Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Generasi Moderat dalam Perpektif Liberal: "Inklusif dan Toleran"

Upaya membumikan moderasi beragama semakin gencar dilakukan pemerintah. Workshop yang diadakan oleh Kemenag tersebut merupakan salah satu upaya internalisasi moderasi agama dalam lingkup pendidikan. Dan lagi, mata pelajaran yang menjadi sasaran adalah SKI (Sejarah Kebudayaan Islam).

Oleh Retno Purwaningtias, S.IP (Aktivis Muslimah)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (terjemah QS. At-Taubah: 32)

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, Muhammad Zain, mengadakan workshop secara daring dengan puluhan Guru MA/MAK mata pelajaran SKI. Poin penting dari pertemuan ini adalah agar para guru madrasah pengampu mata pelajaran Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) menyampaikan materi secara komprehensif. Targetnya adalah untuk membentuk peserta didik menjadi generasi yang moderat. (kemenag.go.id, 26/2/2021)

Imbauan yang disampaikan oleh Kemenag bertujuan agar siswa memiliki pandangan yang utuh atas fakta-fakta sejarah Islam. Zain mencontohkan tentang kejayaan Islam di Spanyol yang telah melahirkan para filsuf hebat seperti Ibnu Rusyid dan tokoh mufassir Abi Abdullah al-Qurtuby. Oleh sebab itu, guru tak cukup sekadar menjelaskan perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu kepada para siswanya, tetapi juga perlu mengelaborasi bagaimana sikap dan perilaku umat Islam pada masa itu.

"Kebesaran Islam di Spanyol dan berjaya selama 750 tahun karena para ulama dan muslim Spanyol kala itu mempraktikkan Islam yang inklusif, terbuka dan toleran”, kata Zain. (sindonews.com, 26/02/21).

Upaya membumikan moderasi beragama semakin gencar dilakukan pemerintah. Workshop yang diadakan oleh Kemenag tersebut merupakan salah satu upaya internalisasi moderasi agama dalam lingkup pendidikan. Dan lagi, mata pelajaran yang menjadi sasaran adalah SKI (Sejarah Kebudayaan Islam).

Aspek moderat yang ditekankan tentu saja dapat menyesatkan orientasi pengajaran materi sejarah Islam. Siswa diajarkan untuk memahami ajaran agama serta mengamalkannya dengan toleran adalah cara halus untuk menjauhkan generasi dari Islam kafah. Tujuan sebenarnya adalah untuk melahirkan bibit-bibit generasi yang memiliki pemikiran Islam inkusif (terbuka) yang dapat menerima pemikiran Barat yang semakin deras diaruskan.

Mengimbau para guru untuk mengajarkan materi sejarah Islam secara komprehensif, artinya sudah semestinya materi sejarah Islam disampaikan dan diajarkan secara utuh dan menyeluruh. Karena arti kata komprehensif sendiri dalam KBBI memiliki bermakna "luas dan lengkap yang meliputi ruang lingkup atau isi". Bukan dengan menghapus atau mendistorsi sejarah kekuasaan Islam dan Khilafah. Karena ada banyak sekali keteladanan yang bisa kita ambil dari para pemimpin-pemimpin besar Islam. Mereka berhasil membangun peradaban Islam yang mampu memimpin dunia selama hampir 1400 tahun lamanya. Nilai-nilai ini yang seharusnya diberikan kepada peserta didik untuk memperkuat karakter mereka.

Anggapan yang mengatakan bahwa kebesaran Islam di Spanyol dulu adalah karena para ulama dan muslim Spanyol mempraktikkan Islam yang inklusif, terbuka dan toleran juga perlu ditelisik kembali. Bila memaknai inklusif sebagaimana cara pandang liberal, ini adalah sebuah penyesatan sejarah. Nilai-nilai inklusif dan toleran ala liberal yang dibungkus dalam jubah moderasi beragama akan membuat generasi dan umat Islam semakin jauh dan asing dari ajaran agamanya sendiri.

Moderasi yang memiliki kecenderungan untuk mengambil jalan tengah adalah cara musuh-musuh Islam agar umat Islam menerima ide yang mereka bawakan, seperti pluralisme dan sekulerisme. Beragama secara moderat berarti beragama menyesuaikan dengan kebudayaan setempat. Ciri-cirinya yaitu cenderung menolak hukum-hukum yang berasal dari Sang Pencipta dan menggantinya dengan hukum-hukum buatan akal manusia, serta melenyapkan "truth claim" yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Dengan lenyapnya truth claim tersebut, maka musuh-musuh Islam dapat dengan mudah melemahkan umat Islam untuk bangkit.

Dengan demikian, seperti penjelasan di awal tulisan ini, bahwa moderasi dalam beragama ini adalah cara halus yang dilakukan oleh Barat untuk memastikan kebangkitan umat Islam tidak akan pernah terjadi. Memberikan pengajaran materi sejarah Islam pada bagian-bagian yang dianggap aman saja oleh mereka. Materi-materi yang dianggap ekstrem dan radikal seperti Khilafah dan jihad dianggap materi yang berbahaya, sehingga tidak boleh diajarkan. Padahal Allah mengharuskan umat Islam masuk ke dalam Islam secara kafah. (keseluruhan), tidak mengimani sabagian tetapi meninggalkan sebagian yang lain, apalagi mencampuradukkan dengan pemikiran di luar Islam.

Allah berfirman, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Umat harus waspada terhadap rancangan sistematis--moderasi beragama--ini yang sudah didesain oleh Barat untuk menjauhkan dari kebangkitan dan kembalinya tegaknya Khilafah. Cara halus ini ditempuh oleh Barat dan musuh-musuh Islam karena mereka paham betul bahwa ketika umat Islam bangkit dengan menggenggam syariat Islam secara kafah, eksistensi mereka akan goyah dan perlahan punah. Penjajahan ekonomi, budaya, dan politik yang selama ini menjadi metode baku mereka dalam menggenggam dunia akan terhenti.

Wallahu'alam Bisshowwab.

Post a Comment for "Generasi Moderat dalam Perpektif Liberal: "Inklusif dan Toleran""