Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ironi Kenaikan Harga Di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan adalah bulan yang memiliki banyak keberkahan yang tidak terhitung jumlahnya. Seluruh umat muslim bergembira dan bersiap menyambutnya. Namun Ramadan tahun ini umat muslim masih dihadapkan pada situasi yang memprihatinkan. Dikarenakan untuk kedua kalinya Ramadan tahun ini umat Islam menjalaniya di masa pandemic covid19 dan resahnya umat dengan meroketnya harga bahan pokok menjelang Ramadan.

Oleh : Rey Fitriyani

Bulan Ramadan adalah bulan yang memiliki banyak keberkahan yang tidak terhitung jumlahnya. Seluruh umat muslim bergembira dan bersiap menyambutnya. Namun Ramadan tahun ini umat muslim masih dihadapkan pada situasi yang memprihatinkan. Dikarenakan untuk kedua kalinya Ramadan tahun ini umat Islam menjalaniya di masa pandemic covid19 dan resahnya umat dengan meroketnya harga bahan pokok menjelang Ramadan.

Menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, hari-hari saat ini ritmenya memang merangkak naik dengan persentase yang berbeda untuk setiap bahan pokok yang dijual.

"Beberapa komoditas ada yang (naik) sampai 50%. Daging ayam naik dari Rp 39 ribu ke Rp 45 ribu, itu yang terlihat sangat mencolok (kenaikannya)," katanya kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Minggu (11/4/2021).

Kenaikan harga bahan pokok ini ditengarai karena kesalahan pengelolaan negara dalam menyediakan pasokan yang memadai untuk rakyat. Langkah yang diambil oleh negara apabila produksi bahan pangan tidak mencukupi konsumsi masyarakat atau mengalami kekurangan adalah impor. Padahal kita tau semakin banyak negara mengimpor bahan pangan dari luar negri maka semakin banyak hutang yang diderita rakyat.

Kebijakan impor yang diambil oleh negara dalam mengatasi penyediaan bahan pangan adalah berasal dari sistem kapitalis.

Sistem kapitalis selalu berorientasi provit (keuntungan) bukan untuk kemaslahatan rakyat. Dengan kebijakan impor maka negara akan terus berhutang. Dan jika negara tidak sanggup untuk membayar hutang maka negara akan membayarnya dengan menjual aset negara dan kekayaan alam.

Aturan kapitalis membuat negara dijadikan ladang bisnis. Kekayaan alam menjadi target penguasaan asing untuk keuntungan pribadi dan korporasi. Aset-aset negara diperjualbelikan dengan mudah atas nama investasi dan hutang. Sehingga negara bukan lagi mengurusi kepentingan rakyat melainkan mengurusi kepentingan pribadi dan korporasi.

Betapa menyedihkan kondisi rakyat dalam naungan sistem kapitalis. Rakyat dibiarkan secara mandiri mengurus seluruh urusannya dan harus menanggung melonjaknya harga bahan pokok. Disamping itu rakyat juga diminta untuk menanggung hutang yang kian bertambah per tahunnya. Sungguh miris sekali nasib rakyat. Tak ada celah bagi rakyat untuk menikmati yang namanya kesejahteraan.

Sementara dalam Islam, negara ada untuk mengurusi kepentingan rakyat serta memenuhi hajat hidup rakyat. Kepala negara (khalifah) berkewajiban sebagai khodimatul ummat (pelayannya umat). Ia ada untuk mengurusi kebutuhan dasar rakyat seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Negara dalam Islam hadir untuk mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan bagi rakyat, tidak seperti kapitalis yang hanya mengejar profit ( keuntungan ) semata. Sesuai dengan sabda Rasullullah Saw :

“Imam (Khalifah) adalah raa’iin (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)

Demikianlah Islam. Islam ada sebagai solusi tuntas untuk mengatasi keresahan rakyat dalam mengatasi harga bahan pokok yang melonjak tinggi menjelang bulan Ramadan. Dan hanya dengan diterapkannya aturan Islam secara kaffah umat Islam bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang tanpa rasa was was akan naiknya harga kebutuhan pokok.

Post a Comment for "Ironi Kenaikan Harga Di Bulan Ramadan "