Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ADAKAH KEMULIAAN PEREMPUAN DALAM SISTEM KAPITALIS?

Anggapan para pegiat gender bahwa problem perempuan yang termarginalkan adalah dikarenakan minimnya perempuan ditampuk kepemimpinan atau pengambil kebijakan. Mereka menganggap bahwa yang bisa mensejahterakan perempuan adalah dengan keterwakilan perempuan pada tampuk pemerintahan. Dengan ia berada di tampuk kepemimpinan, ia akan dapat menegakkan hak-hak perempuan. Juga dapat mengatasi masalah yang timbul karena pandemi menggunakan perspektif perempuan. Maka tak heran dalam perayaan hari perempuan sedunia kali ini,tema yang diambil adalah tentang kepemimpinan perempuan. Anggapan mereka adalah kaum perempuan di seluruh dunia belum mendapatkan sepenuhnya hak-haknya. Lalu mereka menuntut untuk kesamaan hak antara laki laki dan perempuan untuk bisa memimpin. Menuntut perempuan juga berkiprah sama seperti kaum laki laki yaitu menjadi pemimpin atau pembuat kebijakan. Namun, benarkah kepemimpinan perempuan menjanjikan perbaikan nasib perempuan dan umat manusia?

Oleh: Meitya Rahma, S.Pd

Masih ingat lagu "Wanita di jajah pria sejak dulu". Syair lagu ini sepertinya menginspirasi para pegiat gender untuk memperjuangkan kaum hawa agar setara dengan para laki laki. Mereka menganggap bahwa perempuan selalu menjadi fihak yang termarginalkan, terkungkung oleh budaya patriarki. Perempuan memang sosok yang unik dengan segala yang ada pada dirinya.

Spesialnya perempuan, selain mothers day, perempuan juga diperingati setiap tanggal 8 Maret sebagai hari perempuan sedunia atau Internasional Women's Day (IWD). Selama lebih dari 100 tahun hari perempuan telah diperingati oleh perempuan sedunia. International Women’s Day (IWD) kemarin mengambil tema “Women in leadership: Achieving an equal future in a COVID-19 world” (Wanita dalam kepemimpinan: Mencapai masa depan yang setara di dunia pada masa Covid-19). Melalui peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini, mengingatkan pada kaum hawa bahwa perempuan, perlu memimpin dengan efektif, dan menggunakan perspektif perempuan agar pemulihan kesejahteraan bagi masyarakat baik laki-laki maupun perempuan dapat tercapai (mediaIndonesia.com, 4/3/21). Kampanye ini diharapkan dapat menjadi ajakan positif bagi semua pihak. Tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki untuk turut serta menciptakan dunia yang ramah terhadap perempuan (Kompas.com, 8/3/2021). Kepemimpinan perempuan menjadi tema karena mengingat masih sedikit perempuan yang duduk dalam posisi pengambil keputusan.

Para pegiat gender berpendapat bahwa kepemimpinan perempuan akan menjadi solusi berbagai persoalan perempuan yang terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk dalam pandemi kali ini (mediaIndonesia.com,4/3/21). Pandemi yang tidak berujung juga membuat perempuan sedikit banyak mengalami dampaknya. Ekonomi yang semakin sulit membuat para wanita ikut terjun dalam pencarian nafkah keluarga. Bahkan wanita menjadi tulang punggung keluarga, karena banyaknya pemecatan pekerja laki laki. Untuk itu dalam kaitannya dengan pandemi ini, pemerintah mengeluarkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Program ini berasal dari Kementerian Keuangan. Pemerintah melihat bahwa yang terdampak secara ekonomi akibat covid-19 ialah mayoritas perempuan. Maka sasaran dari PEN adalah perempuan. Dalam pelaksanaannya harus dikawal agar efektif dan tepat sasaran (mediaIndonesia.com., 4/3/21)

Untuk menegakkan hak-hak perempuan dan mengatasi masalah yang timbul selama pandemi maka kepemimpinan perempuan harus dioptimalkan. Kepemimpinan perempuan harus diintegrasikan dalam perumusan dan implementasi kebijakan program pemulihan dan menjawab pandemi covid-19.

Anggapan para pegiat gender bahwa problem perempuan yang termarginalkan adalah dikarenakan minimnya perempuan ditampuk kepemimpinan atau pengambil kebijakan. Mereka menganggap bahwa yang bisa mensejahterakan perempuan adalah dengan keterwakilan perempuan pada tampuk pemerintahan. Dengan ia berada di tampuk kepemimpinan, ia akan dapat menegakkan hak-hak perempuan. Juga dapat mengatasi masalah yang timbul karena pandemi menggunakan perspektif perempuan. Maka tak heran dalam perayaan hari perempuan sedunia kali ini,tema yang diambil adalah tentang kepemimpinan perempuan. Anggapan mereka adalah kaum perempuan di seluruh dunia belum mendapatkan sepenuhnya hak-haknya. Lalu mereka menuntut untuk kesamaan hak antara laki laki dan perempuan untuk bisa memimpin. Menuntut perempuan juga berkiprah sama seperti kaum laki laki yaitu menjadi pemimpin atau pembuat kebijakan. Namun, benarkah kepemimpinan perempuan menjanjikan perbaikan nasib perempuan dan umat manusia?

