Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

WAKAF DIMINTA, BERHARAP UMAT PERCAYA?

apabila negara berbicara mengenai wakaf atau syariah Islam, pastikan dulu bahwa negara mampu menumbuhkan trust atau kepercayaan pada publik khususnya kaum muslimin. Ketika umat Islam hanya dijadikan obyek pendulang suara juga dana, sementara aspirasi untuk melaksanakan Islam kaffah justru malah dicampakkan bahkan dikriminalisasi. Para tokoh serta ulama mereka ditangkapi, umatnya acapkali dituduh intoleransi sementara ajarannya dimonsterisasi.

Oleh : Reny K. Sarie (Pegiat Opini Islam & Pemerhati Sosial)

Presiden Joko Widodo meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) pada Senin, 25 Januari 2021. Acara peluncuran tersebut berlangsung di Istana Negara, Jakarta, dan diikuti sejumlah hadirin secara virtual. Dalam sambutannya, Presiden yang juga bertindak selaku Ketua Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya mencari jalan untuk mengurangi ketimpangan sosial dan mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air. Salah satu langkah tersebut ialah melalui pengembangan dan pengelolaan lembaga keuangan syariah.

“Salah satu langkah terobosan yang perlu kita pikirkan adalah pengembangan lembaga keuangan syariah yang dikelola berdasarkan sistem wakaf. Potensi wakaf di Indonesia sangat besar, baik wakaf benda tidak bergerak maupun benda bergerak termasuk wakaf dalam bentuk uang,” ujarnya.

Sudah sejak lama pemerintah yang menjalankan negara di atas sistem kapitalis sekuler ini memiliki syahwat besar terhadap potensi dana yang dimiliki mayoritas penduduk negeri ini, yakni kaum muslimin. Di Indonesia, potensi wakaf memang sangat besar. Berdasarkan data yang diterima Presiden, potensi aset wakaf per tahunnya mencapai Rp 2.000 triliun di mana potensi dalam bentuk wakaf uang dapat menembus angka Rp 188 triliun. Belum dari sumber lain seperti zakat, infaq dan shodaqoh.

Maal atau harta dalam pandangan Islam memiliki pemahaman yang khas. Harta di dalam Islam bukanlah menjadi tujuan hidup bagi seorang Muslim dalam menjalani perannya di dunia yang merupakan tempat persinggahan sementara sebelum menuju kehidupan kekalnya yakni alam akhirat. Dalam Islam, orang tidak dinilai keutamaannya dari harta yang dimilikinya. Namun dilihat sebanyak apa harta yang sudah disedekahkan untuk meraih ridho Allah SWT. Orang yang tak punya harta pun tidak menjadi halangan untuk mencapai ridhoNya. Ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bagaimana beliau sebagai seorang Rasul, bahkan sebagai pemimpin Daulah Islam ketika itu senantiasa hidup sederhana. Bahkan hingga akhir hayat pun beliau tidur di atas kasur beralaskan pelepah kurma yang seringkali menimbulkan bekas di punggung beliau. Beliau pun kerap mengikat batu di perutnya karena menahan lapar.

Inilah pandangan khas terhadap harta yang hanya dimiliki oleh Islam dan kaum muslimin. Dan pandangan ini dimiliki ketika seseorang telah memiliki keimanan yang kuat terhadap Allah SWT dan RasulNya.

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW mengutus Muadz bin Jabal ra. Ke Yaman, beliau berpesan “Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang kamu sampaikan kepada mereka ialah syahadat Lâ Ilâha Illallâh wa anna Muhammadar Rasûlullâh -dalam riwayat lain disebutkan, ‘Sampai mereka mentauhidkan Allâh.’- Jika mereka telah mentaatimu dalam hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allâh Azza wa Jalla mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah mentaati hal itu, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allâh mewajibkan kepada mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang fakir. Dan jika mereka telah mentaati hal itu, maka jauhkanlah dirimu (jangan mengambil) dari harta terbaik mereka, dan lindungilah dirimu dari do’a orang yang teraniaya karena sesungguhnya tidak satu penghalang pun antara do’anya dan Allâh.”

