Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perempuan dalam Bidikan Moderasi

Ide moderasi diklaim sebagai lawan atas radikalisme. Menurut KBBI, moderasi adalah pengurangan kekerasan atau penghindaran keekstreman. Oleh karena itu, moderasi beragama merupakan upaya tersistem dalam rangka menjauhkan umat dari pemahaman agama yang radikal dan ekstrem. Namun sayangnya, makna ekstrem dan radikal tidaklah dilekatkan secara proporsional. Justru propaganda radikalisme dan ekstremisme seringkali disematkan pada mereka yang taat dalam beragama, tunduk secara totalitas pada syariat-Nya, dan tak menjadikan standar perbuatannya kecuali pada apa yang telah Allah tetapkan.

Oleh : Hana Annisa Afriliani, S.S (Aktivis Dakwah dan Penulis Buku)

Aksi bom bunuh diri seorang perempuan muslimah di depan Gereja Katedral Makassar bersama seorang pria yang diketahui merupakan suaminya berhasil menarik perhatian publik. Begitu juga dengan aksi brutal perempuan muda di depan Mabes Polri beberapa waktu lalu, dengan berani menembakkan senjata api ke berbagai arah hingga akhirnya tewas di tempat karena ditembak aparat. Setelah itu media pun ramai-ramai menyorotnya dan tak sedikit yang mengangkat wacana tentang mudahnya perempuan terpapar terorisme.

Berbagai perbincangan seputar hal tersebut pun mengemuka. Label Islam sebagai pencetak terorisme seolah kian melekat. Betapa tidak, media tak henti-hentinya menframing demikian. Salah satu yang banyak diangkat oleh media adalah soal surat wasiat yang ditinggalkan oleh pelaku penyerangan di Mabes Polri. Betapa tidak, isi suratnya sangat tendensius dan menyudutkan Islam.

Sebagaimana dilansir dari Suara.com (01-04-2021), bahwa Zakiah, sang pelaku meminta kepada keluarganya untuk meningkatkan ibadah, meninggalkan riba, dan tidak mengikuti pemilu. Berikut ini merupakan kutipan isi suratnya, "Inti pesan Zakiah kepada mama dan keluarga adalah agar tidak mengikuti pemilu. Karena orang-orang yang terpilih itu akan membuat hukum tandingan Allah bersumber Al Quran - Assunnah. Demokrasi, Pancasila, UUD, Pemilu berasal dari ajaran kafir yang jelas musyrik. Zakiah nasehatkan kepada mama dan keluarga agar semuanya selamat dari fitnah dunia yaitu demokrasi, pemilu dan tidak murtad tanpa sadar."

Membaca tulisan tersebut, tentu siapapun akan langsung menyorot pada ajaran Islam. Betapa tidak, apa yang tertulis di sana adalah seputar aturan-aturan Islam, misalnya saja soal riba. Islam memang mengharamkan riba dalam bentuk sekecil apapun itu. Dalam perkara demokrasi yang merupakan sistem pemerintahan yang menjadikan kedaulatan di tangan rakyat pun jelas bertentangan dengan Islam.

Yang menjadi persoalan adalah media ramai-ramai menggoreng hal tersebut seolah-olah Islam merupakan agama radikal antitoleransi. Lebih jauh lagi diangkat ke permukaan adalah soal muslimah yang rentan terpapar ide Islam radikal tersebut.

Dari situlah kemudian muncul propaganda moderasi beragama. Salah satu yang menjadi target bidikannya adalah para muslimah. Moderasi digambarkan sebagai solusi atas radikalisme yang seringkali memengaruhi kaum hawa. Pemikirannya yang pendek dan perasaannya yang halus sering disinyalir sebagai sebab mudahnya para muslimah terjerat aksi-aksi radikal, bahkan terorisme. Oleh karena itu, moderasi beragama sengaja ditawarkan demi membentengi para muslimah dari 'kesesatan'.

Ide moderasi diklaim sebagai lawan atas radikalisme. Menurut KBBI, moderasi adalah pengurangan kekerasan atau penghindaran keekstreman. Oleh karena itu, moderasi beragama merupakan upaya tersistem dalam rangka menjauhkan umat dari pemahaman agama yang radikal dan ekstrem. Namun sayangnya, makna ekstrem dan radikal tidaklah dilekatkan secara proporsional. Justru propaganda radikalisme dan ekstremisme seringkali disematkan pada mereka yang taat dalam beragama, tunduk secara totalitas pada syariat-Nya, dan tak menjadikan standar perbuatannya kecuali pada apa yang telah Allah tetapkan.

Maka seringkali kita menjumpai di tengah masyarakat adanya pelabelan seorang muslimah bercadar sebagai bagian dari kelompok radikal. Sering juga kita dengar, pernyataan masyarakat tentang seorang muslimah yang berpegang teguh pada aturan syariat Islam, seperti tidak mau berpacaran, tidak mau bertransaksi riba, serta memperjuangkan tegaknya aturan Islam dalam institusi negara sebagai sosok ekstremis yang layak diwaspadai.

Dengan demikian, pada akhirnya perempuan dijadikan target bidikan moderasi beragama. Mereka diseret sejauh-jauhnya dari pemahaman Islam yang sempurna. Pemikiran mereka dirasuki oleh racun liberalisme. Virus Islamfobia sengaja ditancapkan di benak-benak kaum perempuan, sehingga mereka takut terhadap agamanya sendiri. Takut dianggap radikal jika terlalu taat.

Akhirnya kaum perempuan ramai-ramai menanggalkan pakaian takwanya, berganti pakaian ala Barat yang dianggap lebih moderat. Kalaupun menutup aurat, sebatas membungkus kepala dan tubuh tapi tidak memenuhi standar syari. Propaganda moderasi telah berhasil menjadikan kaum perempuan meninggalkan ajaran agamanya dengan sukarela. Mereka beragama Islam, tapi tidak mengambil aturan Islam sebagai standar dalam melakukan segala perbuatan. Dapat dikatakan, agamanya Islam namun isi kepala Barat nan liberal dan permisif.

Sungguh sangat memprihatinkan. Padahal satu-satunya jalan untuk selamat dunia akhirat adalah dengan tunduk secara totalitas pada ajaran Islam yang sempurna. Sebab sejatinya, Islam tak sekadar mengatur soal ibadah ritual, melainkan Islam merupakan sistem hidup yang hakiki. Islam diturunkan sebagai rahmat bagi semesta. Maka, Allah pun memerintahkan kita untuk berislam secara kafah, bukan setengah-setengah.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (terjemah QS. Al Baqarah: 208)

Oleh karena itu, sudah selayaknya setiap muslim dan muslimah mengambil ajaran Islam secara keseluruhan, itulah implementasi dari berislam kafah. Jangan sampai kita terjerat dalam tipu daya moderasi berbalut toleransi. Sesungguhnya isu-isu radikalisme, terorisme, ektremisme sengaja ditiupkan oleh kaum kufar demi melemahkan para perempuan muslimah dan mencegah kebangkitan Islam di atas muka bumi. Mereka menyadari sesungguhnya perempuan merupakan salah satu tonggak peradaban, oleh karena itu mereka berupaya merusak para perempuannya agar tak memiliki loyalitas terhadap agamanya sendiri serta memadamkan militansi terhadap gelora perjuangan di dada kaum perempuan. Wallahu'alam bi shawab.

Post a Comment for "Perempuan dalam Bidikan Moderasi"