Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bulan Ramadhan Datang, Harga Pokok Pun Menjulang

Tak lebih dari satu bulan lamanya, umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Kemudian setelah itu merayakan Hari Raya Idul fitri 1421 Hijriah pada bulan berikutnya. Biasanya, stok dan harga pangan sangat rawan menimbulkan gejolak masyarakat pada dua momen ini.

Oleh: Ira Fuji Lestari

Tak lebih dari satu bulan lamanya, umat Islam akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Kemudian setelah itu merayakan Hari Raya Idul fitri 1421 Hijriah pada bulan berikutnya. Biasanya, stok dan harga pangan sangat rawan menimbulkan gejolak masyarakat pada dua momen ini.

Seperti dilansir dari situs resmi Informasi Pangan Jakarta, beberapa Komoditas memang terpantau merah alias mengalami kenaikan per 11 April dibandingkan dengan hari sebelumnya. Ketua Umum Ikatan Perdagangan Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri mengatakan, hari-hari saat ini ritmenya memang merangkak naik dengan presentase yang berbeda untuk setiap bahan pokok yang dijual. “Beberapa komoditas ada yang (naik) sampai 50%. Daging ayam naik dari Rp 39ribu ke Rp 45ribu, itu yang terlihat sangat mencolok (kenaikannya),”katanya (cnbcindonesia.com11/4/2021).

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, bahwa harga barang kebutuhan pokok stabil dan cukup untuk Ramadan dan Idul Fitri tahun ini. “Kementerian Perdagangan menjamin, pada Ramadan tahun ini harga-harga bapok terjangkau bahkan cenderung akan menurun. Kita juga menjamin pasokan bapok tertentu, mudah-mudahan Ramadan tahun ini kita dapat beribadah dengan lebih tenang dan lebih baik,” ujar Lutfi saat meninjau harga dan pasokan barang kebutuhan pokok di Pasar Induk Kramat Jati dan Pasar Kramat Jati (kompas.com, 7/4/2021).

Ramadhan telah tiba, seluruh kaum muslimin bersuka cita menyambut bulan yang penuh dengan ampunan dan berkah. Para ibu pun sibuk mempersiapkan berbagai macam menu berbuka dan sahur agar bisa menjalankan ibadah puasa dengan sempurna. Terlebih, di tengah pendemi saat ini tentu asupan makanan pun harus baik serta bergizi agar imunitas terjaga.

Namun, seolah sudah menjadi rutinitas dan sebuah momok yang menakutkan, setiap menjelang Ramadan harga seluruh bahan pokok selalu mengalami kenaikan yang sangat drastis seperti kenaikan pada minyak goreng, ayam, bahkan buah dan sayur. Padahal, semua itu merupakan kebutuhan pokok masyarakat yang jika tidak di penuhi akan mengalami kematian. Tentu ini menjadi sebuah ironi, bagaimana bisa beribadah dengan tenang sementara harga bahan pokok selalu merangkak naik?

Ramadan merupakan bulan yang sangat dinantikan oleh kaum muslimin sebab pahala akan dilipatgandakan. Tentu, umat Islam menginginkan kekhusyuan dalam menjalani ibadah di bulan suci ini. Sayangnya, semua itu hanya akan menjadi sebuah angan-angan. Sebab, ketika harga bahan pokok naik otomatis mereka akan fokus untuk mencari nafkah untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Alhasil, ibadah Ramadan pun terlupakan. Target Ramadan berlalu begitu saja seiring dengan kesibukan mencari penghasilan dan meningkatkan pendapatan.

Ironis, Indonesia dengan kekayaan dan sumber daya alam melimpah, namun faktanya masih banyak penduduk yang mengalami kekurangan, bahkan gap social pun sangat terlihat antara si miskin dan si kaya. Selain itu, negara nyatanya banyak melakukan impor bahan pokok makanan untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Sesungguhnya, ini semua berpangkal dari system kapitalisme yang diterapkan di negeri ini. Sistem ini memang hanya menjadikan negara sebagai regulator dan fasilitator bukan sebagai pengurus urusan rakyat. Sehingga, negara gagal dalam menjalankan fungsinya untuk mengatur sektor pertanian.

Solusi Islam

Secara prinsip, kunci kestabilan harga dan terjangkau oleh rakyat terletak pada fungsi politik negara yang benar. Islam menetapkan fungsi pemerintah sebagai pelayan dan pelindung rakyat. Rasulullah Saw menegaskan : “Imam (khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyat nya “ (HR. Ahmad).

Untuk menjaga stabilitas harga, penguasa/pemerintah akan mengambil kebijakan sebagai berikut:

Pertama, pemerintah akan memastikan lahan-lahan pertanian berproduksi dengan menegakan hukum tanah yang syar’i. Selain itu, negara juga akan memberikan dukungan kepada petani/peternak.

Kedua, menjaga rantai tata niaga, yaitu dengan mencegah dan menghilangkan distorsi pasar, diantaranya melarang penimbunan, melarang riba, melarang praktik tengkulak, dsb. Hal itu disertai dengan penegakkan hukum yang berefek jera sesuai aturan Islam.

Ketiga, negara mengedukasi masyarakat terkait dengan ketaqwaan dan syariat bermuamalah. Hal ini di bentuk dimulai dari keluarga dan diperkuat dengan sistem pendidikan yang diselenggarakan negara.

Demikianlah cara sistem Islam dalam menjaga kestabilan harga pangan. Mekanisme Islam akan memastikan seluruh rakyat dapat tercukupi kebutuhannya. Sebab, Islam bukan hanya agama semata, tetapi Islam merupakan system kehidupan yang mengatur seluruh aspek . Sehingga, ketentraman dan ketenangan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat. Semua ini hanya akan terealisasi jika negara menerapkan aturan Islam dalam semua lini kehidupan dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Wallahu A’lam Bish Shawwab.

Post a Comment for "Bulan Ramadhan Datang, Harga Pokok Pun Menjulang"