Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ibu, Pengemban Dakwah dan Ramadhan

Maka sejatinya para pengemban dakwah adalah seperti ibu juga, yang menjaga dan memberikan pelayanan terbaik kepada umat. Tidak berhenti meski ada ujian dan cacian serta rintangan sekalipun. Terus bersemangat untuk lebih mensiarkan Islam, terlebuh di bulan ramadan ini. Mengisinya dengan melakukan amar maruf nahi munkar. Sebab perkara ini adalah perkara wajib dan pahalanya sangat besar.

Tidak ada yang menyangkal, bahwa ibu menempati posisi yang tinggi dan mulia. Sebab keberadaannya bah matahari yang bersinar. Membawa dan memberikan kebaikan-kebaikan bagi keluarganya. Perannya tidak bisa digantikan oleh siapapun. Pengorbanannya tidak usah diragukan. Ibu rela melahirkan meski terkadang nyawa dipertaruhkan. Semangatnya dalam menjalankan tugas melayani keluarga tidak pernah surut meski dalam kondisi sakit sekalipun. Itulah sosok ibu yang perannya sangat luar biasa dalam kehidupan ini.

Maka dalam Islam, ibu sangat dihormati dan diperintahkan kepada anak-anaknya untuk memuliakan dan menghormatinya. Bahkan kedudukannya yang begitu mulia, Islam lebih mengutamakan ibu daripada aAyah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. “Sesungguhnya Allah berwasiat 3 kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat." (HR. Ibnu Majah, sahih dengan sawahid-nya).

Begitupun dengan para pengemban dakwah. Perannya tidak kalah mulia dengan peran ibu. Keberadaan pengemban dahkwah bagaikan air yang memberikan kesegaran bagi kehidupan. Tanpanya kehidupan ini akan mati dipenuh dengan kerusakan dan kemaksiatan. Maka keberadaan pengemban dakwah begitu mulia dan penting. Merekalah yang menunjuki manusia ke jalan yang benar. Meluruskan pemahaman, pemikiran dan perbuatan yang bengkok. Dengan amar maruf nahi munkar mengajak manusia kembali pada aturan yang benar yaitu Islam.

Banyak sekali dalil keutamaan para pengemban dakwah. Salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad SAW "Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk berlapis-lapis langit dan bumi, hingga semut di lubangnya, dan ikan paus, sungguh akan berselawat atas orang yang mengajarkan manusia kebaikan." (HR. Al-Tirmidzi dalam Sunan-nya dia berkata: "Hadis ini hasan sahih")

Begitu besarnya kedua peran tersebut dalam kehidupan ini. Maka keberadaannya tidak boleh hilang dan harus terus dijalankan. Akan tetapi, keduanya berbeda dari sisi motivasi dan dorongan. Dorongan menjalankan peran ibu lahir dari naluri alami yang diberikan oleh Allah pada sosok ibu. Dorongan ini akan sangat besar karena terkadang perannya tidak bisa digantikan. Meski tanpa persiapan dan ilmu yang banyak akan mampu menjalankan perannya.

Sedangkan para pengemban dakwah dorongannya adalah keimanan dan kesadaran meraih ridho Allah semata yang dibarengi dengan ilmu yang cukup. Tanpa itu semua tidak bisa menjalankan peran sebagai pengemban dakwah. Terkadang dorongan ini pun surut sebab adanya halangan dan rintangan. Baik yang datang dari dalam maupun luar. Halangan dari dalam manakala muncul rasa malas atau tergiur oleh nafsu dunia. Halangan dari luar seperti adanya tekanan dan ancaman dari penguasa atau masyarakat. Oleh karena itu, dorongan atau motivasi menjadi pengemban dakwah harus terus dijaga dan dipupuk.

Ramadhan adalah bulan yang penuh kebaikan. Setiap kebaikan yang dilakukan akan dibalas dengan lebih baik dan dilipatgandakan. Allah memberikan ampunan bagi siapa saja yang bertaubat dan memberikan keberkahan bagi setiap hambanya. Dipenghujung ramadan Allah berikan satu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan. Oleh karena itu, bulan ini adalah bulan yang sangat tepat untuk membentuk pribadi yang bertaqwa dan men-cash motivasi untuk menjadi pengemban dakwah yang ikhlas.

Maka sejatinya para pengemban dakwah adalah seperti ibu juga, yang menjaga dan memberikan pelayanan terbaik kepada umat. Tidak berhenti meski ada ujian dan cacian serta rintangan sekalipun. Terus bersemangat untuk lebih mensiarkan Islam, terlebuh di bulan ramadan ini. Mengisinya dengan melakukan amar maruf nahi munkar. Sebab perkara ini adalah perkara wajib dan pahalanya sangat besar. Selain itu, pengemban dakwah juga mengisi ramadan ini dengan lebih banyak lagi membaca, memahami dan mentadaburi Al-Quran. Lebih banyak belajar ilmu agama lainnya dan menghindari dari kesibukan dunia yang melenakan.

Pasti, kelelahan dan kesulitan serta ujian akan didapatkan. Maka sikap teguh dan istiqomah serta sabar adalah harus diupayakan. Sebab, semua itu akan sirna dan diganti dengan kebahagiaan, ganjaran dan pahala. Seperti halnya saat orang berpuasa diterik panas. Pasti akan merasakan haus dan lapar. Akan tetapi, dahaga dan laparnya sirna manakala air melewati kerongkongannya.

Sebagaimana doa saat berbuka puasa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. “Dzahabadh dhoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru insyaa-allah” Artinya: "Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap insya Allah”.

Sungguh peran pengemban dakwah ini ada pada diri setiap muslim. Sebab, setiap muslim diberikan amanah untuk menyampaikan kebaikan meski satu ayat dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Oleh karenanya, mari semuanya bersemangat mengisi bulan suci Ramadan ini dengan aktivitas yang berpahala, terutama adalah berdakwah. Dakwah yang sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam.

Wallahu’alam Bish-showab

Post a Comment for "Ibu, Pengemban Dakwah dan Ramadhan"