Dalam surah Al Baqarah ayat 3 Allah SWT berfirman, yang artinya “(yaitu) yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. Konsep keimanan bagi seorang muslim meniscayakan mereka mengeluarkan harta mereka dan mengorbankannya karena mereka tahu bahwa dengannya mereka dapat meraih ridho Allah SWT. Dalam surah As-Saf ayat 10 “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?”. Dan di surah lain “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itu adalah kemenangan yang besar” (At Taubah ayat 111).

Banyak diriwayatkan juga bagaimana para sahabat mengorbankan harta yang tidak sedikit ketika Rasulullah SAW menyeru mereka untuk berjihad, ketika kondisi keuangan negara yang dipimpin beliau ketika itu dalam keadaan kosong. Para sahabat dan kaum muslimin dengan ringannya mengeluarkan harta mereka karena mereka yakin hartanya akan digunakan di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW pun telah memastikan dan mengkondisikan bahwa negara, masyarakat dan kehidupan saat itu senantiasa bertujuan meraih ridho Allah SWT.

Saat ini ketika masyarakat melihat bagaimana Islam dikriminalisai, kezaliman dipertontonkan dimana-mana, hukum yang jelas tumpul ke atas dan hanya tajam ke bawah, tiba-tiba negara berbicara mengenai wakaf dengan dalih bagian dari syariat Islam. Ketika negara tidak pernah mengajarkan dan menanamkan aqidah Islam dengan benar, bahkan merusak aqidah umat dengan program-program moderasi beragamanya. Belum lagi fakta bagaimana negara mengelola uang rakyat, dimana korupsi semakin marak. Duit bansos disunat, dana asabri diembat, tak ketinggalan jiwasraya, kasus hambalang dan banyak kasus korupsi lainnya yang entah apa kabarnya. Sehingga rakyat pun tak lagi memiliki trust atau kepercayaan kepada negara dalam mengelola harta umat.

Maka betapa Islam dan syariatNya telah mengajarkan kepada kita, bahwa ketika keimanan atau kepercayaan telah tertanam teguh dalam jiwa, ketika kaum muslimin yakin dan percaya bahwa harta yang mereka keluarkan akan digunakan untuk kemuliaan dan tegaknya agama mereka, mereka akan berbondong-bondong menyerahkan harta bahkan jiwa mereka sebagaimana yang telah dicontohkan para sahabat dan kaum muslimin.

Lihatlah para cukong dan taipan yang hartanya sangat berlimpah. Begitu banyak bahkan apabila harta kaum muslimin di negeri ini dikumpulkan, tidak bisa menandingi jumlah harta yang mereka miliki. Apakah mereka akan dengan sukarela menyerahkan harta mereka kepada negara? Jawabnya sudah pasti tidak, karena mereka tidak memiliki trust atau kepercayaan kepada negara ini.

Jadi apabila negara berbicara mengenai wakaf atau syariah Islam, pastikan dulu bahwa negara mampu menumbuhkan trust atau kepercayaan pada publik khususnya kaum muslimin. Ketika umat Islam hanya dijadikan obyek pendulang suara juga dana, sementara aspirasi untuk melaksanakan Islam kaffah justru malah dicampakkan bahkan dikriminalisasi. Para tokoh serta ulama mereka ditangkapi, umatnya acapkali dituduh intoleransi sementara ajarannya dimonsterisasi.

Buktikan dulu bahwa pemerintah menghargai kaum muslimin dan Islam, melindungi kepentingan dan aspirasi mereka, menghukum siapa saja yang menghina Islam, bahkan berani menerapkan syariat Islam di segala sendi kehidupan yang sudah terbukti membawa kemuliaan dan kebaikan, tidak hanya bagi kaum muslimin, namun menjadi Rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan para generasi setelahnya. Wallahu’alam bisshowab.

Post a Comment for "WAKAF DIMINTA, BERHARAP UMAT PERCAYA?"