Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PLAGIARISM, PENGKHIANAT INTELEKTUAL

Bagi seorang intelektual, plagiarisme adalah sebuah masalah besar sebab di dalamnya terdapat unsur kedustaan dan kelicikan. Bahkan seseorang bisa kehilangan gelar akademiknya apabila didapati orang tersebut melakukan plagiarism. Karena tingkat keorisinilan suatu karya sangat di prioritaskan dalam dunia intelektual. Sehingga hal ini tidak boleh dianggap sebagai masalah yang sepele terlebih jika menimpa seorang guru besar. Sebab seorang guru besar adalah panutan intelektual, semua generasi mencontohnya menjadikannya sebagai leader dalam menuntun dirinya menuju masa depan yang cemerlang. Maka suatu hal yang wajar apabila sikap mentolerir kasus semisal ini oleh pemimpin, menuai banyak tanya di kalangan intelektual. Jika seorang guru besar saja mampu melakukan plagiarism bagaimana kelak dengan generasi dibawahnya? Sungguh ini merupakan cermin yang akan merusak citra dunia pendidikan.

Oleh: Sulistiani S.Pd ( Aktivis Muslimah)

Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) yang telah terpilih yakni Muryanto Amin, untuk periode 2021-2026 akan dilantik Kamis (28/1/2021) di Jakarta. Mengenai pelantikan Muryanto pada esok hari, Edy memberi pesan agar SK yang dikeluarkan rektor USU saat ini Runtung Sitepu, yang menyatakan Muryanto Amin terbukti Self-Plagiarism agar dicabut karena SK itu bisa menjadi penghalang Muryanto menjadi Rektor USU yang baru.(sumut.idntimes.com)

Bagi seorang intelektual, plagiarisme adalah sebuah masalah besar sebab di dalamnya terdapat unsur kedustaan dan kelicikan. Bahkan seseorang bisa kehilangan gelar akademiknya apabila didapati orang tersebut melakukan plagiarism. Karena tingkat keorisinilan suatu karya sangat di prioritaskan dalam dunia intelektual. Sehingga hal ini tidak boleh dianggap sebagai masalah yang sepele terlebih jika menimpa seorang guru besar. Sebab seorang guru besar adalah panutan intelektual, semua generasi mencontohnya menjadikannya sebagai leader dalam menuntun dirinya menuju masa depan yang cemerlang. Maka suatu hal yang wajar apabila sikap mentolerir kasus semisal ini oleh pemimpin, menuai banyak tanya di kalangan intelektual. Jika seorang guru besar saja mampu melakukan plagiarism bagaimana kelak dengan generasi dibawahnya? Sungguh ini merupakan cermin yang akan merusak citra dunia pendidikan.

Yang bersangkutan tetap terpilih mendapatkan amanah untuk menjadi guru besar di universitas ternama walaupun sudak terbukti melakukan self-plagiarism berdasarkan keputusan SK yang dikeluarkan rektor saat ini, Runtung Sitepu. Tetapi setelah diselidiki fakta tersebut ada yang mengatakan plagiat dan tidak plagiat. Namun terlepas dari hal ini (mana yang benar dan yang salah, pastinya masing-masing memiliki argumen yang kuat), yang namanya plagiarism bukanlah tindakan terpuji.

Berkaitan dalam hal pengangkatan rektor, seharusnya untuk memilih seorang pemimpin dalam sebuah institusi kejujuran intelektual menjadi salah satu hal yang dijadikan bahan pertimbangan. Namun sangat disayangkan sistem kapitalis hari ini tak mementingkan halal-haram sebagai bahan pertimbangan melainkan materi dan kedudukan. Akibatnya seseorang akan melakukan segala cara untuk mencapai materi dan kedudukan. Inilah buah dari sistem kapitalisme-sekuler yang memisahkan cara pandang dengan nilai agama. Sehingga hal semacam ini dapat ditolerir dengan mudah. Apabila SK plagiarism di cabut maka kesalahan orang tersebutpun turut dicabut padahal jelas sikap tersebut merupakan suatu kemaksiatan yang dilakukan di dunia intelektual.

Hal seperti ini wajar terjadi di sistem kapitalis sekuler hari ini, materi yang menjadi asas dari sistem ini menyebabkan banyak orang menghalakan segala cara demi mendapatkan mencapai tujuannya. Jangankan tujuan besar seperti memperoleh jabatan, untuk mendapatkan selembar ijazah saja tidak sedikit yang melakukan kecurangan demi mendapatkan pengakuan bahwa telah lulus sarjana. Dimana nantinya ijazah ini dapat digunakan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, sekalipun jalan yang ditempuh tak sesuai aturan melainkan dengan jalan ketidakjujuran. Sudah banyak contohnya mahasiswa yang menggunakan jasa pembuatan skripsi untuk memenuhi tugas akhirnya. Inilah potret hasil dari buah pendidikan kapitalis, tujuan memperoleh pendidikan bukan ilmu melainkan selembar kertas pengakuan gelar yakni ijazah.

Di dalam sistem Islam, kepemimpinan bukan hanya membicarakan tentang terlaksananya tugas pokok yang diampu, tetapi juga menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya. Para khalifah terdahulu tidak akan mentolerir kemaksiatan sekecil apapun karena dalam pandangan aqidah, setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban, dan hal tersebut senantiasa terngiang di dalam ingatan mereka. Sehingga tak ada yang berani melakukan tindak kemaksiatan, karena sejak usia dini sistem pendidikan islam telah menanamkan akar akidah dalam diri generasi sehingga dalam menjalankan proses belajar mereka akan senantiasa tulus semata-mata untuk menimba ilmu baik ilmu agama maupun ilmu sains dan teknologi.

Output yang dihasilkan oleh sistem pendidikan islam adalah orang-orang yang berkualitas, memiliki ketaqwaan terhadap Allah SWT serta taat terhadap seluruh aturan syariat. Menjadi generasi yang bersyaksiyah islam (pola pikir dan pola sikap islam), mustanir (cemerlang), faqih fiddin (menguasai ilmu agama), faqih finnas ( menguasai ilmu saintek) dan khoiru ummah (umat yang terbaik). Dan generasi seperti ini hanya akan didapatkan dalam sistem pendidikan islam ketika islam diterapkan secara kaffah dalam institusi negara. Wallahua'lam

Post a Comment for "PLAGIARISM, PENGKHIANAT INTELEKTUAL"