Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pendidikan Islam Wujudkan Generasi Berkualitas

Berbicara persoalan pendidikan, erat kaitannya dengan penentu masa depan generasi, juga eksistensi bangsa. Sebab merekalah nantinya menjadi generasi pembawa perubahan menuju Indonesia emas 2045 yang digagas pemerintah. Maka dari itu, perlu menegaskan kembali visi, misi, tujuan, kurikulum, metode, sampai pada evaluasi pendidikan. Memiliki konsep yang jelas dan baku, demikian juga hal yang teknis perlu diperhatikan sebab perkara teknis menunjang kemudahan dalam proses belajar mengajar hingga menuju jenjang pendidikan berikurnya.

Oleh: Miladiah Al-Qibthiyah (Pegiat Literasi dan Media)

Dunia masih dilanda pandemi, tak terkecuali Indonesia. Berakhirnya pandemi pun belum ada yang bisa memprediksi. Sebagaimana kemunculannya di awal tahun 2020 lalu, pandemi memberikan dampak signifikan di berbagai bidang. Salah satunya di bidang pendidikan. Hingga hari ini, siswa-siswi masih menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Terkait kondisi ini Mendikbud Nadiem Makarim menerbitkan surat edaran syarat kenaikan kelas tahun 2021. Surat tersebut menjelaskan kenaikan kelas melalui Ujian Akhir Semester (UAS). Tetapi UAS tidak perlu mengukur ketuntasan capaian kurikulum secara menyeluruh.

Ujian akhir semester (UAS) untuk kenaikan kelas, tulis SE Mendikbud, dapat dilakukan dalam bentuk:

Pertama, Portofolio berupa evaluasi atas nilai rapor, nilai sikap/perilaku, dan prestasi yang diperoleh sebelumnya (penghargaan, hasil perlombaan, dan sebagainya); Kedua, penugasan; Ketiga, tes secara luring atau daring, dan/atau; Keempat, bentuk kegiatan penilaian lain yang ditetapkan oleh satuan pendidikan.

Sebuah kebijakan yang perlu ditinjau ulang. Standar kelulusan siswa-siswi tentu ada kriteria tertentu, salah satunya mencapai batas nilai tuntas. Meskipun masih berada dalam kondisi pandemi, standar kelulusan ini tidak bisa dianggap mudah. Bagaimana mungkin siswa bisa dikatakan lulus sementara capaian kurikulumnya belum tuntas.

Sejak orde lama, kurikulum pendidikan di Indonesia mengalami sebelas kali perubahan dan perubahan-perubahan ini bukan hanya membuat para pendidik kelabakan. Para siswa pun kerap dikorbankan karena posisi mereka yang langsung menjalani dampak perubahan kurikulum teesebut. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan evaluasi hingga perubahan kurikulum pendidikan dalam sistem pendidikan Indonesia membuktikan ada kelemahan.

Berbicara persoalan pendidikan, erat kaitannya dengan penentu masa depan generasi, juga eksistensi bangsa. Sebab merekalah nantinya menjadi generasi pembawa perubahan menuju Indonesia emas 2045 yang digagas pemerintah. Maka dari itu, perlu menegaskan kembali visi, misi, tujuan, kurikulum, metode, sampai pada evaluasi pendidikan. Memiliki konsep yang jelas dan baku, demikian juga hal yang teknis perlu diperhatikan sebab perkara teknis menunjang kemudahan dalam proses belajar mengajar hingga menuju jenjang pendidikan berikurnya.

Dalam mengukur kualitas pendidikan, tidak hanya Ujian Nasional (UN) yang menjadi patokan, karena gap kualitas pendidikan di Jawa dan luar Jawa masih jauh. Pulau jawa terbilang lebih berkembang dibanding daerah yang lainya. Kondisi ini juga sepatutnya dievluasi, bahwasanya standar pendidikan di seluruh wilayah di Indonesia harus sama dan ini merupakan hak bagi setiap anak yang sedang menempuh pendidikan.

Pergantian metode evaluasi pendidikan sebagaimana yang ditetapkan Mendikbud Nadiem di masa pandemi ini juga belum menjamin perubahan output pendidikan sepenuhnya. Output pendidikan seharusnya menciptakan generasi yang tidak hanya unggul di bidang sains dan teknologi, namun juga unggul dalam keshalihan dan ketakwaan. Ilmu yang mereka peroleh diaplikasikan oleh masyarakat secara umum.

Sistem pendidikan saat ini berkiblat pada paradigma pendidikan sekuler. Alhasil, generasi yang lahir dari sistem berparadigma sekuler akan jauh dari nilai-nilai Islam. Apatah lagi paradigma sekuler ini disuport oleh negara yang juga berparadigma sekuler, maka pendidikan di negeri ini akan tetap menghasilkan ouput yang sama.

Sistem Pendidikan Islam Menghasilkan Generasi Berkualitas

Satu-satunya jalan untuk mengubahnya adalah dengan meninggalkan sistem pendidikan sekuler. Berikut sistem politik yang menerapkannya. Lalu,menerapkan sistem pendidikan Islam berikut sistem politik yang menaunginya, yakni Islam.

Sistem pendidikam Islam melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan, yakni sebgai hamba Allah yang berkepribadian Islam dan memiliki skill dan kecerdasan untuk membangun peradaban cemerlang.

