Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Di Balik Sistem Kufur, Nyawa Jadi Taruhannya

Jumlah penderita depresi dan stres hingga berani menghabisi nyawanya sendiri memang mengalami peningkatan. Penyebab stres mulai dari masalah rumah tangga hingga penyebab lainnya. Fakta yang menyayat hati memang, dan juga tidak bisa dibenarkan pilihan untuk bunuh diri. Hanya saja, kesempitan dan kepelikan hidup dalam sistem yang tidak manusiawi seperti saat ini memang begitu menyesakkan dada.

Oleh: Muzaidah (Aktivis Muslimah)

Karena harta tidak cukup untuk menghidupi keseharian, setiap manusia rela melakukan apa saja tanpa melihat standar halal haramnya. Padahal setiap manusia sudah ada yang menjamin untuk keberlangsungan hidupnya selama di dunia yaitu Allah Swt.

Tanpa disadari atau tidak, memang perlu adanya ikhtiar dan tawakal untuk mencapai sesuatu yang di inginkan. Baik itu ingin menambah perekonomian maupun popularitas dalam kancah kehidupan.

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh wanita yang berada di Medan, karena suami belum bisa memberikan pemenuhan kebutuhannya, dengan berani meninggalkan suami untuk selama-lamanya.

Kecamatan Gunung Meriah, Desa Marjani Pematang warga di gemparkan ada sosok mayat wanita yang bunuh diri di kamar mandinya. Karena stres impitan ekonomi yang tidak dapat menghidupi kebutuhan keluarganya. Korban berinisial ES(30) ini tidak sanggup karena suaminya tidak kunjung memberikan nafkah yang cukup di balik pandemi seperti ini, dengan itu ES berani untuk bunuh diri (neswsumut.id, 11/03/2021).

Jumlah penderita depresi dan stres hingga berani menghabisi nyawanya sendiri memang mengalami peningkatan. Penyebab stres mulai dari masalah rumah tangga hingga penyebab lainnya. Fakta yang menyayat hati memang, dan juga tidak bisa dibenarkan pilihan untuk bunuh diri. Hanya saja, kesempitan dan kepelikan hidup dalam sistem yang tidak manusiawi seperti saat ini memang begitu menyesakkan dada.

Sebagaimana Allah Swt. Telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا.

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. An-nisa:29).

Memang benar jika sistem kapitalisme yang diterapkan hari ini memang memberikan dampak pedih dan sedih bagi masyarakat. Mulai dari sisi ekonomi, sampai masyarakat kecil pun di buat sulit untuk berusaha. Harus ada modal dan akses informasi pasar yang memadai, hingga harus bersaing dengan pemodal besar. Apalagi di saat pandemi yang tidak mampu di kelola oleh pemerintah saat ini, sangat berdampak besar bagi seluruh rakyat. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat harus membayar segala sesuatunya (tidak hanya pangan, sandang dan papan) tetapi juga kesehatan, pendidikan, transportasi, komunikasi (minimal pulsa dan kuota), air, listrik dan juga kebutuhan energi dengan sendirinya.

Ketika ekonomi keluarga di guncang maka kehidupan rumah tangga ikut pula hancur. Apalagi dalam sistem ini bukannya menguatkan keimanan dan ketakwaan, masyarakat semakin terkikis keimanannya dan di jauhkan dari agama. Bagaimana tidak, kapitalisme maupun liberalisme yang diadopsi negeri ini berakidahkan sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan). Menafikan Allah selaku pengatur untuk manusia padahal itu terbaik baginya, sehingga persoalan keluarga biasanya datang dengan kondisi ekonomi yang lemah.

Berbeda dengan Islam yang di terapkan dalam bingkai khilafah, yang mengakui kebutuhan individu sebagai sesuatu yang menjadi hak hidup dan mesti dipenuhi baik kebutuhan individu maupun kebutuhan kolektif manusia. Karena itu, khilafah akan membuat regulasi yang memudahkan setiap individu untuk bisa memenuhi kebutuhannya terutama bagi seorang ayah yang punya kewajiban menafkahi keluarga. Regulasi tersebut jelas di dasarkan kepada Islam, untuk kebutuhan kolektif manusia. Negara khilafah justru berposisi sebagai penyelenggaranya dan mendistribusikan untuk siapa saja bisa menikmati dan memanfaatkannya. Dengan begitu, keluarga akan sejahtera dan jauh dari malapetaka yang akan memunculkan niat untuk bunuh diri.

Rasulullah Saw. Bersabda:

الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR Al-Bukhari dan Ahmad)

Dalam hal ini pemimpin sekarang harus amanah dalam menjalankan tugasnya yang harus melayani rakyat hingga memenuhi kebutuhannya. Akan tetapi menjadikan persoalan terus berkepanjangan bahkan bisa tidak peduli, karena seorang pemimpin hari ini tidak ada rasa ketakwaan dalam dirinya. Sehingga syariat Islam masih diabaikan, bahkan seharusnya sumber bumi itu di kelolanya dan di kembalikan kepada rakyatnya. Rela dijadikannya sebagai investasi bagi orang asing, akibat tindakan salahnya sebagian besar penduduk lebih untuk memilih bunuh diri karena impitan ekonomi.

Maka setiap rakyat harus paham benar, bahwa hidup bersanding dengan pemimpin dan sistem yang tidak bersumber dari Allah Swt. akan menambahkan duka dan derita yang terus berkembang bahkan tidak kenal lagi dengan kampung akhirat di mana setiap diri akan bertanggung jawab terhadap apa yang di perbuatnya. Maka solusi jangka panjangnya hanya ada dala khilafah (sebuah daulah Islam) sajalah seluruh manusia terkhususnya akan mendapatkan kesejahteraan, serta keimanan dan ketakwaan akan terjaga sampai akhir hidupnya.

Wallahualam bissawab.

Post a Comment for "Di Balik Sistem Kufur, Nyawa Jadi Taruhannya"