Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kompor Listrik, Untuk Kemaslahatan Siapa?

Berbicara mengenai impor gas, maka hal ini patut menjadi perhatian serius. Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Salah satunya adalah gas alam. Berdasarkan hasil survei seismik yang dilakukan kementerian ESDM di tahun 2020, Arifin Tasrif mengatakan cadangan minyak bumi dan gas di Indonesia masih akan tersedia untuk waktu lama. Dengan rincian ketersediaan minyak bumi hingga 9,5 tahun mendatang, sementara umur cadangan gas bumi Indonesia mencapai 19,9 tahun. Lantas mengapa pemenuhan nya masih dengan cara di impor?

Oleh: Sunaini, S.Pd (Aktivis Muslimah kota Batam)

Dapur tidak lengkap tanpa adanya kompor. Kompor pun tidak dapat mengepul jika tidak ada bahan bakarnya. Bahan bakar yang sering digunakan pada saat ini adalah LPG (liquified Petroleum Gas). Secara harfiah LPG adalah gas minyak bumi yang dicairkan.

Saat LPG habis, biasanya kaum ibu menyebutnya gas, maka aktivitas masak-memasak pun terhenti. Hal ini berakibat pada tertundanya pemenuhan kebutuhan perut. Apalagi untuk mendapatkan gas terbilang langka.

Melihat kelangkaan bahan bakar LPG, muncul lah ide 1 juta kompor listrik. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Mentri BUMN Erick Thohir. Dilansir dari laman, cnbcindonesia.com. (31/03/21). Ia mengatakan penggunaan kompor listrik/induksi dapat memberikan penghematan untuk negara dan rumah tangga sekaligus, penghematan itu mencapai Rp 60 triliun. Hal ini karena energi listrik lebih murah ketimbang dengan penggunaan gas yang saat ini masih dipenuhi dari impor.

Berbicara mengenai impor gas, maka hal ini patut menjadi perhatian serius. Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Salah satunya adalah gas alam. Berdasarkan hasil survei seismik yang dilakukan kementerian ESDM di tahun 2020, Arifin Tasrif mengatakan cadangan minyak bumi dan gas di Indonesia masih akan tersedia untuk waktu lama. Dengan rincian ketersediaan minyak bumi hingga 9,5 tahun mendatang, sementara umur cadangan gas bumi Indonesia mencapai 19,9 tahun. Lantas mengapa pemenuhan nya masih dengan cara di impor?

Sumber daya alam (SDA) yang melimpah apabila tidak dikelola dengan baik oleh negara, maka bisa dipastikan hasilnya tidak akan dinikmati oleh masyarakat. Keberadaan hanya menjadi simbol kekayaan semata. Sudah menjadi rahasia umum. SDA, jika dikelola dan diprivatisasi oleh sekelompok pengusaha atau asing, sudah tentu yang akan mendapatkan keuntungan besar adalah pengusaha tersebut. Sedangkan rakyat terus menderita dengan kebijakan yang dilayangkan.

Akankah dengan adanya kompor induksi ini mampu menjadi jawaban terpenuhinya semua kebutuhan masyarakat. Tentu tidak dapat dipastikan. Belajar dari yang sudah-sudah. Mulai dari pemasangan gas dari perut bumi secara langsung. Kemudian, hingga kelangkaan gas melon. Sampai pada akan dicabutnya gas melon tersebut, lalu digantikan dengan gas merah jambu non subsidi. Sekarang, ada lagi hembusan akan diproduksi 1 juta kompor induksi. Sebenarnya, pengadaan kompor induksi ini untuk kemaslahatan siapa? Benarkah semua rakyat akan menikmati? Atau yang diuntungkan hanyalah para kapitalis dan orang yang berduit saja?

Islam memandang bahwa dalam membuat kebijakan haruslah disandarkan kepada aturan syariat. Tidak diikuti oleh hawa nafsu yang menghasilkan aturan plin-plan dan merugikan berbagai pihak. Di dalam sistem Islam, SDA dikelola oleh negara, kemudian hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat untuk dinikmati. Ketentuan ini tidak bisa tawar-menawar. Apabila dalam pengelolaan dan penyaluran nya terdapat penyelewengan maka pihak tersebut akan dikenakan hukuman yang tegas. Hukuman kepada pelaku tersebut akan disaksikan oleh orang banyak. Sehingga menimbulkan efek jera dan menekan angka penyalahgunaan maupun penyelewengan.

Islam juga mengatur masalah kepemilikan. Baik kepemilikan pribadi, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Untuk kepemilikan negara seperti, SDA tidak boleh dikelola oleh asing. Hal ini dikarenakan sebagian besar keuntungan akan dinikmati oleh para kapitalis untuk menimbun kekayaan. Jelas, hal inilah yang menyebabkan kerugian besar bagi kas negara. Rakyat yang akan dibebankan oleh hutang negara pada akhirnya. Miris sekali.

Maka sudah sepantasnya, negara memutus mata rantai hubungan dengan para investor asing maupun aseng yang mengeruk habis kekayaan negeri. Negara wajib kembali pada jati dirinya, dengan otoritas sepenuhnya dalam mengelola kekayaan alam yang berlimpah tersebut. Pengelolaan tersebut juga seharusnya mengandalkan kemampuan anak bangsa yang tidak kalah hebatnya. Sehingga tidak perlu lagi impor barang, apalagi memakai tenaga kerja dari luar.

Hanya Islam satu-satunya aturan serta sistem yang mampu menjawab segala persoalan negara saat ini. Selagi masih bertahan pada sistem kapitalis-sekulerisme, maka yang akan diuntungkan hanyalah sekelumit orang, sedangkan rakyat akan terus gigit jari.

Marilah kembali kepada aturan Islam yang sempurna dan paripurna, pasti akan membawa keberkahan pada negeri. Menjadikan negeri baldatun warobbun ghofur.

Wallahu a'lam Bisshowabb

Post a Comment for "Kompor Listrik, Untuk Kemaslahatan Siapa?"