Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENGAPA PENISTAAN AGAMA SEMAKIN MERAJALELA ?

Gencarnya arus moderasi beragama disikapi dengan makin bebasnya seseorang menginterpretasi agama, bahkan kebebasannya dijamin oleh negara. Konsekuensi dari negara yang berlandaskan kebebasan adalah yaitu siapa pun bebas berkata semaunya, meski menyinggung atau mengolok-olok agama lain. Sah-sah saja bagi mereka melakukan tanpa takut ditindak aparat. Cukup mengatakan, “Setiap warga negara dijamin atas hak berpendapat dan berperilaku.”

Oleh :Esnaini Sholikhah, S.Pd

Jozeph Paul Zhang yang mengaku nabi ke-26, viral di jagat dunia maya. Dia sudah berulang kali mengolok-olok dan menista ajaran Islam. Bahkan, ia membuat sayembara bagi siapa pun yang bisa melaporkannya ke polisi karena aksi nistanya itu. Aksinya viral di media sosial setelah rekaman videonya diunggah melalui YouTube. Video tersebut berdurasi 3 jam 2 menit dia beri judul Puasa Lalim Islam. (inews.id, 17/4/2021)

Publik semakin yakin bahwa berbagai tindakan penistaan agama untuk Islam pasti akan cepat menguap, tapi jika yang disinggung adalah non muslim maka pelakunya segera ditindak dan mendapat sebutan sebagai pelaku intoleransi beragama.

Terlebih lagi saat ini umat Islam sedang menunaikan ibadah puasa Ramadan. Berdengung slogan umat Islam harus lebih sabar,dan menahan diri dari ujian ini. Tidak boleh reaktif atau bertindak anarkis menghadapi para penista. Memangnya apakah maksud dari sikap sabar? Apakah dengan tidak berbuat apa-apa? Bukankah sabar itu ialah mengerahkan segala daya dan upaya atas suatu perkara?

Di tengah kampanye toleransi beragama yang digaungkan pemerintah, justru masif pula terjadi penistaan agama. Sampai-sampai anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Anton Tabah merasa heran dengan maraknya penistaan agama di era pemerintahan Jokowi. Ia pun mengatakan kasus penistaan agama seperti ada pembiaran, kadang aparat mengabaikannya. (gelora.co, 19/4/2021)

Gencarnya arus moderasi beragama disikapi dengan makin bebasnya seseorang menginterpretasi agama, bahkan kebebasannya dijamin oleh negara. Konsekuensi dari negara yang berlandaskan kebebasan adalah yaitu siapa pun bebas berkata semaunya, meski menyinggung atau mengolok-olok agama lain. Sah-sah saja bagi mereka melakukan tanpa takut ditindak aparat. Cukup mengatakan, “Setiap warga negara dijamin atas hak berpendapat dan berperilaku.”

Seharusnya, jika umat Islam diminta bersabar, pemerintah menunjukkan ketegasannya melalui aparatnya untuk mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengatasinya. Pembiaran ini justru menyebabkan para penista tetap lancar beraksi.

Pemimpin negara tidak berkata apa-apa, aparatnya pun tetap dingin menyikapi kasus penistaan agama. Meski Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Nahdlatul Ulama (NU) telah mendesak agar kasus ini segera diusut, nyatanya publik hanya dipertontonkan wacana-wacana kosong tanpa aksi nyata.

Aturan kehidupan yang diterapkan atas masyarakat di negeri ini sangat memengaruhi cara pandang penguasa dalam menyelesaikan berbagai masalah. Indonesia memang bukan negara agama, maka wajar saja tidak akan didapatkan keadilan dan keamanan bagi warga negaranya.

Kasus demi kasus penistaan agama bak tumpukan berkas yang menggunung entah kapan bisa dituntaskan. Akan selalu terjadi sepanjang masa. Ketika umat Islam menuntut keadilan dari pemerintah atas tindakan para penista, hal ini dianggap terlalu berlebihan. Beginilah jika negara tak menjadikan Islam sebagai sumber aturan. Semua perkara susah diselesaikan, serba salah.

Kasus Paul bukanlah perkara baru, sederet nama tokoh, pejabat, atau buzzerRp terkenal dengan riwayat kasus penistaan agama. Tak tersentuh oleh hukum! Mereka masih bebas berkata semaunya tanpa diawasi.Sehingga, berharap adanya keadilan di tengah umat Islam tentu bagai pungguk merindukan rembulan. Sulit sekali dapat terwujud. Sistem sekuler membenarkan adanya tirani minoritas terhadap mayoritas. Kedamaian tercipta di antara sesama pemeluk agama hanya dalam angan-angan semata.

Para Khalifah telah memberi teladan kepada umat Islam dalam menyikapi para penista agama. Khalifah Abu Bakar ash- Shiddiq misalnya, yang memerintahkan untuk membunuh penghina Rasulullah saw. (Lihat: Abu Daud rahimahullah dalam Sunannya hadis No. 4363)

Hal yang sama juga dilakukan Khalifah Umar bin Kaththab ra., beliau pernah mengatakan, “Barang siapa mencerca Allah atau mencaci salah satu Nabi, maka bunuhlah ia!” (Diriwayatkan oleh Al-Karmani rahimahullah yang bersumber dari Mujahid rahimahullah)

Inilah sikap para pemimpin Islam, tegas dalam menindak para penista agama demi menjaga kemuliaan din Allah, pantang berkompromi atau bersikap lemah di hadapan penista. Sebab, salah satu maqashid syariat (tujuan-tujuan syariat) adalah hifdzhu ad-din (menjaga agama).

Maka, menjadi kewajiban bersama bagi umat Islam untuk memperjuangkan penegakan Islam. Dengan Khilafah, umat Islam tidak akan terhina dan syariat-Nya senantiasa terjaga. Wallahu a’lam bisshowab.

Post a Comment for "MENGAPA PENISTAAN AGAMA SEMAKIN MERAJALELA ?"