Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Maraknya Prostitusi Anak Islam Solusinya

Penyelesaian prostitusi butuh diterapkannya kebijakan yang didasari oleh syariat Islam. Harus adanya undang-undang yang tegas untuk mengatur keharaman bisnis apapun yang berkaitan dengan perzinahan dan pengeksploitasian tubuh perempuan sehingga dapat menekan aktivitas prostitusi.  Semua penerapan Ini Membutuhkan negara yang menerapkan aturan Islam secara sempurna dalam setiap sendi kehidupan. Karena hanya dengan penerapan sistem Islam itulah aktivitas prostitusi dan eksploitasi tubuh perempuan dapat dilenyapkan dari muka bumi ini.

Oleh : Dewi Sartika (Pemerhati Sosial)

Miris, prostitusi online yang melibatkan anak dibawah umur kembali terungkap. Prostitusi online yang terjadi di hotel Alona melibatkan 15 anak yang rata-rata usianya 15 sampai 16 tahun. Hal ini terungkap saat polisi menggerebek Hotel Alona, kreo, larangan, kota Tangerang tersebut.

Dikutip dari CNN Indonesia. Saat melakukan penggerebekan polisi mengamankan 15 anak di bawah umur, saat ini Belasan anak itu telah dititipkan ke pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak ( P2TP2A) dan balai rehabilitasi sosial anak membutuhkan perlindungan khusus (BRSAMPK) handayani dibawah naungan Kementerian Sosial “korban ada 15 orang, semuanya anak dibawah umur rata-rata umurnya 14 sampai 16 tahun. Ini yang menjadi korban.” kata Kabid humas Polda Metro Jaya yusri Yunus saat ditemui di Polda Metro Jaya Jumat (19, 3, 2021)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI menyoroti kasus prostitusi anak yang saat ini semakin marak tak terpantau karena di pasarkan melalui media sosial online. Menurut KPAI, bisnis haram ini karena andil pihak hotel yang tidak ketat dalam pengawasan terhadap pengunjungnya. “diduga peristiwa ini dipicu oleh adanya keterlibatan hotel yang menyediakan tempat terselenggaranya aktivitas tersebut, setelah pihak mucikari melakukan rekrutmen by online” ujar komisioner kPAI sub Komisi Perlindungan anak ai Maryati Solihah, ahad, ( 21, 3, 2021) tempo.co.

Prostitusi Online Buah dari Kapitalisme

Prostitusi anak bukanlah pertama kalinya terjadi di negeri ini. Namun, terbongkarnya kasus prostitusi yang melibatkan anak, hal ini menunjukkan bahwa prostitusi anak semakin marak dan belum menemukan solusi yang jitu untuk menyelesaikannya. Anak-anak yang terlibat dalam jaringan prostitusi berasal dari kondisi keluarga yang berbeda-beda, ada yang lari dari keluarga, putus sekolah, korban broken home, lingkungan, hingga pergaulan yang mengharuskan gaya hidup hedonis dan berpenghasilan instan, sehingga melakukan berbagai macam cara tanpa memperhatikan batasan dan norma-norma.

Inilah salah satu potret generasi saat ini yang kian hari kian carut-marut. Padahal, mereka adalah generasi penerus peradaban, masa depan bangsa ada di pundak mereka. Gaya hidup liberal yakni lepas dari tuntutan agama semakin mewarnai kehidupan masyarakat, rendahnya ketakwaan kepada sang pencipta serta gaya hidup konsumtif dan mewah menjadi faktor paling besar mendorong untuk terjadinya prostitusi, meski tidak dipungkiri faktor kemiskinan juga sering menjadi alasan klasik terjadinya prostitusi.

Masalah prostitusi baik yang secara terang-terangan maupun online adalah masalah klasik yang tak kunjung terselesaikan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah termasuk rehabilitasi. Namun, tidak menjadikan kegiatan ini semakin berkurang, tetapi malah semakin menjalar dan bertanya banyak.

Sepertinya pemerintah belum bisa bertindak tegas menangani praktek prostitusi dan dampak berantai yang diakibatkan oleh aktivitas ini. Di antara pandangan yang terkait persoalan ini adalah perlunya mekanisasi prostitusi agar tidak menimbulkan kerugian bagi perempuan dan anak-anak pelaku prostitusi, pandangan terhadap pengadaan lokalisasi merupakan bagian dari cara berpikir praktis alias tidak mau merepot yang justru akan semakin menumbuhsuburkan aktivitas prostitusi.