Tujuan pendidikan dalam negara Khilafah, 1) Kepribadian Islam. 2) Menguasai ilmu kehidupan. 3) Mempersiapkan anak didik memasuki jenjang sekolah berikutnya.

Pertama, Membentuk Kepribadian Islam. Semua jenjang pendidikan harus menerapkan pembentukan kepribadian Islam yang sesuai dengan tingkat pendidikannya sebab pendekatan yang dilakukan dalam membentuk kepribadian Islam berbeda tiap jenjangnya. Pembentukan kepribadian ini tentu disertai dengan pemikiran Islam.

Pada tingkat TK-SD, kepribadian Islam dibentuk dengan mulai memberikan materi dasar Islam yang berkaitan dengan pengenalan iman karena mereka berada pada jenjang usia menuju balig. Sedangkan pada tingkat SMP, SMU, dan PT, materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan) sebab usianya mencapai balig.

Pembentukan kepribadian ini bertujuan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan mereka serta keterikatannya dengan tunduk dan taat pada syariat Islam. Dengan ini, mereka akan mampi menempatkan ilmu sesuai porsinya. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat untuk umat dan terhindar dari praktik-praktik sekularisasi ilmu.

Kedua, Menguasai Ilmu Kehidupan. Ilmu-ilmu dasar diajarkan kepada semua peserta didik agar mereka semua dapat membedakan mana pendapat islami dan pendapat kufur serta mampu bersikap yang tepat dalam perbedaan pendapat yang islami.

Adapun ilmu lanjutan agar mampu berijtihad diberikan di perguruan tinggi bagi yang berminat mendalaminya.

Pengajaran ilmu kehidupan diajarkan berjenjang.

Ilmu-ilmu dasar bagi semua ilmu pengetahuan terapan diberikan di tingkat dasar dan menengah.

Pengembangan ilmu-ilmu dasar melalui penelitian-penelitian dilakukan di Perguruan Tinggi.

Pengajaran ilmu-ilmu terapan seperti pertanian, teknik, kedokteran, dan lain-lain dilakukan di Perguruan Tinggi. Hal ini dilakukan agar mereka mampu

menggunakan peralatan, mengembangkan pengetahuan sehingga bisa inovasi dan berbagai bidang terapan yang lain.

Ketiga, mempersiapkan anak didik memasuki jenjang sekolah berikutnya. Pada tingkat perguruan tinggi ilmu yang didapat tersebut bisa dikembangkan sampai derajat pakar di berbagai bidang keahlian, ulama, dan mujtahid.

Negara harus mengambil kebijakan-kebijakan tertentu yang menjamin agar selalu terdapat dokter, insinyur, guru, dosen, perawat, mujtahid, dan tenaga-tenaga lain yang wajib kifayah adanya dalam jumlah yang dibutuhkan masyarakat.

Caranya adalah 1) Merekrut mereka sebagai pegawai negeri sejak mereka dalam masa pendidikan atau (2) Negara membuka sekolah khusus bagi pegawai negeri untuik memenuhi kebutuhan tenaga-tenaga tersebut.

Selanjutnya, penetapan dan metode kurikulum bersifat baku, tidak berubah-ubah kecuali berkaitan inovasi atau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Metode pengajaran dalam kurikulum ditentukan Negara dari yang dianggap terbaik untuk mencapai tujuan pendidikan. 

Negara menyediakan sarana dan prasarana serta sumberdaya pendidik dan tenaga pendidikan dengan kualifikasi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kurikulum tersebut.

Evaluasi Pendidikan dalam Islam

Evaluasi pendidikan dalam Islam sangat handal dilakukan secara komprehensip untuk mencapai tujuan pendidikan. Ujian umum diselenggarkan untuk semua mata pelajaran yang telah diberikan.

Ujian dilakukan secara tulisan, lisan, dan praktik. Ujian lisan merupakan teknik ujian yang paling sesuai untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa untuk memahami pengetahuan yang telah dipelajari. Ujian lisan dilakukan baik secara terbuka maupun tertutup.

Di samping itu, ada ujian praktik pada keahlian tertentu. Siswa yang naik kelas atau lulus harus dipastikan mampu menguasai pelajaran yang telah diberikan dan mampu mengikuti ujian sebaik-sebaiknya. Tentu saja siswa-siswa yang telah dinyatakan kompeten/lulus adalah siswa-siswa yang betul-betul memiliki kompetensi ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dan memiliki pola tingkah laku yang Islami.

Penerapan sistem pendidikan juga disuport oleh negara. Negara mendorong keluarga untuk meningkatkan peran dan kemampuannya dalam mendidik anak serta menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan keluarga yang ingin meningkatkan kemampuannya dalam mendidik anak.

Negara dapat menarik sementara hak pendidikan anak dari seorang ayah atau ibu dan menyerahkannya kepada keluarga atau kerabat lain yang mampu mendidik, apabila seorang ayah atau ibu sangat lemah dalam mendidik anaknya, sampai ayah atau ibu tersebut dapat mendidik anaknya.

Negara dalam peradaban Islam wajib menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, dan lain sebagainya.

Negara juga berkewajiban menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli di bidangnya, sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja di kantor pendidikan.

Berdasarkan sirah Nabi saw. dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara Islam juga memberikan jaminan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) yang disediakan negara. Wallaahu a'lam bi ash-shawab.

Post a Comment for "Pendidikan Islam Wujudkan Generasi Berkualitas"