Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Meraih Hakikat Taqwa Di Bulan Ramadhan

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Oleh : Yusra Ummu Izzah (Pendidik Generasi - Komunitas Ibu Cinta Qur'an)

Alhamdulillah, Ramadhan yg dinanti telah tibai, sudah selayaknya kita bergembira & menyambut datangnya bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan ini dengan rasa gembira, karena menyambut kedatangan bulan Ramadan dengan suka cita adalah bagian dari refleksi keimanan seorang Muslim.

Meski merupakan kewajiban individual, puasa tetap memberikan pesan-pesan politik dan sosial. Secara individual, pelaksanaan puasa Ramadhan berdampak pada peningkatan kualitas ketakwaan. Bahkan, inti puasa Ramadan adalah ketakwaan. Sebab, ujung dari pelaksanaan puasa Ramadan adalah diraihnya status sebagai manusia yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 183).

Ketakwaan adalah derajat paling mulia di sisi Allah Swt.:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ ١٣

“Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS al-Hujurat [49]: 13)

Karena itu, penting memahami kembali hakikat takwa serta menerapkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Ketakwaan seorang individu adalah ketika ia mampu menjadikan hukum-hukum Allah sebagai standar atau timbangan dalam berpikir maupun berbuat. Kehati-hatian dalam berperilaku, agar selalu dalam ketundukan kepada hukum Allah serta terhindar dari jerat kemaksiatan dan pelanggaran hukum syariat, itulah yang disebut sebagai takwa.

Takwa: Totalitas Ketundukan pada Allah SWT.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk atas seluruh perilaku dalam kehidupan di dunia adalah refleksi ketakwaan. Perilaku dalam kehidupan di dunia yang harus selalu merujuk pada al-Qur’an di antaranya dalam hal kepemimpinan.

Fungsi kepemimpinan dalam Islam adalah untuk mengatur urusan rakyat agar tertib sejalan dengan nas Al-Qur’an serta tidak terjadi kekacauan dan perselisihan. Islam mewajibkan kita untuk taat kepada Allah, Rasulullah dan ulil amri, yakni orang yang diamanahi untuk mengatur urusan umat, tentu selama pemimpin itu tunduk pada al-Qur’an dan as-Sunah. Sayidina Ali bin Abi Thali ra. dalam Tafsir al-Quran karya Al-Baghawi menjelaskan bahwa seorang imam atau pemimpin negara wajib memerintah berdasarkan hukum yang telah Allah turunkan serta menunaikan amanah. Jika dia melakukan itu, rakyat wajib untuk mendengarkan dan menaati dirinya.

Sebaliknya, tidak wajib taat kepada kemimpinan yang tidak memerintah berdasarkan hukum Allah atau memerintahkan kemaksiatan kepada Allah. Karena itu bulan suci Ramadan ini hendaknya melahirkan bukan hanya ketakwaan individual, melainkan juga ketakwaan kolektif yang mewujud dalam penerapan sistem dan perundang-undangan syar'i. Adapun perwujudan takwa secara kolektif adalah terwujudnya masyarakat yang tunduk dan terikat secara totalitas pada syariat Islam. Dalam perspektif ketakwaan sistemis, hanya ada dua hal: haq atau batil; hukum Allah atau hukum jahiliah.

Mana di antara keduanya yang dikehendaki?

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ٥٠

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Siapakah selain Allah yang hukumnya lebih baik, bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maidah [5]: 50)

Sistem Islam Mewujudkan Ketakwaan Hakiki

Kemuliaan Ramadan akan tereduksi jika tidak didukung oleh ketakwaan sistemik, yang muncul justru sekularisasi dan kapitalisasi Ramadan. Karena itu di sinilah pentingnya penerapan sistem Islam. Sejatinya syariat Islam secara kâfah tidak bisa dilepaskan dengan Khilafah. Ini juga yang disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, “Agama adalah pondasi dan kekuasaan politik adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak ada pondasinya akan roboh. Sesuatu yang tidak ada penjaganya akan telantar.”

