Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam Dikebiri Atas Nama Toleransi

Sejatinya, kaum muslim memiliki definisi shohih terkait makna toleransi. Islam memberi kebebasan untuk memeluk dan melaksanakan agama dan keyakinan yang dimiliki, tentu dalam kontrol negara sebagai ‘polisi’ yang menjaga dan menjamin keamanan setiap warga negara dalam melaksanakan ibadahnya, tanpa memaksa orang lain untuk mengikutinya.

Oleh : Dewi Ummu Hushiny

Isu toleransi beragama kembali mengemuka. Hal ini dipicu lantaran kasus seorang siswi non muslim yang merasa keberatan dengan kewajiban berjilbab di sekolahnya.

Video tersebut viral dan menuai respon dari berbagai pihak, termasuk dari pemangku kebijakan di negeri ini, terbukti, pada 3 Februari 2020 kemarin, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Kementerian Agama (Kemenag), menerbitkan Keputusan Bersama tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah yang Diselenggarakan Pemerintah Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah.

Respon serupa juga keluar dari kalangan pengusung moderasi agama, seolah label radikal, anti NKRI, anti Pancasila, intoleran dan sejenisnya layak disematkan untuk kaum muslim yang "keukeuh" berupaya melaksanakan syari’at yang diyakininya, tak terkecuali kepada generasi muda yang berstatus pelajar sekolah.

Dalam hal ini, toleransi menjadi senjata untuk memangkas syari’at Islam hingga ke akarnya. Sebagai contoh demi disebut toleran, seorang muslim harus ikut mengucapkan bahkan merayakan hari besar agama lain. Dengan alasan toleransi pula seorang Mahasiswi bercadar harus rela mendapat sanksi hingga terdepak dalam ajang MTQ nasional karena di tuduh intoleran karena mempertahankan cadarnya. Bahkan lucunya, saat ramadhan tiba, kaum muslim harus ekstra menahan diri karena harus menghormati non muslim yang menjadi minoritas di negeri ini.

Jelas sudah toleransi yang didektekan oleh kaum kafir kepada kaum muslim menjadi salah satu senjata untuk menghancurkan ummat dari dalam. Umat merasa takut dicap intoleran karena melaksanakan syari’at Islam sembari dipaksa bangga ketika menjadi pengusung moderasi beragama .Penerapan Islam dipropagandakan sebagai sumber persoalan, sebaliknya moderasi Islam digaungkan sebagai solusi di tengah krisis yang terjadi.

Sejatinya, kaum muslim memiliki definisi shohih terkait makna toleransi. Islam memberi kebebasan untuk memeluk dan melaksanakan agama dan keyakinan yang dimiliki, tentu dalam kontrol negara sebagai ‘polisi’ yang menjaga dan menjamin keamanan setiap warga negara dalam melaksanakan ibadahnya, tanpa memaksa orang lain untuk mengikutinya.

Toleransi tak harus ikut berpartisipasi dalam ibadah yang tak diyakini, memberi kebebasan dan senantiasa bersikap ahsan terhadap sesama manusia menjadi wujud toleransi yang sejati,seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an, Surat Al Kafirun ayat 1-6:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Katakanlah, "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah men]adi penyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalianlah agama kalian, dan untukkulah agamaku.”

Dengan demikian, toleransi yang hakiki adalah memberi ruang untuk melaksanakan ibadah sesuai iman yang dipilih, termasuk melaksanakan syari’at Islam secara kaffah sebagai konsekuensi seorang muslim sejati. Bukan toleransi seperti saat ini, yang hanya dipakai untuk mengkebiri Islam dan syari’atnya.

Wallohu’alam

Post a Comment for "Islam Dikebiri Atas Nama Toleransi"