Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

100 Tahun Tanpa Junnah, Hijab Masih Terus di Hina

ada sebelas negara yang secara terang-terangan melarang umat Islam menggunakan perlengkapan menutup aurat diantaranya Belanda, Rusia, Jerman, Italia, Tunisia, Belgia, Prancis, Suriah, Australia, Spanyol, dan tidak ketinggalan Turki yang baru mencabut pelarangan hijab sejak tahun 2013 yang lalu.

Oleh : Reni Adelina, A. Md (Aktivis Muslimah Kota Batam dan Kontributor Media)

Perdamaian perdamaian. Perdamaian perdamaian. Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai

Begitulah sepenggal lirik lagu yang di populerkan oleh salah satu band tanah air. Memang benar, secara fisik kondisi di beberapa negara terlihat aman, tanpa peperangan senjata. Namun di sisi lain, banyak negara sedang berperang dengan pemikiran melalui propaganda. Perang antara yang hak dan batil.

Salah satu contohnya propaganda menutup aurat yang ditujukan kepada umat Islam kerap kali mewarnai kehidupan para Muslimah saat ini. Perlengkapan menutup aurat seperti hijab, jilbab, kerudung, dan cadar sering kali menjadi hujatan bagi pengidap Islamphobia.

Tepat satu abad umat Islam berdiri tanpa junnah atau perisai. Sehingga banyaknya hukum syariat yang dilecehkan. Tentu hal ini membuat umat Islam semakin terpuruk. Sejak runtuhnya masa kekhilafahan Utsmaniyah pada tanggal 28 Rajab 1342 (3 Maret 1924) yang dihapus oleh Mustafa Kemal Attaturk, seorang dari etnis Yahudi Dunama yang merupakan antek Inggris yang ingin menghancurkan Daulah Islamiyah.

Keruntuhan Khilafah Utsmaniyah membuat umat Islam di seluruh dunia ikut mengalami kemunduran dari semua aspek kehidupan. Hukum syariat pun semakin banyak dihujat.

Dilansir dari Liputan6.com, ada sebelas negara yang secara terang-terangan melarang umat Islam menggunakan perlengkapan menutup aurat diantaranya Belanda, Rusia, Jerman, Italia, Tunisia, Belgia, Prancis, Suriah, Australia, Spanyol, dan tidak ketinggalan Turki yang baru mencabut pelarangan hijab sejak tahun 2013 yang lalu.

Tentu saja masing-masing negara telah mengatur sedemikian rupa peraturan secara detail tentang larangan penggunaan hijab. Larangan ini terus berlanjut dengan alasan terkait radikalisme, terorisme, bahkan dicap negatif sebagai keterbatasan untuk bekerja dan berkarir.

Mengapa Harus Menutup Aurat ?

Dalam Islam laki-laki dan perempuan memiliki batasan dalam menjaga auratnya. Terutama untuk para perempuan yang seluruh tubuhnya merupakan aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Perintah ini bukan karena untuk menindas serta mendeskriminasi kaum perempuan, justru demi kebaikan dan keamanan perempuan itu sendiri.

Menutup aurat juga bentuk penjagaan Allah terhadap para muslimah. Seperti firman Allah dalam Al-Quran Qs. Al Ahzab ayat 59, yang artinya "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin. Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS. Al-Ahzab :59)

Penerapan Islam Secara Totalitas Adalah Solusinya

Semenjak runtuhnya kekhilafahan banyak syariat Islam dan hukum-hukum Allah di campakan oleh manusia. Hal inilah yang membuat umat Islam semakin mundur dan malu menampakan identitas Muslimnya. Banyak yang enggan menutup aurat dan yang menutup aurat pun banyak yang merasa tidak aman. Beginilah kondisi wajah umat Islam saat ini. Selain tidak adanya regulasi yang menjalankan syariat Islam dari sosok pemimpin, sistem yang diterapkan di dunia juga menganut paham sekulerisme, dimana adanya pemisahan agama dari kehidupan. Menganggap bahwa menutup aurat hanya dilakukan untuk ritual ibadah saja, namun dalam kehidupan diluar menutup aurat ditinggalkan.

Melihat kondisi seperti ini sungguh miris memang. Berharap adanya junnah atau perisai yang berdiri atas kepemimpinan yang satu, dengannya mampu melindungi seluruh umat Islam diseluruh dunia

Ada sebuah kisah menarik, yang membuat rindu akan kepemimpinan Islam. Pernah diceritakan dalam ar-Rahiq al Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman Mubarakfury. Ada seorang wanita Arab yang datang ke pasarnya orang Yahudi Bani Qainuqa. Wanita tersebut duduk di dekat pengrajin perhiasan. Tiba-tiba ada beberapa orang hendak menyingkap kerudung yang menutupi wajahnya. Tanpa diketahui wanita Muslimah tersebut, pengrajin perhiasan itu mengikat ujung jilbab sang Muslimah. Sehingga, ketika ia bangkit, auratnya tersingkap.

Sontak, Muslimah ini berteriak kaget dan pada saat yang sama ada seorang laki-laki Muslim yang berada di dekatnya langsung melompat ke pengrajin perhiasan lalu membunuhnya. Orang-orang Yahudi kemudian membalasnya dengan cara mengikat laki-laki Muslim itu lalu membunuhnya.

Kejadian ini terdengar oleh Rasulullah dan membuat kesabaran Rasulullah Shallahu'alaihi Wassalam habis. Rasulullah bersama kaum Muslim berangkat menuju tempat Bani Qainuqa dan mengepung mereka. Setelah 15 hari dikepung, akhirnya Bani Qainuqa menyerah dan ketakutan terhadap kaum Muslim. Allah menanamkan rasa takut pada diri Bani Qainuqa.

Atas kejadian ini, hampir semua kaum laki-laki Bani Qainuqa dihukum mati oleh Rasulullah. Namun, keputusan ini berubah ketika ada sahabat yang munafik yang menginginkan agar Rasulullah memaafkan Bani Qainuqa. Akhirnya Rasulullah yang murah hati memaafkan Bani Qainuqa dan memerintahkan Bani Qainuqa ini untuk meninggalkan kota Madinah sejauh-jauhnya.

Dari kisah ini begitu luar biasa hikmah yang bisa diambil. Para Muslimah benar-benar dilindungi dan diberikan rasa aman menjalankan syariat Islam. Tidak ada seorang pun yang boleh melecehkan hijab.

Apakah engkau tidak merindukan sistem Islam seperti dan pemimpin yang bertakwa seperti yang Rasulullah contohkan?

Wallahua'alam Bishoab

Post a Comment for "100 Tahun Tanpa Junnah, Hijab Masih Terus di Hina"