Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Urgensi Berislam Kaffah, Umat Islam Berjuanglah

Seorang Muslim wajib masuk Islam secara kaffah, yakni masuk ke dalam syariat dan hukum Islam secara keseluruhan bukan malah dijadikan seperti prasmanan. Mengambil sebagian syariat yang sesuai hawa nafsu namun sebagiannya lagi mengambil hukum selain dari Islam, misalnya kapitalisme.

Oleh : Irayanti S.AB (Relawan Media)

"Andai cintamu benar, niscaya kau taat kepadanya. Sungguh, pencinta itu sangat taat kepada apa yang dia cinta." 

Imam Syafi'i

Kita tentu mencinta Allah dan Rasulullah. Kita pun adalah perindu surga. Namun, ketika aturan buatan manusia mengatur dunia, yang ada hanya nestapa dimana-mana.

Cinta butuh Bukti

Dari penggalan bait syair Imam Syafi'i di atas, begitupula seharusnya kecintaan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam tentu harus dibuktikan secara nyata dengan meneladani dan menaati beliau.

Dibuktikan dengan menerapkan syariat yang beliau bawa secara keseluruhan atau kaffah. Bukan hanya perkara romantis namun juga sisi politis. Karena apa yang di bawa Rasulullah yakni Islam, bukan sebatas agama ritual, spritual dan ahlak saja. Semua aspek kehidupan telah diatur dalam Islam.

Cinta yang sebenarnya akan melahirkan ketaatan. Sebaliknya, ketaatan merupakan bukti kecintaan. Klaim cinta kepada Rasulullah bisa dinilai dusta jika ternyata yang lain lebih ditaati daripada beliau. Petunjuk Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam diganti oleh petunjuk selainnya serta hukum-hukum/aturan yang beliau bawa ditinggalkan dan diganti dengan sistem buatan kafir barat.

Esensi Khilafah

Seorang Muslim wajib masuk Islam secara kaffah, yakni masuk ke dalam syariat dan hukum Islam secara keseluruhan bukan malah dijadikan seperti prasmanan. Mengambil sebagian syariat yang sesuai hawa nafsu namun sebagiannya lagi mengambil hukum selain dari Islam, misalnya kapitalisme.

Sebagaimana firman Allah Subhana Wa Ta'ala yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh....." (TQS. Al- Baqarah : 208)

Ibarat ikan yang hidup namun bukanlah di air yang merupakan habitatnya. Begitulah kondisi kaum Muslimin saat ini. Umat Islam hidup tapi tidak diatur dengan syariah Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tanpa sistem pemerintahan Islam (khilafah) maka syariah Islam tidak dapat tegak.

Syekh Abdurrahman Al-Jaziri (w. 1360 H) menuturkan, “Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib” (Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzâhib Al-Arba’ah, Juz V/416)

Syeikh Musthafa Shabari, seorang Syeikhul Islam Khilafah Ustmaniyah menyatakan: “Khilafah itu adalah pengganti dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam dalam melaksanakan syariah Islam yang datang melalui beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasalam. Dalam kitab Al-Ahkaam Al-Sulthaniyyah, Imam Al Mawardi Asy-Syafi’i mengatakan: “Imamah itu menduduki posisi untuk khilafah nubuwah dalam menjaga agama dan pengaturan urusan dunia.” (Imam Al Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-Ahkaam Al-Sulthaniyyah, hal 5).

Khilafah sangat urgen untuk umat Islam. Selain sebagai bukti bahwa kita mengesakan Allah dan mengikuti Rasulullah juga menjadi solusi bagi segala problematika umat manusia. Sumber daya alam yang dikuasai oleh para kapitalis tamak hingga umat termiskinkan secara sistemik, penjajahan Palestina oleh Israel, hancurnya generasi akibat sekulerisme-liberalisme, kejahatan dan kriminalitas serta masih banyak lagi masalah umat di dunia akan terselesaikan.

Syariah Islam Tegak dengan Khilafah “Dan kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an sebagai penjelas atas semua perkara, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslim.” (QS Al-Nahl: 89)

Al-Qur’an disebutkan sebagai petunjuk, penjelas semua perkara dan kabar gembira bagi umat Islam. Tapi, mengapa masih banyak yang mengabaikan hukum-hukum Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an? Dam justru lebih menyenangi hukum sesuai kepentingannya sendiri. Mungkin perintah tentang salat, puasa, zakat dilakukan. Namun, perintah untuk menegakkan hukum Allah pada aspek yang lain diabaikan.

Dalam sistem demokrasi, menegakkan syariat Allah adalah nihil. Kalaupun ada syariat Allah yang dijalankan, itu hanya sebatas ibadah ritual yang sifatnya individual saja. Belum pernah ada pula UU dalam demokrasi yang memberi ruang bagi hukum Islam agar diterapkan. Karena jelas asas adanya sistem demokrasi kapitalisme saat adalah sekulerisme yakni pemisahan agama dari kehidupan.

Itulah mengapa sistem demokrasi meniscayakan adanya penegakan syariat Islam secara kafah. Sistem yang sesuai serta pas untuk syariat Allah ditegakkan hanyalah sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah.

Wallahu a'lam bishowwab[]

Post a Comment for "Urgensi Berislam Kaffah, Umat Islam Berjuanglah"