Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Beginilah Bantuan Sosial Khilafah Kepada Korban Bencana

Dalam Sejarah Khilafah memiliki sistem untuk mencegah bencana dan apabila terjadi pun bantuan yang diberikan cepat, tepat dan tak bertele-tele. Ketika gempa terjadi, Khalifah Umar bertanya apakah Beliau sebagai pemimpin yang tidak adil ataukah ada masyarakatnya yang bermaksiat.

Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Badai Siklon Seroja telah selesai menghantam provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Banyak korban yang kehilangan nyawa, keluarga dan harta benda.

Beberapa tempat putus akses transportasinya. Listrik sempat padam selama 2 pekan dan jaringan internet terganggu. Kemudian viral satu postingan mengenai bantuan sembako bagi korban badai Seroja sepekan yang lalu.

Dalam postingan itu bantuan yang diterima warga hanya 1 kg beras, sebutir telur dan sebungkus mi instan. "Bantuan ini dibagikan pada Jum'at 16 April 2021 di rumah ketua RT. Bantuan itu kami merasa seperti diolok pemerintah. Karena hanya telur satu butir ini kami lucu", Kata Yuli Bureni, salah seorang warga penerima bantuan di Desa Merbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang Rabu (merdeka.com,21/4).

Ketika badai Seroja menerjang, Yuli kehilangan kebun kacang, beberapa ekor sapi hanyut tersapu banjir dan atap rumahnya berantakan dihantam angin. Yuli tidak sendiri, ada 164 KK di Desa Merbaun yang terdampak bencana mendapatkan jumlah bantuan yang sama dengan Yuli.

Miris benar di negeri yang kaya raya ini dengan bersistem demokrasi dan berideologikan kapitalisme sekuler, bantuan untuk korban bencana sangat minimalis. Bantuan dari organisasi sosial kemasyarakatan tampaknya lebih cepat, tanggap dan tangkas dibandingkan dengan bantuan dari penguasa.

Bantuan yang minimalis dan lambat disebabkan oleh proses birokrasi yang berbelit-belit dan administrasi yang rumit.

Belum lagi SDA dikuasai kapitalis-kapitalis besar sehingga pendapatan Negara kecil dan anggaran bantuan sosial untuk bencana menjadi minim. Ini tentu berbeda dengan bantuan sosial dari negeri yang menerapkan sistem Khilafah (bukan demokrasi, kapitalis).

Dalam Sejarah Khilafah memiliki sistem untuk mencegah bencana dan apabila terjadi pun bantuan yang diberikan cepat, tepat dan tak bertele-tele. Ketika gempa terjadi, Khalifah Umar bertanya apakah Beliau sebagai pemimpin yang tidak adil ataukah ada masyarakatnya yang bermaksiat.

Beliau pun menasehati masyakarakatnya di depan umum, untuk tidak berlaku maksiat. Ketika masyarakat Hijaz diterpa musim kelaparan selama 9 bulan, Khilafah menurunkan bantuannya.

Khalifah Umar bin Khattab ra ke beberapa gubernurnya di wilayah Kekhilafahan Islam yang sangat luas itu. Beliau menulis surat kepada Amr bin Ash di Mesir, Muawiyah bin Abu Sufyan di Syam dan Sa'ad bin Abi Waqqash di Irak.

Surat yang disampaikan kepada Amr bin Ash berbunyi, "bismillahirrahmanirrahim, dari hamba Allah, Umar kepada Amr bin Ash. Ba'da salam apakah engkau membiarkan saya dan penduduk Hijaz binasa, sementara penduduk Anda di sana hidup senang. Kirimkanlah bantuan!" Bantuan pun berdatangan. Dari Gubernur Amr, masyarakat Hijaz mendapatkan 20 kapal yang memuat gandum dan lemak.

Sementara lewat jalur darat dikirimkan bantuan sebanyak 1.000 unta yang mengangkut gandum dan ribuan helai pakaian. Gubernur Muawiyah mengirim 3.000 unta yang membawa gandum dan 3.000 unta lainnya untuk membawa pakaian. Sedangkan Gubernur Sa'ad bin Abi Waqqash mengirim bantuan 2.000 unta yang membawa gandum.

Rakyat pun tak perlu kelaparan lagi. Setiap harinya, pemerintahan Khilafah menyembelih 120 binatang untuk menjamin kebutuhan pangan masyarakat. Pernah suatu malam makan malam dihadiri 7.000 orang.

Ini lah letak keagungan Islam lewat sistemnya Khilafah. Umat adalah tuan dan Khalifah beserta para pejabatnya memosisikan diri sebagai pelayan rakyat. Dan kerahmatan Islam bukan untuk warga Khilafah yang beragam suku, bangsa dan agamanya.

Khilafah pun pernah menolong daerah mayoritas Non Muslim seperti Irlandia dan Amerika Serikat dalam great famine (kelaparan besar) kala itu. Amerika Serikat menandatangani surat bantuan berisi makanan kepada warga AS dari Khilafah (surat itu berbahasa Arab).

Khilafah menolong Irlandia yang juga terkena kelaparan hebat. Sumbangan Khilafah terhadap Irlandia jauh melampaui sumbangan ratu Inggris kala itu (Ratu Victoria) yang cuma dua ribu pound saja.

Khalifah Turki Usmani, Sultan Abdul Majeed mengirim lima kapal penuh makanan ke Kota Drogheda pada Mei 1847. Sejak saat itu, warga Irlandia berterima kasih dan terus mengingat kebaikan Kekhilafahan Islam.

Perhatian yang luar biasa dan bentuk toleransi terbaik dari Khilafah Islam. Irlandia telah terbiasa dengan simbol Islam seperti bulan sabit dan bintang. Bahkan ada tim sepakbola Irlandia yang menggunakan bulan sabit bintang sebagai simbol klubnya.

Bantuan yang supermegah, maksimalis dan bermanfaat ini tidak akan mungkin terwujudkan jika sistem kehidupan yang masih dipakai adalah demokrasi kapitalis. Sistem demokrasi kapitalis hanya memperkaya golongan tertentu dan apatis terhadap korban bencana.

Oleh karena itu, jika ingin mewujudkan sebuah sistem yang kuat yang pro rakyat, tegakkanlah Khilafah alaa minhajin nubuwwah. InsyaAllah semua negeri akan makmur baldatun thayyabatun wa rabbun ghafur. []

Bumi Allah SWT, 13 Ramadhan 1442H (25 April 2021)

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

#DenganPenaMembelahDunia

Post a Comment for "Beginilah Bantuan Sosial Khilafah Kepada Korban Bencana"