Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KTT Quad dan Pentingnya Menumbuhkan Kesadaran Politik

Indonesia mampu lepas dari kepentingan AS maupun negara-negara penjajah lainnya, dan mampu menjadi negara yang berpengaruh di kancah politik internasional, jika menjadikan Islam sebagai ideologi dan sistem dalam kehidupan. Lantas bagaimana upaya untuk menuju kesana?

Baru-baru ini, Presiden AS Joe Biden mengadakan pertemuan empat arah pertama dengan para pemimpin Australia, India, dan Jepang. Pertemuan yang disebut sebagai KTT Quad ini dilakukan untuk meningkatkan upaya memperkuat aliansi karena kekhawatiran kebangkitan China.

Dalam menghadapi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang semakin ekspansif, mitra Dialog Keamanan Kuadrilateral berkomitmen mempromosikan tatanan berbasis aturan yang bebas dan terbuka, yang berakar pada hukum internasional memajukan keamanan dan kemakmuran serta melawan ancaman terhadap keduanya di Indo-Pasifik dan sekitarnya.

“Kami mendukung supremasi hukum, kebebasan navigasi dan penerbangan, penyelesaian sengketa secara damai, nilai-nilai demokrasi, dan integritas teritorial,” ungkap Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Perdana Menteri India Narendra Modi, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, dan Presiden A.S. Joe Biden dalam sebuah pernyataan usai pertemuan virtual mereka pada 12 Maret 2021. (ipdefenseforum. com, 24/03/21)

Memahami Potensi Strategis Indonesia

Indonesia memiliki letak geografis yang strategis di kawasan Indo-Pasifik. Dalam konteks politik global Tiongkok, Indonesia memiliki sejumlah jalur ekonomi dan perdagangan penting yang dilalui peta jalan megaproyek OBOR (One Belt One Road).

Sementara bagi politik internasional AS, Indonesia adalah negara penyedia sumber daya alam yang tak lain adalah bahan mentah bagi roda produksi dalam sistem ekonomi kapitalisme di mana AS adalah pemain utamanya.

Bukan hal yang baru untuk diketahui bahwa Indonesia adalah negeri yang memiliki kekayaan alam begitu melimpah. Indonesia juga negara terbesar di kawasan Asia Tenggara, bahkan Indo-Pasifik.

Kondisi tersebut semestinya membuat Indonesia mampu menjadi negara yang memiliki peran sentral terkait berbagai isu di kawasan Indo-Pasifik. Namun pada kenyataannya, Indonesia belum mampu memerankan hal tersebut.

Di dalam Mafahim Siyasiyyah disebutkan bahwa, pasca Indonesia menyatakan kemerdekannya dari penjajahan Belanda, AS memiliki keinginan menggantikan posisi Belanda. Meski awalnya mendapat penentangan, namun dengan berbagai rekayasa, akhirnya AS pun berhasil mendudukkan pengaruhnya di negeri zamrud katulistiwa ini.

Hanya saja, berbeda dengan gaya penjajahan Belanda, AS menggunakan penjajahan gaya baru atau biasa dikenal sebagai neoimperialisme. Hal itu bisa kita lihat seperti adanya hubungan politik, ekonomi dan budaya, yang secara lahiriah seolah nampak hanya sebagai hubungan internasional, bukan dikte-dikte imperialistik.

Begitulah kondisi Indonesia hingga hari ini, berada dalam cengkraman penjajah. Sehingga meski memiliki potensi jumlah penduduk dengan mayoritas muslim terbesar, ditambah potensi ekonomi dan militer yang kuat, namun tak mampu menjadi negara yang berpengaruh dan berperan di kancah internasional.

Namun di sisi lain, perkembangan Islam yang terus meningkat, menjadi kekhawatiran tersendiri bagi negara-negara adidaya, khususnya AS dan umumnya dunia Barat. Potensi umat Islam yang ada di Indonesia, dapat menjadi kekuatan yang menentukan nasib AS, baik terkait kepentingannya di Indonesia, maupun di kawasan Indo Pasifik.

