Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Generasi Krisis Adab

Kebebasan individu sebagai asas dalam kapitalis membuat prilaku diluar nalar dan kelewat batas. Merusak tatanan sendi-sendi keluarga. Seseorang berhak melakukan gugatan kepada siapapun termasuk kepada ayah kandungnya yang membesarkan dan menyekolahkan.

Oleh: Elizma Mumtazah | Penulis Tangerang

Sejumlah kasus perseteruan anak yang menuntut orangtuanya menyedot perhatian publik.

Baru-baru ini seorang nenek lansia 78 tahun di Banyuasin Sumatera Selatan, digugat tiga anak dan cucu kandungnya perihal tanah warisan mendiang suaminya.

Tak kalah mirisnya. Seorang ayah yang telah renta di Bandung, bernama RE Koswara (85) digugat oleh anaknya sendiri bernama Deden dan istrinya Nining senilai tiga miliar rupiah bermula dari tanah seluas tiga ribu meter yang disewa Deden.

Fenomena memilukan diatas bukan hal baru di tanah air. Masih banyak kasus serupa baik yang masuk ke pengadilan ataupun yang tidak masuk ranah pengadilan.

Air susu dibalas air tuba, itulah peribahasa yang pantas disematkan. Hati nurani anak telah terkikis oleh hawa nafsu. Orang tua yang merawat dengan ikhlas dibalas dengan perlakuan buruk mengecewakan.

Lalu, mengapa ada anak yang tega menggugat orang tuanya?

Kapitalisme berhasil mematikan nurani, anak tak lagi berbakti. Padahal berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) merupakan naluri dan fitrah setiap manusia.

Akibat menuhankan materi melampaui aturan Sang Pencipta maka institusi keluarga goyah yang akhirnya mematikan rasa. Sejatinya dalam jiwa setiap manusia tertanam sifat cinta dan hormat kepada kedua orang tua yang menjadi sebab kehadiran seorang anak ke dunia ini.

Dalam kapitalisme, hubungan keluarga bukan lagi saling menghormati dan kasih sayang tapi berperilaku berdasarkan untung rugi atau asas manfaat. Keuntungan tidak pandang bulu, orang tuanya sendiri digugat berujung rusaknya tatanan keluarga muslim.

Kebebasan individu sebagai asas dalam kapitalis membuat prilaku diluar nalar dan kelewat batas. Merusak tatanan sendi-sendi keluarga. Seseorang berhak melakukan gugatan kepada siapapun termasuk kepada ayah kandungnya yang membesarkan dan menyekolahkan.

Ditambah pendidikan sekuler saat ini dengan kurikulum berbasis sekulerisme meniscayakan lahirnya generasi krisis adab.

Tidak pernah diragukan bahwa Islam adalah agama sempurna yang diturunkan oleh Sang Maha Kuasa. Sehingga aturannya pun sempurna bagi seluruh manusia. Kapitalisme bersebrangan dengan cara Islam melahirkan generasi taqwa. Taat pada Allah dan rosul-Nya termasuk orang tua. Islam memposisikan orang tua dan anak sesuai fitrah.

Hal diatas tidak dibenarkan dalam islam yang mengajarkan adab dan hormat kepada ibu bapak. Bahkan sekedar mengatakan ah saja tidak dibolehkan.

Lalu, bagaimana Islam memberikan solusi terkait fenomena anak gugat orang tua ini?

Pertama, Islam mewajibkan umatnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk orang tua. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Qur'an surat An-nissa: 69

"Siapa menaati Allah dan Rasul, maka akan bersama orang-orang yang Allah anugerahi nikmat kepada mereka, yaitu para nabi, orang-orang lurus, syuhada, dan orang-orang shaleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. an-Nisa' [4]:69)

Bagi kaum Muslim, ketaatan kepada Allah ini juga harus disertai ketaatan kepada Rasulullah Saw. Kemudian Allah SWT juga memerintahkan dan mewajibkan anak untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tua, terutama ketika orang tua telah berusia lanjut.

Kedua, Birrul Walidain atau berbakti kepada orang tua. Berbakti akan mendulang pahala. Banyak keterangan dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Artinya, tidak menyakiti hati orang tua dan senantiasa mematuhi perintahnya. Hal tersebut terdapat dalam firman Allah dalam Al-Qur'an surat al-Isra' yang artinya: 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (TQS Al isra': 23)

Ketiga, negara memiliki tanggung jawab terhadap pelaksanaan syariat Islam, negara memastikan syariat Islam diterapkan ditengah masyarakat sehingga selalu dalam kondisi bertakwa yang akhirnya menjauhkan masyarakat dari sikap-sikap yang tidak baik termasuk sikap buruk terhadap orang tua.

Maka penerapan Islam oleh sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah akan mewujudkan tidak hanya kesejahteraan rakyat, namun juga ketenteraman hidup setiap warganya. Dengan diterapkan aturan secara kaffah, keimanan dan ketakwaan rakyatnya pun akan terjaga.

Inilah yang akan menjadi benteng penjaga setiap Muslim untuk selalu menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Ia akan senantiasa berhati-hati dan menjaga sikapnya, termasuk sikapnya terhadap orang tua, ia juga akan berusaha menjalankan semua aktivitasnya sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya.

Post a Comment for "Generasi Krisis Adab"