Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Moderasi Agama, Upaya Liberalisasi Akidah Umat

arus moderasi yang diopinikan secara massif diharapkan mampu membentuk karakter umat yang toleran, beranggapan Islam tidak berbeda dengan agama lain dan ajarannya pun sama sehingga kaum muslim menolak dan menentang pemberlakuan syariat Islam. Sekalipun ia melakukan ibadah mahdhah seperti salat, puasa, zakat, ibadah haji, membaca Al-Qur'an dan dzikir.

Oleh Nurmilati

Dikutip dari Antara (5/4 )Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan supaya tidak hanya Islam yang membacakan do'a saat ada Rapat Kerja Nasional di Kemenag. Namun, semua agama diberi kesempatan untuk berdo'a karena ini adalah acara bersama maka semua mempunyai hak bukan hanya milik agama tertentu.

Ia berharap Kementerian Agama (Kemenag) menjadi wadah semua agama di Indonesia, maka segenap agama diberikan kesempatan dan perhatian sama, sehingga agenda yang dilaksanakan di jajarannya tidak terkesan sedang rapat ormas agama tertentu (baca Islam).

Dilansir dari KumparanNews (7/4) Menurut Yaqut do'a lintas agama dilakukan sebagai upaya agar masing-masing umat di Kemenag tidak terlibat tindak pidana korupsi karena tujuan berdo'a supaya ingat Tuhannya.

Selain itu, Ia menegaskan bahwa pihaknya harus memberi model dalam mendukung moderasi agama karena dari sinilah seruan ini digulirkan, bebernya. (Antara, 5/4)

Kemudian menurutnya, moderasi beragama atau Islam moderat penting ditanamkan di tengah kehidupan masyarakat yang memiliki ragam agama, ini dilakukan untuk menjaga persatuan seluruh elemen bangsa dan mencegah perpecahan antar umat beragama.

Senada dengan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid pernyataan Menag tentang do'a dari semua agama hanya untuk internal acaranya bukan untuk semua kegiatan masyarakat, sehingga menurutnya anjuran Menag tidak perlu dipersoalkan karena acara internal diikuti seluruh eselon dan pejabat dari Direktorat Bimas Islam, Direktorat Bimas Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan yang lain. (Gedung DPR Jakarta, 9/4).

Karakter Muslim Moderat

Menurut laporan Rand Corporation berjudul Building Moderate Muslim Network terbit tahun 2007 menyebutkan karkater muslim moderat ialah yang mendukung demokrasi, toleransi sesuai Barat, pengakuan Hak Asasi manusia, hedonisme, keseteraan gender, permissif, pernikahan beda agama dan pemikiran lainnya.

Maka dari itu, arus moderasi yang diopinikan secara massif diharapkan mampu membentuk karakter umat yang toleran, beranggapan Islam tidak berbeda dengan agama lain dan ajarannya pun sama sehingga kaum muslim menolak dan menentang pemberlakuan syariat Islam. Sekalipun ia melakukan ibadah mahdhah seperti salat, puasa, zakat, ibadah haji, membaca Al-Qur'an dan dzikir.

Tetapi sepertinya, masyarakat mampu melihat dengan jeli, negeri ini tengah menjalani rencana moderasi Islam artinya memalingkan jamaah dari ajaran Islam yang sebenarnya dan mengarahkan serta menyelaraskannya kepada paham dan nilai-nilai Barat yang justru semakin membuat umat muslim asing dengan ajaran agamanya.

Maka dari itu, timbul pemikiran di benak umat upaya untuk menerapkan aturan Islam secara menyeluruh melalui daulah Islamiyah, di mana kepemimpinan diatur oleh seorang khalifah sebagai pelaksananya.

Lantas bagaimana kaum liberal melihat hal ini? sudah bisa dipastikan dengan pemikiran pemeluk Islam yang makin yakin dengan aturan hidup dari Allah azza wa jalla, maka timbul ketakutan pada kaum liberal apabila umat bangkit dengan pemahaman Islam secara keseluruhan yang bisa menghancurkan rencananya.

Maka dari itu beragam cara dilakukan pengusung liberalisme untuk menjegal perjuangan mereka salah satunya melalui gelombang moderasi beragama dan menarasikan Islam radikal, ekstrimis serta teroris disematkan pada barisan dakwah Islam kaffah yaitu pengemban ide Islam politik sebagai ideologi yang mengatur seluruh lini kehidupan manusia.

Upaya Mengokohkan Keimanan

Banyaknya liberalisasi akidah yang digulirkan pemerintah bahkan dijadikan kebijakan oleh negara dan membiarkan umat Islam melakukan pelanggaran aturan agamanya dan justru mengopinikan bahwa moderasi agama bagian dari Islam dengan mengambil dalih bahwa Islam agama toleran.

Bukan hal aneh memang, tatkala negara menerapkan kebijakan melalui hal ini karena sistem yang diterapkan saat ini adalah sekulerisme liberalisme yang memberikan kebebasan toleransi berlebihan kepada agama lain padahal Islam menegaskan dan mengajarkan bagaimana kegiatan toleransi terhadap ajaran agama lain.

Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-kafirun ayat 1-6 yang artinya;

Katakanlah, "Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah Tuhanmu dan kalian tidak menyembah Tuhanku, untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.”

Dari ayat di atas jelas disampaikan tidak boleh ada pembauran antara agama satu dan yang lainnya.

Maka dari itu, umat seharusnya tidak terpedaya dengan gagasan Islam moderat yang diusung pihak yang ingin menjauhkan kaum muslim dari kesucian Islam. Sudah selayaknya umat mengokohkan keimanan dan meyakini Islam adalah mabda yang benar dalam mengatur kehidupan.

Oleh karena itu, harus ada sebuah sistem yang mampu menguatkan akidah kaum muslim yaitu dengan menegakkan khilafah Islamiyah sebagai institusi yang sanggup menjaga dan menjamin kemurnian akidah umat.

Post a Comment for "Moderasi Agama, Upaya Liberalisasi Akidah Umat"