Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Derita Generasi di Era Digitalisasi

Bagaimana semestinya negara mengerahkan segenap sumberdaya untuk menciptakan aplikasi penuh edukasi hingga tontonan yang mampu mengatasi segala kendala teknis agar hak pendidikan pada setiap generasi mampu terpenuhi. Oleh karena itu bentukan masyarakat tergantung bentukan pemimpinannya begitu pula sebaliknya, negaralah memiliki andil besar dalam menyelamatkan masa depan generasi dengan memberikan edukasi yang menghantarkan masyarakat kepada ketaatan kepada Rabb-Nya.  Maka hendaknya generasi segera mengambil peran untuk melakukan perubahan hakiki dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang Allah diridhoi serta tidak terlena dengan aplikasi-aplikasi perusak dan konten-konten unfaedah.

Oleh : Suci Hati, S.M.

Bicara tentang pemuda bicara soal perubahan, Pemuda merupakan bagian dari aset berharga bangsa ini yang memiliki peran membawa perubahan bagi dunia. Perannya sangatlah besar dengan mengukuhkan segala pontensi yang ada. Hanya saja sosok generasi tangguhlah yang mampu menyongsong perubahan yang hakiki pada suatu bangsa. Namun sayangnya persoalan generasi hingga saat ini masih menjadi PR yang belum terselesaikan, termasuk realita moral anak bangsa yang kian terkikis.

Dilansir laman Tempo.co, Jakarta (23/01/2021) – Hasil sensus penduduk yang digelar Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia hingga 2020 didominasi generasi Z dan generasi milenial. Generasi Z adalah penduduk yang lahir pada kurun tahun 1997-2012 dan generasi milenial yang lahir periode 1981-1996. Sepanjang Februari – September 2020 jumlah generasi Z mencapai 75,9 juta jiwa atau setara dengan 27,9 % dari total populasi berjumlah 270,2 juta jiwa. Sementara, generasi milenial mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87 %. Dan generasi Z mendominasi penduduk Indonesia, “kata Kepala BPS Suhariyanto dalam rilis Data Sensus Penduduk 2020 dan Data Administrasi Kependudukan 2020 di Jakarta.

Itu artinya jika generasi Z mendominasi, mampukah generasi Z mewujudkan kemajuan suatu bangsa? Melihat fenomena di era digitalisasi seperti ini telah menyedot perhatian, khususnya pada kaula muda. Pasalnya generasi Z yang berkisar dari umur 9-25 tahun telah teracuni virus gawai.

Kebebasan berselancar di sosial media dengan gawai sudah tidak ada lagi filter yang mampu mengendalikan generasi dari efek kecanduan gawai kemudian rela menghabiskan waktunya berjam-jam hingga generasi muda hanya disibukkan konten-konten unfaedah.

Sangat disayangkan bila generasi Z yang mendominasi memiliki harapan besar bagi masa depan bangsa namun kini malah menjadi korban sistem penanganan rezim yang abai terhadap generasi. Walhasil kualitas generasinya memiriskan disebabkan oleh sistem yang telah mengatur hidup ini yakni sistem kapitalis liberal yang telah meracuni generasi dengan perilaku liberalis, hedonis serta pola pikir yang pragmatis yang hanya membebek mengikuti perkembangan jaman tanpa memilah baik buruknya dan condong untuk mengejar polularitas dan kesenangan semata.

Bagaimana semestinya negara mengerahkan segenap sumberdaya untuk menciptakan aplikasi penuh edukasi hingga tontonan yang mampu mengatasi segala kendala teknis agar hak pendidikan pada setiap generasi mampu terpenuhi. Oleh karena itu bentukan masyarakat tergantung bentukan pemimpinannya begitu pula sebaliknya, negaralah memiliki andil besar dalam menyelamatkan masa depan generasi dengan memberikan edukasi yang menghantarkan masyarakat kepada ketaatan kepada Rabb-Nya.

Maka hendaknya generasi segera mengambil peran untuk melakukan perubahan hakiki dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang Allah diridhoi serta tidak terlena dengan aplikasi-aplikasi perusak dan konten-konten unfaedah.

Sehingga terlihat jelas arah tujuan generasi dalam Islam yang tercatat dengan tinta emas sosok pemuda sudah selayaknya memahami betul bahwa dirinya sebagai agen perubahan sebagaimana telah tercatat secara historis yakni Ali bin Muthalib yang masuk Islam diusia 8 tahun yang menjadi pilar pengokoh perjuangan Islam bersama para sahabat Umar bin Khathab, Abu Bakar, Usman bin Affan.

Saad Bin Abi Waqqash yang terkenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua yang masuk Islam di usia 17 tahun walaupun orangtuanya membencinya kecintaannya kepada Allah dan Rasul serta merta mendorong untuk tidak meninggalkan agamanya. Saad yang memiliki keberanian dalam berperang membela agama Allah yang selalu menyertai Rasulullah dalam perperangan.

Kemudian Muhammad Al Fatih diusianya 12 tahun telah diangkat menjadi sultan serta menjadi pasukan perang yang ulung mampu menaklukkan tembok/benteng terkokoh hingga menorehkan sejarah gemilang di usia 21 tahun yang mampu menaklukkan kota Konstatinopel yang tidak pernah mampu diterobos oleh pasukan manapun. Dengan kegigihan serta ketaatannya kepada Allah yang mampu menghantarkannya kepada apa yang telah Allah janjikan.

"Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (terjemah QS. Al Kahfi : 13)

Seperti inilah kualitas generasi yang dihasilkan dikarenakan sistem Islam yang berlandaskan pada aturan Allah SAW sebagaimaana peradaban Islam yang mampu memimpin dunia hingga 1300 tahun lamanya.

Oleh karena itu hal yang utama dalam membentuk generasi adalah dengan membentuk aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) pemudanya terlebih dahulu dengan keimanan yang kokoh serta dengan konsekuensi iman dalam menjalankan aturanNya hingga terciptalah Syakhshiyah (kepribadian) Islam pada benak pemudanya.

Kemudian akan membentuk generasi cinta akan ilmu hingga tidak hanya memahami ilmu agama saja namun ahli dalam segala bidang sains dan teknologi. Sehingga dengan ilmu dan taqwalah yang akan mengarahkan segala potensi untuk mewujudkan perubahan yang hakiki. WalLahu a’lam bi ash-shawab.

Post a Comment for "Derita Generasi di Era Digitalisasi"