Prostitusi baik online maupun terang-terangan adalah buah dari sistem sekularisme dan kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Kapitalisme menjadikan segala sesuatu yang dianggap menghasilkan manfaat dijadikan komoditas penghasilan, tanpa memperdulikan batas-batas yang dilarang agama termasuk menjual tubuh perempuan.

Dalam hal ini seharusnya pemerintah menutup setiap celah yang dapat menghantarkan pada terjadinya prostitusi agar tidak ada lagi ruang untuk mengeksploitasi perempuan, yaitu mulai dari cara berpakaian, pendidikan, dan pergaulan sehingga mampu untuk menghentikan pihak-pihak yang ingin mengeksploitasi serta memanfaatkan tubuh perempuan dan anak-anak di bawah umur.

Islam Perisai yang Mampu Mengatasi Prostitusi

Prostitusi adalah perilaku yang terlarang dalam pandangan Islam dan setiap yang melanggar larangan tersebut akan menimbulkan kerusakan. Jika dalam sistem hari ini penyelesaian masalah prostitusi adalah rehabilitasi dan pengadaan lokalisasi, maka, berbeda dengan Solusi yang ditawarkan oleh Islam. Islam telah memberikan solusi dalam masalah prostitusi secara integral dan komprehensif, pilar pelakunya adalah negara masyarakat, individu dan keluarga.

Negara memiliki beban sebagai pengayom, pelindung, dan benteng bagi rakyatnya termasuk anak-anak. Mekanisme pelaksanaan aturan tersebut sebagai berikut.

Pertama: Penegakan hukum atau sanksi tegas kepada pelaku prostitusi beserta antek-anteknya. Dengan penerapan aturan dari sang pencipta Allah Subhanahu Wa Ta'ala sangat melarang aktivitas perzinahan. "dan janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan jalan yang amat buruk" (terjemah al Isra: 32)”

Hukuman dalam islam bagi para pezina adalah dirajam (dilempari batu) hingga mati tanpa ada rasa belas kasihan, jika ia sudah pernah menikah, cambuk 100 kali jika ia belum menikah diasingkan selama 1 tahun.

Kedua: Penerapan Sistem Ekonomi Islam.

Tak dipungkiri terjadinya prostitusi anak dibawah umur dikarenakan fungsi ibu sebagai pendidik dan penjaga anak tidak berjalan. Tuntutan ekonomi memaksa seorang ibu untuk bekerja dan meninggalkan anaknya, untuk itu negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup dan layak agar setiap kepala keluarga dapat bekerja dan mampu menafkahi keluarganya. Sehingga, tidak ada lagi anak-anak yang terlantar akibat ditinggal oleh ibunya bekerja, dan seorang perempuan akan fokus pada tugas utamanya yaitu mendidik, mengasuh, dan menjaga anaknya, karena tidak dibebani untuk mencari nafkah.

Ketiga; Penerapan Sistem Pendidikan

Negara wajib menetapkan kurikulum pendidikan berdasarkan Aqidah Islam yang akan menghasilkan individu bertakwa kepada sang pencipta. Pendidikan Islam juga akan menghasilkan masyarakat bertaqwa, yang senantiasa melaksanakan Amar ma'ruf nahi mungkar, sehingga dapat menjaga para generasi dari kerusakan.

Keempat: Penerapan Sistem Sosial

Negara wajib menerapkan sistem sosial yang dapat menjamin interaksi antara laki-laki dan perempuan agar berlangsung sesuai syariat, diantaranya mewajibkan setiap wanita untuk menutup auratnya dan menjaga kesopanan nya larangan berkhalwat, larangan menyebarkan perkataan, perilaku yang mengandung aroma porno grapfi dan pornoaksi yang dapat merangsang bergejolaknya naluri seksual di tengah-tengah masyarakat umumnya dan remaja khususnya.

Kelima; Penerapan Politik

Penyelesaian prostitusi butuh diterapkannya kebijakan yang didasari oleh syariat Islam. Harus adanya undang-undang yang tegas untuk mengatur keharaman bisnis apapun yang berkaitan dengan perzinahan dan pengeksploitasian tubuh perempuan sehingga dapat menekan aktivitas prostitusi.

Semua penerapan Ini Membutuhkan negara yang menerapkan aturan Islam secara sempurna dalam setiap sendi kehidupan. Karena hanya dengan penerapan sistem Islam itulah aktivitas prostitusi dan eksploitasi tubuh perempuan dapat dilenyapkan dari muka bumi ini. Wallahualam Bishawab

Post a Comment for "Maraknya Prostitusi Anak Islam Solusinya"