Peradaban menjadi mengenal kebesaran Allah. Dan bahkan menyebarkan ke seluruh penjuru dunia. Hingga kita bisa mengenal dan memeluknya.

Lantas, darimana datangnya keberanian mereka yang menyebutkan Islam harus ada ditengah, dimoderasi agar tak radikal dan sebagainya. Malah yang nampak adalah hawa nafsu mereka yang ingin mendapatkan pujian dari tuannya, kaum Kafir, siapa lagi yang benci Islam kemudian berusaha mereduksi bahkan menguburnya jika bukan kafir?

Bermula dari pernyataan presiden Amerika Goerge W Bush yang menyerukan " War of Terorism" pasca bom yang meledakkan World Trade Center , 9 September 2011 lalu, seluruh dunia diajak untuk memusuhi musuh khayalan mereka, umat Muslim sedunia dipaksa percaya Islamofobia adalah musuh bersama, hingga akal sehat mereka tak lagi bergerak. Nalar berganti dengan sikap membebek dan masa bodoh.

Hal yang benar dan tak terbantahkan adalah Islam adalah agama yang sempurna, mengajarkan kepada pemeluknya akidah sekaligus syariat. Keduanya tak bisa dipisahkan sebab, Islam sekaligus ideologi atau mabda, yang harus dijadikan pandangan hidup seseorang dalam mengarungi kehidupan ini. Sebab,dalam akidah terpancar seluruh aturan. Dan Islam akan memberikan kebaikan bagi seluruh alam adalah ketika diterapkan, bukan menjadi teori dalam kumpulan buku-buku paket pelajaran sekolah saja, atau pada pelajaran hadist atau fikih saja, tapi benar-benar menjadi hukum positif yang real diterapkan dalam kehidupan.

Allah berfirman, yang artinya “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” (TQS Al-Maidah 5 : 44). Wallahu a' lam bish showab.

Post a Comment for "Proyek Pemecah Belah Umat, Digagas Tanpa Akal Sehat"