Fakta yang ada saat ini menggambarkan bahwa keberadaan kepemimpinan perempuan, level presiden sekalipun belum bisa menyelesaikan problem kehidupan yang ada. Indonesia pernah dipimpin seorang perempuan, lalu apakah persolan perempuan di negri ini selesai dengan indah? tentunya tidak. Hal ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan bukanlah menjadi solusi atas persoalan yang menimpa perempuan dan masyarakat. Juga membuktikan bahwa bukan karena ketidak setaraan antara laki laki dan perempuan yang menjadi problematika perempuan dan umat manusia. Berarti ada faktor lain yang menjadi penyebab problematika perempuan dan masyarakat saat ini. Apakah pandemi yang menyebabkan keterpurukan perempuan? Tentunya bukan, karena jauh sebelum pandemi pun kondisi perempuan seluruh dunia mengalami penderitaan dan pelecehan. Khususnya muslimah di berbagai penjuru dunia selama ini juga terus terjadi. Di Uighur China misalnya, kasus pelecehan muslimah di Uighur sungguh sangat memperhatikan. Mereka bukan hanya ditahan tapi juga diperkosa, bahkan disiksa. Beberapa mantan tahanan dan seorang penjaga mengatakan kepada BBC bahwa mereka mengalami atau melihat bukti dari sistem pemerkosaan massal, pelecehan seksual, dan penyiksaan yang terorganisasi (Kompas.com,4/2/2021). Lalu sebenarnya apa penyebab problematika perempuan dan masyarakat saat ini belum juga selesai.

Kapitalisme Penyebab Hilangnya Kemuliaan Perempuan

Mencari akar permasalahan berbagai problematika dunia dan perempuan sebenarnya tak lain adalah karena bercokolnya kapitalisme. Selama kapitalisme masih menguasai tatanan kehidupan maka kesejahteraan hanya milik para kapital (pemilik modal). Kapitalisme membuat umat manusia akan terus berada dalam kubangan problem kehidupan yang tak kunjung usai. Bukan hanya masalah perempuan saja, namun juga problematika umat di setiap lini kehidupan saat ini. Problematika perempuan itu adalah imbas dari kebijakan dan aturan yang bersumber dari pemikiran kapitalis.

Hampir 100 tahun kita kehilangan perisai dan penjaga umat. Pelindung bukan hanya kaum hawa, tapi umat seluruh dunia. Sejak runtuhnya perisai umat "Daulah Khilafah", kaum perempuan benar-benar kehilangan hak-hak mereka. Banyak penderitaan dan pelecehan terhadap perempuan khususnya muslimah di berbagai penjuru dunia. Sepanjang sejarah kegemilangan Islam, melalui sistim khilafah, nasib perempuan selalu dimuliakan. Islam menempatkan perempuan sebagai seorang yang wajib dijaga dan dilindungi. Negarapun menjamin kehormatan dan kesejahteraan wanita. Sehingga ia dapat benar-benar memfokuskan diri untuk menjadi pencetak generasi dan ummu warobbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Bukan mencetak menjadi mesin uang bagi keluarga. Mencetak generasi yang faqih fiddin yang akan menjadi pengisi peradaban.

Keberadaan perempuan di sektor publik bukan berarti menanggalkan kewajiban mereka sebagai ummu warabatul bayt. Peran mereka di masyarakat juga bukan dalam rangka aktualisasi diri sebagai bentuk kesetaraan gender. Namun lebih kepada memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi umat. Misalkan para wanita yang berprofesi sebagai dokter, para medis, ilmuwan yang keahlian mereka dibutuhkan oleh negara. Bukan sekedar eksistensi atau bentuk eksploitasi terhadap kaum hawa. Islam telah mengatur bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama dihadapkan Allah dengan peran sesuai fitrahnya masing-masing. Jadi tak perlu menuntut untuk setara dengan laki laki Islam pun sudah memberikan hak kemuliaan bagi perempuan. Hanya saja, perempuan yang menghinakan dirinya sendiri, rela menjadi obyek eksploitasi. Atas nama hak asasi mereka bebas mengumbar auratnya, rela untuk dieksploitasi. Orientasi materi yang menjadikan perempuan menghinakan kemuliannya. Perempuan menginginkan untuk dimuliakan, namun ia sendiri rela dihinakan. Begitulah perempuan dalam sistim kapitalis, kemuliannya menjadi hilang.

Nabi Muhammad saw dengan membawa syariat Islam telah menjadikan perempuan mulia dan terhormat. Islam menjadi jaminan terpenuhinya hak-hak perempuan. Islamlah yang dapat memuliakan perempuan dengan segala aturan yang ada di syariat Islam. Tentang bagaimana seorang perempuan berpakaian, bergaul, dan aturan lainnya terkait perempuan. Untuk itu, upaya seruan kembali kepada sistem Islam sudah menjadi hal yang di lakukan di tengah-tengah masyarakat. Membumikan opini bahwa perempuan mulia hanya dalam naungan Islam wajib kita gaungkan.

Disaat para pegiat feminis dan gender menggaungkan ide ide mereka bak racun berbalut madu. Kitapun jangan kalah untuk menggaungkan ide Islam. Jika dianalogkan, mereka membawa racun, kita siap dengan penawarnya. Menyiapkan penawarnya dengan menyampaikan ide Islam ke tengah tengah masyarakat. Yang kita rasakan saat ini adalah butuh adanya sistim yang menjaga kemuliaan peremoan Bukan hanya perempuan, namun kemuliaan,kesejahteraan seluruh umat. Hanya sistim yang mulia yaitu sistim Islam yang dapat mewujudkannya.

Post a Comment for "ADAKAH KEMULIAAN PEREMPUAN DALAM SISTEM KAPITALIS? "