Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penistaan Agama Berulang di Negeri Sekuler


Oleh: Muzaidah (Aktivis Muslimah)

Penistaan selalu terulang di negara yang mayoritas penduduknya Islam, tetapi banyak yang diam di atas kezaliman yang ada. Bukan menindak tegas, malah berbelas kasihan pada pelaku kejahatan yang sudah ada. Sangat ironi dan memilukan, tidak ada letak keadilan dari hukum yang berkedudukan tinggi namum diam seribu bahasa. Bagaimana bisa menuntaskan banyak masalah yang terjadi, hukumnya saja tak kunjung memberikan solusi?. Inilah kejahatan timbul di sistem kufur yang tidak berlandaskan syariat yang berlaku.

Para penista dan pembuat onar kembali datang, viral dari youtubers Joseph Paul Zhang yang mengaku sebagai nabi ke-26 bahkan terdapat unsur penghinaan terhadap Islam. Paul juga menantang kepolisian untuk menangkapnya dengan memberi uang senilai 1-5 juta jika pihak pelaporan itu berhasil. Paul juga menyombongkan diri, karena Paul tidak bisa ditangkap begitu saja dan tidak bisa ditangkap. (fokussatu.com, 18/4/21)

Sekulerisme meliarkan para pelaku kejahatan untuk bertindak sesukannya. Memberikan ruang terbuka agar kezaliman tetap berjalan selama hukum Islam belum diterapkan. Berlandaskan hukum, tidak menetapkan pelaku pada keadilan yang seharusnya didapatkan. Agar timbul efek jera dan tidak bertindak sesukannya. Keharusan pemimpin bertindak tegas bukan diam bahkan ikut-ikutan terjun pada kezaliman yang ada, wajib membela Islam, karena kedudukan pemimpin adalah Islam, memutuskan suatu hukum yang dapat membuat para kejahatan tidak mudah lagi berbuat onar.

Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah Swt dan paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempat duduknya adalah pemimpin yang zalim." (HR At-Tirmidzi).

Hukum buatan manusia, tidak selamanya bisa dipakai kapan saja dan di mana saja. Harus bersumber pada hukum yang kekal dan tidak ada campur tangan manusia, yaitu hukum Allah. Karena sifat manusia terbatas, lemah dan serba kekurangan. Perlu bersandar pada yang tidak terbatas, dialah Allah Swt. Pemimpin yang bijak bukan ahli berbicara saja, tapi mampu bertindak tegas sesuai syarak berlaku agar keadialan didapatkan bagi siapa saja, yang ingin diadilkan, baik kejahatan atau kebaikan. Bukan tambal sulam membuat rakyat bertanya-tanya akan suatu kebijakan pemerintah saat ini.

Kasus penistaan agama berulang karena negara melandaskan pada asas kebebasan, tidak menempatkan Islam sebagai sumber aturan dan tidak memberlakukan sanksi tegas untuk para penista agama.

Apa pun itu, tidak dapat terselesaikan suatu problem yang ada, jika hukum tidak ditegakan seadil-adilnya. Bahkan bermain peran lain dalam persoalan keadilan, ada yang perlu disuap, barulah suatu penegak hukum berjalan. Bahkan, ada yang baru disuap, penegak hukum tidak berjalan sesuai tugas yang ada.

Berbanding balik dengan Khilafah, ketika Islam berada pada puncak kejayaan. Para penista agama bahkan pelaku kejahatan itu, tidak ada lagi, mereka akan diberikan sanksi tegas dan sebagai efek jerah. Hukum yang berlaku sesuai tuntunan syarak yang ada, tidak memilah dan memilih akan penegasan dari penghukuman. Yang salah akan mendapatkan hukum, yang benar tidak dianiaya, bukan seperti sistem kapitalisme yang tidak memakai hak dan keadilan umat. Islam tegas, siapa saja yang menghina nabi, akan dihukum mati sesuai hukum yang berlaku dan di lihat juga persoalan yang ada, apakah pelaku mendapatkan hukuman mati atau tidak. Keadilan terus berjalan tanpa merugikan siapa pun, karna hukum Islam, bukan saja sebagai efek jerah, namun juga sebagai penebus dosa bagi para pelakunya.

Jangan mengabaikan hukum Islam, karena yang menentang akan mendapatkan kerugian besar. Jika semua manusia berkiblat pada Khilafah, maka hidup manusia merasakan keadilan yang merata. Sama rata sama rasa, tidak membeda-bedakan yang terpidana. Sungguh Islam solusi yang menuntaskan, bukan seperti demokrasi, yang hanya mesengsarakan rakyat yang ada tidak memakai keadilan yang merata.

Wallahualam bissawab

Post a Comment for "Penistaan Agama Berulang di Negeri Sekuler"