Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pendangkalan Akidah Generasi melalui Moderasi

publik dikejutkan oleh berita mengenai kebijakan yang dikeluarkan oleh kemenag, yang belum lama menjabat, yaitu akan menempatkan guru yang beragama Kristen di sekolah Islam atau madrasah.

Oleh : L. Nur Salamah, S.Pd (Wali murid dan kontributor media)

"Guru kencing berdiri, murid kencing berlari" Kira-kira begitu pepatah lama tentang betapa besar pengaruh sikap dan perilaku seorang guru terhadap murid. Oleh karenanya, sebagai seorang guru, tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, atau sekadar mengajar. Lebih dari itu, guru adalah sosok yang 'digugu dan ditiru'. Setiap sikap dan perilakunya, baik langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi dan diikuti oleh muridnya.

Namun, baru-baru ini publik dikejutkan oleh berita mengenai kebijakan yang dikeluarkan oleh kemenag, yang belum lama menjabat, yaitu akan menempatkan guru yang beragama Kristen di sekolah Islam atau madrasah.

Seperti dilansir dari laman hajinews. (31/1/2021) bahwa kebijakan penempatan guru yang beragama Kristen di madrasah, sesuai dengan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia yang telah diperbarui yaitu pada bab VI pasal 30, menerangkan bahwa kualifikasi umum calon guru adalah beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak menyebutkan harus memeluk agama Islam.

Sebagaimana disampaikan oleh Kemenag Sulawesi Selatan bahwa guru yang akan ditempatkan di madrasah itu akan mengampu pelajaran umum. Jadi dianggap tidak ada masalah.

Kebijakan tersebut perlu disoroti, karena sekolah adalah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mencetak generasi berakhlak mulia. Tentunya mata pelajaran yang akan diajarkan oleh guru itu, harus berkaitan dengan kehidupan nyata, sehingga manusia tidak bisa terlepas dari alam semesta dan kehidupan. Selain itu, dalam kurikulum madrasah atau sekolah Islam, sudah pasti berlandaskan akidah Islam. Semua mata pelajaran harus dikaitkan dengan keberadaan Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur.

Namun dengan menempatkan guru non muslim disekolah Islam atau madrasah ini jelas bertentangan. Karena nantinya mata pelajaran yang diajarkan hanya ilmu pengetahuan yang tidak ada kaitannya dengan alam semesta dan kehidupan.

Lebih dari itu, kebijakan tersebut dirasa sangat berbahaya. Mengapa saya katakan demikian, karena dengan mengatasnamakan moderasi dan toleransi ini sangat berpotensi mendangkalkan bahkan lama kelamaan mengikis akidah generasi.

Menurut bab VI pasal 30 tersebut hanya menyebutkan beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, tidak disebutkan harus beragama Islam, ini jelas sangat berbahaya dan sulit diterima oleh akal sehat. Bagaimana tidak, akidahnya saja sudah berbeda. Lantas apa yang mau diajarkan dan disampaikan kepada peserta didik. Karena kita ketahui yang namanya guru itu bukan sekedar menyampaikan materi pelajaran atau transfer ilmu, tapi lebih pada transfer karakter atau biasa kita menyebutnya dengan membentuk syaksiah islam atau kepribadian Islam yaitu pola pikir dan pola sikap yang berlandaskan akidah Islam.

Menempatkan guru non muslim ke sekolah Islam ini, tidak bisa dianggap remeh. Namun ini adalah sarat akan kepentingan. Ini merupakan program yang digagas oleh pemerintah untuk melawan dan menghadang dakwah Islam Kaffah yang dilabeli dengan istilah 'radikal'.

Dengan adanya moderasi agama atau Islam moderat menggiring opini umat bahwa Islam itu toleran, damai, tidak ekstrim dan bisa berdampingan dengan non muslim. Yang tujuannya adalah untuk menjegal paham 'radikal' yang menurut mereka adalah ancaman bagi negara dan sekelompok orang yang mempunyai kepentingan, yang benci terhadap Islam dan segala aturanya.

Dengan demikian, moderasi agama secara perlahan akan menjauhkan generasi Islam dari keislaman yang sesungguhnya. Maksudnya adalah generasi tidak lagi mengenal ajaran Islam secara utuh. Yang mereka ketahui Islam sebatas kulitnya saja. Hanya seputar ibadah mahdhoh (ibadah-ibadah yang ada syarat dan rukunnya), seperti sholat, zakat, puasa, haji, dzikir, sedekah dan beraklak baik dengan sesama. Hanya sebatas itu.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menyadarkan umat tentang bahaya dari moderasi agama ini, dan mengajak kepada mereka untuk mengenal dan mengkaji Islam secara benar, secara totalitas (Kaffah). Karena Islam adalah agama yang penuh Rahmat dan keberkahan, tidak mungkin menjadi ancaman bagi negara atau manusia.

Seperti firman Allah SWT dalam Suratul Anbiya' ayat 107 yang artinya, "Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam".

Dan jika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan melalui Institusi negara (khilafah), niscaya akan menjadi umat yang terbaik. Sebagaimana dijelaskan dalam Quran surat Ali Imran : 110, yang artinya, "Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang Makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik".

WaAllahu'alam bishowwab.

Post a Comment for "Pendangkalan Akidah Generasi melalui Moderasi"