Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perempuan Oh Perempuan, Di Negara Kapitalis Kau Dihinakan

Inilah yang terjadi jika negara sebagai penegak hukum menerapkan sistem kapitalisme atas dasar pemisahan agama dari kehidupan.  Selain itu, sejarah kelam kaum perempuan pun juga terjadi sebelum datangnya peradaban islam.

Oleh : Aprilia Restiana

Tanggal 08 Maret selalu dijadikan peringatan hari Perempuan Internasional atau International Women's Day. Kaum perempuan yang mengusung ide kesetaraan gender menjadikan hari ini sebagai aksi protes terhadap hak-hak dan kewajiban perempuan yang dinilai tidak setara dengan laki-laki. Mereka menuntut adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam memimpin, berkarya,dan berkarir.

Selain itu, melihat kondisi perempuan yang memprihatinkan akibat diskriminasi, pelecehan, kekerasan, dan pelanggaran kehormatan di lingkungan kerja juga menjadi salah satu latar belakang dari aksi ini.

Dikutip dari laman CNNIndonesia.com, sebagai bentuk peringatan Hari Perempuan Internasional yang bertepatan tanggal 08 Maret 2021, Aliansi Gerakan Perempuan Bersama Rakyat (Gempur) mengadakan aksi unjuk rasa yang berpusat di stadion Gajayana,Malang. Namun selang beberapa menit, aksi ini justru dibubarkan oleh aparat karena diduga tidak adanya surat pemberitahuan ke polresta Malang Kota, masih dalam kondisi pandemi, dan PPKM Mikro.

Pembubaran aksi pun menuai kericuhan. Sebab sebanyak 21 masa yang diamankan dalam truk melakukan pengrusakan dengan menendang kaca truk hingga pecah. Hal ini dipicu atas tindakan represif aparat yang memukuli peserta aksi.

Sementara itu, melalui keterangan resmi Aliansi Gempur menegaskan bahwa berdasarkan UU No. 09 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka umum , demonstrasi cukup diajukan melalui pemberitahuan ke kepolisian dan itu sudah dilakukan.

Sungguh miris nasib kaum perempuan. Hidup di negara kapitalis menjadikan mereka dihinakan. Sementara aksi demonstrasi tak akan mampu merubah nasib mereka. Nyatanya aksi demonstrasi yang dilakukan justru berbuah dengan pengusiran dan kekerasan. Sebab peringatan hari Perempuan Sedunia tersebut sebatas ceremonial saja tanpa mampu memberikan perubahan kesejahteraan pada perempuan.

Paham kesetaraan gender sebenarnya diawali pada tahun 1792 oleh Mary Wollstonecraft, pelopor gerakan feminisme di Inggris dalam bukunya yang berjudul “A Vindication of the Right of Women”. Dalam buku tersebut Mary Wollstonecraft mengisahkan berbagai bentuk deskriminasi yang dialami perempuan Barat saat itu. Wanita yang hidup di negara kapitalis saat itu dianggap sebagai makhluk yang lemah dan penuh emosional sehingga tidak dapat berfikir secara rasional dalam menentukan sikap. Mereka kehilangan hak suara dalam memilih. Mereka juga mendapat penyiksaan, pelecehan, pengengkangan, dan kehilangan hak waris.

Inilah yang terjadi jika negara sebagai penegak hukum menerapkan sistem kapitalisme atas dasar pemisahan agama dari kehidupan.

Selain itu, sejarah kelam kaum perempuan pun juga terjadi sebelum datangnya peradaban islam.

Seperti yang terjadi di Yunani yang dikenal sebagai peradaban yang modern ternyata ada tangisan perempuan yang dianggap sebagai makhluk pembawa penderitaan dan musibah dibaliknya. Kondisi ini juga tak jauh berbeda terjadi di Romawi, India, China, Arab, Eropa, dan Persia.

Namun berbeda cerita jika yang diterapkan adalah sistem hukum islam (khilafah) yang dibuat langsung oleh Sang Khaliq Yang Maha Bijaksana Lagi Maha Mengetahui. Sebab islam datang membawa rahmat bagi seluruh alam, menjaga dari kedzaliman dan menjamin setiap hak makhluk didalamnya.

Hal ini dibuktikan oleh Lady Craven seorang wisatawan asal Inggris di dalam bukunya yang berjudul “A Journey Through the Crimea to Constantinople” tahun 1789. Dalam buku tersebut ia menulis “perlakuan orang Turki terhadap para perempuan layak dijadikan contoh oleh semua negara dan perempuan Turki dalam kehidupan sehari-hari adalah makhluk bernapas yang paling bahagia.” Kala itu Lady Craven mengunjungi Konstantinopel, ibu kota kekhilafahan Utsmaniyah.

Dalam islam, kehidupan perempuan dijamin dan dimuliakan dengan pemeliharaan yang adil. Islam telah mengatur hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam syariatnya. Keadilan yang diberikan kepada perempuan tidak bergantung pada kemampuan dalam mendapatkan penghasilan, kepemimpinan dan hak waris yang sama rata melainkan atas dasar kodrat yang dimilikinya sebagai anugrah yang istimewa.

Selain penjaminan keadilan, islam juga menjaga kehormatan perempuan seperti firman Allah dalam Q.S An-Nisā : 19 yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya."

Selain itu, Rosulullah pun selalu mengingatkan untuk berbuat baik kepada perempuan dalam sabdanya "Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para perempuan" (HR. Muslim).

Dalam islam, perempuan memiliki peranan dalam kepemimpinan yaitu sebagai ibu yang wajib mendidik, menjaga, dan memelihara anak-anaknya agar menjadi generasi mulia dan bertakwa. Perempuan juga mengemban tugas sebagai pengatur rumah tangga yang memelihara, menjaga, dan memberikan ketentraman seluruh anggota keluarga. Hal ini yang menyebabkan perempuan dipandang sebagai makhluk yang penting dalam sumbangsihnya memelihara dan menjaga peradaban umat.

Oleh karena pentingnya peranan perempuan, islampun menerapkan berbagai syariat sebagai upaya untuk melindungi mereka. Diantaranya aturan dalam menutup aurat, bergaul, berpolitik dan sebagainya. Sehingga dibutuhkan institusi politik yang menerapkan syariat islam secara sempurna (khilafah) sebagai penjamin terwujudnya kesejahteraan wanita, menjaga dari pengeksploitasian, kekerasan dan pelecehan terhadapnya. Lantas, masihkah kita ragu untuk turut andil dalam menegakkannya?

Post a Comment for "Perempuan Oh Perempuan, Di Negara Kapitalis Kau Dihinakan"