Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

GANTUNG DIRI, ANTARA MITOS, DEPRESI, DAN SOLUSI DALAM ISLAM

Islam memandang bahwa bunuh diri itu tidak dibenarkan. Di mana Allah SWT melarang umatnya untuk melakukan pembunuhan ataupun bunuh diri. Bagi mereka yang melanggarnya akan diancam dengan neraka dan ia akan kekal di dalamnya.

Oleh : M Azzam Al Fatih | Penulis dan aktivis Dakwah.

Meningkatnya kasus bunuh diri dengan cara gantung diri di kabupaten Gunungkidul semakin meningkat. Di bulan ke 3 tahun 2021 saja telah tercatat sebanyak 14 kali. Hebohnya lagi, hanya berselang dua hari kasus kasus tersebut terulang. Pada tanggal 16 Maret 2021, seorang laki - laki telah ditemukan meninggal dalam keadaan gantung diri di teras rumahnya pada pukul 17.19 wib.

Sebelumnya Seorang pemuda pada hari Minggu (14/3/2021) malam nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon jambu mete. Ironisnya aksi nekat yang dilakukan T (22) warga Kelurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo ini diduga gara gara telepon seluler miliknya sering lemot hingga membuatnya jengkel. Upaya untuk minta uang orang tuanya untuk tukar tambah dengan HP baru belum terlaksana karena belum ada uang.

Selain dua kasus tersebut telah terjadi gantung diri di beberapa wilayah dan merata. bahkan telah merata. Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul mencatat pada tahun 2018 setidaknya ada sebanyak 30 kasus, kemudian di tahun 2019 sebanyak 32 kasus. Sedangkan, pada tahun 2020 sebanyak 29 kasus. Dari sekian banyak kasus, Gantung diri masih menjadi cara paling dominan dilakukan para pelaku untuk mengakhiri hidupnya.

Demikianlah, rentetan bunuh diri dengan gantung diri yang seolah menjadi sebuah tradisi. Sebab, kasus gantung diri di daerah Gunungkidul seolah menjadi kebiasaan orang untuk mengakhiri segala persoalan hidupnya. Dan telah berlangsung cukup lama.

Di antara kasus bunuh diri dengan gantung diri tersebut sebagian dilakukan di usia produktif yakni di atas usia 25 ke atas dengan sebab yang beraneka, ada yang di kejar utang rentenir, sakit menahun yang tidak kunjung sembuh, depresi karena ekonomi. Dan yang terakhir membuat tercengang, yakni gegara handphone rusak belum bisa diservis karena belum ada uang.

Tingginya angka bunuh diri dengan gantung diri tersebut , akhirnya mendapat perhatian khusus dari banyak pihak. Baik masyarakat, tokoh, maupun pihak yang berwajib. Mereka mencoba mengurai satu persatu penyebab bunuh diri dan mencoba mencari solusinya. Salahatunya Bapak Slamet Rahardjo, seorang pengamat sosial kemanusiaan. Beliau mengaku prihatin dengan tingginya angka kematian bunuh diri dengan cara gantung diri. Lanjutnya, penyebabnyal berbagai macam, di antaranya depresi dan penyakit menahun. Olehkarena itu beliau berpendapat perlunya ahli psikologi di setiap kapanewon atau kecamatan.

Lalu, sebagian warga yang lain menganggap bahwa kasus gantung diri di Gunungkidul merupakan mitos pulung gantung. Sehingga sebagian masyarakat menyembunyikan lesung selama 3 hari berturut-turut sebagai solusi mengusir pulung gantung tersebut.

Pihak berwajib pun, tidak tinggal diam, mereka melakukan penyuluhan dan melakukan pendampingan kepada warga masyarakat. Mereka juga melakukan melakukan pendataan warga yang melakukan bunuh diri sekaligus sebab melakukan tindakan tersebut.

Dari sekian solusi yang pernah dilakukannya, ternyata tidak dapat menekan angka gantung diri. Faktanya Sampai saat ini terus terjadi bahkan semakin tinggi.

Salah satu penyebab melakukan gantung diri karena mengalami depresi, sakit menahun yang tidak bisa berobat lantaran tidak punya jaminan dan biaya. akhirnya jenuh dengan penyakit atau merasa membebani istri/ suami dan anak - anaknya. Keinginan membeli motor kemudian minta ke orang tua dan orang tua pun tidak mempunyai uang, percekcokan antar pasangan, dan Maslah - masalah lainya yang dapat memicu bunuh diri. Maka sangat jelas bahwa faktor terbesar penyebabnya adalah faktor ekonomi.

Islam, yang Allah SWT ciptakan sebagai solusi problematika hidup manusia. Sebuah agama yang mengatur segala aspek kehidupan, sejak mau tidur hingga tidur kembali. Sejak dalam kandungan hingga ke liang, kubur semua ada dalam Diennul Islam.

Islam memandang bahwa bunuh diri itu tidak dibenarkan. Di mana Allah SWT melarang umatnya untuk melakukan pembunuhan ataupun bunuh diri. Bagi mereka yang melanggarnya akan diancam dengan neraka dan ia akan kekal di dalamnya. Allah SWT berfirman yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." [Terjemah QS. An-Nisa' ayat 29]

"Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." [Terjemah QS. An-Nisa' ayat 30]

Karena Allah SWT melarangnya maka, Islam yang merupakan agama Allah SWT memberikan solusi.

Pertama: setiap individu wajib untuk menuntut ilmunya Allah SWT. Terutama mempelajari kembali tentang aqidahnya. Agar dirinya kuat dan Istiqomah untuk mentaati syariatnya, menjalankan perintah dan menjauhi segala larangannya. Taatkala melanggar syariat, senantiasa takut terhadap azab siksa neraka. Dengan demikian, takutlah untuk melakukan bunuh diri.

Kedua: setiap individu - individu harus peka terhadap permasalahan orang lain. Berusaha mendampingi dan memberikan solusi untuk menyelesaikan permasalah hidupnya. Sebab Allah SWT berfirman :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَآئِرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَـرَا مَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَۤائِدَ وَلَاۤ آٰ مِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَـرَا مَ يَبْـتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَا نًا ۗ وَاِ ذَا حَلَلْتُمْ فَا صْطَا دُوْا ۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اَنْ تَعْتَدُوْا ۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَا لتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِ ثْمِ وَا لْعُدْوَا نِ ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban), dan Qalaid (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 2)

Ketiga: Negara adalah salah satu peran terpenting dalam menangani kasus gantung diri. Negara dalam hal ini adalah khilafah yang menjadi perisai dan pelindung bagi umat. Ia bertanggung jawab atas semua masalah hidup umat manusia. Tanpa tebang pilih agama, ras, suku dan bangsa. Tujuan Allah menciptakan manusia semata-mata agar mereka taat dan beribadah kepada Allah. Tujuan inilah yang mengharuskan negara khilafah untuk berperan sebagai pelayan, pengayom dan pelindung rakyat.

Sebagaimana kita jumpai dalam buku shiroh nabi dan shohabat bahwa peradaban Islam telah terbukti mengayomi dan melindungi warganya tanpa tebang pilih selama berabad- abad.

Maka pantaslah, sistem Islam wajib di perjuangkan kembali demi terwujudnya kehidupan yang mensejahterakan dan membahagiakan. Sehingga kasus bunuh diri dengan gantung diri bisa teratasi dan tidak ada lagi yang melakukannya.

Wallahua'lam bishowwab

Post a Comment for "GANTUNG DIRI, ANTARA MITOS, DEPRESI, DAN SOLUSI DALAM ISLAM"