Tentu saja, kekuatan tersebut tidak mungkin terwujud ketika tatanan masyarakat dan negara yang ada di Indonesia berada dalam dominasi kapitalis seperti hari ini. Kekuatan Indonesia bisa terwujud hanya ketika Indonesia menjadikan Islam sebagai ideologi dan sistem kehidupan.

Menumbuhkan Kesadaran Politik

Indonesia mampu lepas dari kepentingan AS maupun negara-negara penjajah lainnya, dan mampu menjadi negara yang berpengaruh di kancah politik internasional, jika menjadikan Islam sebagai ideologi dan sistem dalam kehidupan. Lantas bagaimana upaya untuk menuju kesana?

Yang paling pertama harus dilakukan yaitu membangun kesadaran politik. Dimana dalam Islam, politik dimaknai sebagai pengaturan urusan umat baik di dalam maupun di luar negeri. Pengaturan urusan umat di dalam negeri dilakukan oleh negara dengan menerapkan sistem Islam di dalam negeri.

Sedangkan pengaturan urusan umat di luar negeri adalah dengan mengadakan hubungan dengan berbagai negara, bangsa dan umat lain, serta menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Maka, memahami politik luar negeri menjadi perkara yang penting untuk menjaga negara dan umat, menjadi landasan untuk mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia serta untuk mengatur hubungan umat Islam dengan umat lainnya dengan benar.

Kesadaran politik bukan sekadar kesadaran akan situasi-situasi politik, konstelasi internasional, peristiwa-peristiwa politik, mengikuti politik internasional atau mengikuti aktivitas-aktivitas politik. Namun, kesadaran politik adalah memandang dunia dengan sudut pandang yang khas.

Bagi seorang Muslim, sudut pandang itu adalah akidah Islam, yaitu Laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata Laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah. Jika mereka mengucapkannya berarti mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan alasan yang benar.”

Adapun bagaimana menerapkan kesadaran politik itu pada politik internasional, maka kita bisa belajar dari peristiwa-peristiwa politik pada masa Rasulullah SAW, serta bagaimana beliau memandang semua peristiwa itu dengan sudut pandang khas, yakni menyebarkan dakwah Islam.

Pada masa Rasulullah SAW, posisi Quraisy merupakan negara adidaya di Jazirah Arab dan mereka merupakan penentang dakwah Islam. Maka, Rasulullah SAW memusatkan perhatiannya untuk membatasi aktivitas politik dan perang terhadap Quraisy saja. Sementara terhadap negara-negara lain, Rasulullah SAW bersikap netral.

Ketika Rasulullah SAW mengetahui bahwa Yahudi Bani Khaibar telah melakukan perundingan dengan Quraisy untuk bersekutu guna menyerang Madinah dan menghancurkan kaum Muslim, maka Rasulullah SAW mengambil jalan perundingan damai dengan Quraisy. Sementara terhadap Yahudi Bani Khaibar, beliau mengerahkan segenap kemampuan untuk menghancurkan negara tersebut.

Pasca dibuatnya perjanjian damai dengan Quraisy dan dikalahkannya Yahudi Bani Khaibar, bangunan posisi daulah Islam di Madinah semakin kuat. Hal ini akan semakin memudahkan penyebaran dakwah Islam, baik di seluruh Jazirah Arab maupun di luar Jazirah Arab.

Itulah cara Rasululllah dalam memandang peristiwa politik. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW kemudian dicontoh oleh para sahabat sepeninggal beliau, juga oleh umat Islam setelahnya. Sehingga pengaruh Islam Ideologi yang diemban oleh sebuah negara mampu memengaruhi konstelasi politik internasional. Bahkan negara Islam menjadi negara adidaya pada masanya.

Namun, sejak keruntuhan bangunan negara Islam pada tahun 1924 hingga kini, umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia terombang ambing oleh kepentingan negara-negara adidaya. Maka sudah semestinya, berbagai peristiwa politik yang terjadi di dunia hari ini semakin menambah kesadaran politik kita dan semakin membuat kita rindu akan tegaknya negara yang berasaskan ideologi Islam. Wallahua'lam.

Penulis : N. Vera Khairunnisa

Post a Comment for "KTT Quad dan Pentingnya Menumbuhkan Kesadaran Politik"