Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Seabad dalam Kegelapan

Seabad sudah umat muslim hidup dalam kegelapan. Sejak institusi yang menerapkan syariat islam runtuh pada Rajab 1342 H. Khilafah yang menjadi perisai bagi umat muslim itu telah dibubarkan oleh Mustafa Kamal Attaturk laknatullah. Sejak saat itu, umat muslim terpecah belah dalam sekat-sekat nasionalisme.

Oleh: Mahrita Julia Hapsari (Komunita Muslimah untuk Peradaban)

Kondisi dunia ketika tidak berhukum pada aturan Allah SWT, laksana berada dalam kegelapan. Berhukum pada aturan Allah secara kaffah adalah ciri orang beriman. Dalam Al-Baqarah ayat 257 Allah SWT berfirman, yang artinya: "Allah adalah Wali/Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)."

Seabad sudah umat muslim hidup dalam kegelapan. Sejak institusi yang menerapkan syariat islam runtuh pada Rajab 1342 H. Khilafah yang menjadi perisai bagi umat muslim itu telah dibubarkan oleh Mustafa Kamal Attaturk laknatullah. Sejak saat itu, umat muslim terpecah belah dalam sekat-sekat nasionalisme.

Tak ada lagi yang membela kehormatan wanita layaknya Khalifah Al-Mu'tashim Billah. Ketika seorang muslimah disingkap jilbabnya, Khalifah Al-Mu'tashim segera mengirimkan pasukan yang sangat banyak. Selama seratus tahun ini, sudah berapa orang wanita yang dilecehkan, bahkan dibunuh? Tak terhitung jumlahnya.

Tak ada lagi Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang mampu memeratakan kesejahteraan bagi setiap individu rakyat. Keadaan berubah 180 derajat. Saat ini negeri-negeri muslim menjadi negara miskin, padahal memiliki kekayaan alam yang luar biasa.

Demokrasi kapitalisme yang menggantikan sistem islam, menjadi alat penjajahan Barat di negeri-negeri muslim. Ekonomi kapitalis yang liberal membuat SDA dimiliki segelintir orang yang memiliki modal. Mereka keruk SDA kita dengan rakus tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Kita hanya dapat debu dan kerusakan lingkungan serta alam yang tidak seimbang.

Masih dengan sistem demokrasi yang dijajal ke setiap negeri. Lahirlah pemimpin-pemimpin yang korup dan tidak mencintai rakyatnya. Kepemimpinannya hanya disibukkan untuk mengamankan jabatan. Selain itu, membuat regulasi yang akan mengamankan aktivitas para kapital dalam menguasai sektor publik, termasuk SDA.

Perselingkuhan antara penguasa dan pengusaha dimulai sejak pesta demokrasi. Sebuah pesta semu untuk rakyat. Pesta yang akan mendudukan pemimpin yang sesuai kehendak kapital, bukan rakyat.

Sejak runtuhnya khilafah, tak ada lagi sosok Khalifah Umar bin Khattab yang menangis hanya karena kematian seekor keledai yang terperosok dan jatuh ke jurang. Jaminan keamanan infrastruktur dan transportasi tergadai oleh standar materi ala kapitalis. Hingga tak sedikit nyawa melayang sia-sia di darat, laut dan udara.

Tanpa khilafah, umat muslim tak memiliki wibawa. Stigma negatif mulai dari teroris, radikal, hingga ekstrimis, dengan mudah mereka sematkan pada umat islam. Kehormatan islam, Rasul dan Al-Qur'an pun tak mampu dijaga. Penghinaan terhadap Rasulullah dan simbol islam terus berlanjut tanpa sedikitpun rasa segan di dada musuh-musuh islam.

Padahal pada masa Khalifah Al-Manshur, pasukan musuh tak berani mendekat demi melihat panji Rasulullah yang tertancap di bukit. Sementara pasukan muslim telah lama meninggalkan bukit, hanya benderanya yang tertinggal. Begitu berwibawanya umat muslim pada masa itu. Saat ini, orang awam dan jahil pun bisa menghina dan membakar panji Rasulullah yang bertuliskan kalimat syahadat.

Keadaan kita saat ini persis seperti hadits Rasulullah. Rasulullah bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Sesungguhnya, posisi umat muslim adalah umat terbaik, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 110. Jaminan keberkahan juga telah Allah janjikan dalam surah Al-A'raf ayat 96. Kemenangan bagi umat islam atas agama yang lain juga telah Allah kabarkan dalam surah An-Nur ayat 55.

Tentu ada konsekuensi logis yang harus dilakukan umat islam untuk kembali berjaya, menjadi umat terbaik. Yaitu tunduk dan patuh pada setiap aturan Allah SWT. Dan satu-satunya institusi yang mau dan mampu menerapkan syariat islam secara menyeluruh hanyalah khilafah.

Pembahasan tentang khilafah sudah awam dan masyhur di kalangan para ulama. Seluruh ulama telah bersepakat tentang wajibnya khilafah, merujuk pada dalil Al-Qur'an, As-sunah dan ijmak sahabat.

Hanya khilafah yang mampu mengejawantahkan maqashid syariah. Yaitu untuk melestarikan eksistensi manusia, kehormatan jiwa, pemilikan individu, menjaga akal, agama, keamanan, dan negara. Terjaganya tujuan utama ini akan menciotakan kehidupan yang damai dan penuh rahmat.

Khilafah adalah cita-cita kaum muslimin untuk bisa keluar dari kegelapan ini. Cita-cita yang bisa diwujudkan, bukan hanya mimpi atau kenangan belaka. Rasulullah Saw telah memberikan bisyarah: "...kemudian akan ada kekhilafahan yang mengikuti metode kenabian." (HR. Ahmad). Wallaahu a'lam []

Post a Comment for "Seabad dalam Kegelapan"