Di bawah hegemoni sistem sekularisme dan kapitalisme, bulan Ramadan tampaknya belum membawa perubahan apapun bagi nasib kaum Muslim di seluruh dunia. Para penguasa di negeri-negeri Islam juga masih saja menelantarkan. Mereka tidak peduli apakah kebutuhan bahan pokok rakyatnya terjamin atau tidak. Korupsi dan berbagai penyimpangan makin merajalela. Perjudian, pornografi dan pelacuran, masih saja berjalan. Bahkan, di bulan Ramadan sekalipun. Kriminalitas seperti pemerkosaan, pembunuhan, pencurian dan lain-lain masih merupakan bagian dari keseharian hidup masyarakat kita.

Islam telah dicampakkan dalam kehidupan digantikan dengan sistem kehidupan sekuler kapitalistik, yang berprinsip memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan manfaat dan kebebasan sebagai asas kehidupannya. Benar, jika saat ini kaum muslim, laki-laki dan perempuan masih salat dengan menggunakan aturan Islam, mengerjakan puasa dan beribadah haji dengan aturan Islam. Menikah dengan aturan Islam, memilih makanan dan minuman sesuai dengan Islam serta mengurus jenazah berdasarkan aturan Islam. Mereka pun terlihat bergembira dan bersegera menyambut seruan Allah: kutiba ’alaykum ash-shiyâm.

Akan tetapi, dalam urusan pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan pidana, mereka tidak menjadikan aturan Islam sebagai pegangan. Mereka mencampakkan hukum-hukum Allah SWT. Mereka tampak enggan menyambut seruan Allah: kutiba ’alaykum al-qitâl dan kutiba ’alaykum al-qishâsh. Padahal ketika umat Islam mencampakkan aturan-aturan Allah, seketika itulah umat Islam menjatuhkan dirinya ke dalam lubang kenestapaan, kemunduran dan keterpurukan.

Sesungguhnya telah nyata kegagalan sistem kapitalis sekuler memberikan kesejahteraan dan ketenangan bagi umat manusia. Karena itu masihkah kita berharap kepada sistem yang rusak ini? Tentu saja tidak! Sudah saatnya kita membuang jauh-jauh sistem yang telah menyengsarakan kita ini. Kita harus mengganti sistem yang telah cacat sejak lahir ini dengan sistem yang mampu menyejahterakan umat manusia. Itulah sistem Islam dengan sistem Khilafahnya yang telah terbukti mampu mengantarkan manusia menuju puncak peradaban, kesejahteraan dan kemakmuran.

Inilah sebenarnya hakikat kemenangan dan kesuksesan kita menjalani ibadah puasa kita pada bulan Ramadan ini. Karena itu selama dan selepas Ramadan ini, semoga semangat dakwah dan perjuangan menegakkan syariat dan Khilafah ini semakin menggelora. Dengan demikian hadirnya Ramadan adalah sebuah kebajikan spiritual yang perlu kita laksanakan sebagai individu Muslim. Yang juga tidak kalah penting, sebagai bagian dari umat, kita juga berkewajiban memperjuangkan syariat untuk diterapkan oleh negara. Dengan itu lahir sejarah perubahan, bukan hanya pada individu, melainkan juga perubahan sistemis.

Semoga bulan agung yang dirindukan ini menjadi wasilah kaum Muslim dalam memantik ghirah dan komitmen dakwah dan perjuangan untuk mewujudkan ketakwaan hakiki, baik individu, masyarakat,

maupun negara. Ketakwaan hakiki ini hanya bisa diwujudkan dengan tegaknya Khilafah. Semoga di bulan Ramadan tahun ini Allah Swt. segera menurunkan pertolongan dengan tegaknya Khilafah di muka bumi ini. Semoga kaum muslim di seluruh dunia semakin sadar dan menyatukan visi untuk berjuang menyambut kemenangan hakiki, yakni tegaknya Khilafah ‘ala minhâj an-nubuwwah. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Post a Comment for "Meraih Hakikat Taqwa Di Bulan Ramadhan"